Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) tertua di Indonesia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah menempuh perjalanan selama 75 tahun. Perjalanan itu bermula dari cita-cita menghadirkan pendidikan tinggi Islam bagi bangsa yang baru merdeka. Kini, UIN Sunan Kalijaga berkembang menjadi universitas yang mempertemukan khazanah keislaman dengan sains, teknologi, ilmu sosial, dan humaniora, serta meraih pengakuan di tingkat dunia.
Lintasan sejarah dan capaian tersebut menjadi bagian dari orasi ilmiah Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75, Senin (28/9/2026), di Gedung Multipurpose kampus setempat. Sidang dibuka oleh Ketua Senat Universitas Prof. Kamsi dan dihadiri ratusan dosen, pegawai, serta mitra universitas.
Di hadapan hadirin, Rektor mengajak kembali ke tahun 1951, ketika Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) berdiri di Yogyakarta. Dari PTAIN, lembaga ini berkembang menjadi IAIN, lalu UIN. Pergantian bentuk kelembagaan itu menyertai upaya kampus untuk terus menjawab kebutuhan zaman dan memperluas bidang ilmu yang dikembangkannya.
“Berawal dari cita-cita menghadirkan pendidikan tinggi Islam dan mendukung cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, UIN Sunan Kalijaga kini berkembang menjadi universitas yang mempertemukan khazanah keislaman dengan sains, teknologi, ilmu sosial, dan humaniora, sekaligus memperkuat perannya di tingkat nasional dan global,” katanya.
Pada usia ke-75, hasil dari perjalanan panjang tersebut terlihat dalam berbagai capaian akademik. Dalam QS World University Rankings by Subject 2026, bidang Theology, Divinity, and Religious Studies UIN Sunan Kalijaga menempati peringkat ke-37 dunia. Pada SCImago Institutions Rankings 2026, bidang Religious Studies berada di peringkat ketujuh dunia dan menjadi yang tertinggi di antara PTKIN. Bidang Philosophy menempati peringkat ketiga nasional.
“Sejalan dengan keberhasilan UIN Sunan Kalijaga dalam meningkatkan keunggulan akreditasi program-program studinya maupun memperoleh akreditasi internasional FIBAA dan ASIIN, pengakuan demi pengakuan akademik internasional sukses diraih,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, Prof. Noorhaidi juga menyoroti produktivitas penelitian dan publikasi ilmiah. Berdasarkan data SINTA yang dipaparkannya, UIN Sunan Kalijaga menempati posisi teratas di antara PTKIN. Menurutnya, capaian itu lahir dari kerja para dosen dan peneliti yang terus mengembangkan pengetahuan serta memperluas kolaborasi.
Orasi tersebut juga memperlihatkan bahwa pengembangan universitas berjalan di berbagai bidang. Dalam UI GreenMetric 2026, UIN Sunan Kalijaga naik ke peringkat ke-31 nasional dari posisi ke-57 pada tahun sebelumnya. Kampus ini turut menerima penghargaan Peningkatan Kinerja Keberlanjutan Substantif Terbaik se-Indonesia. Pada pemeringkatan keberlanjutan THE 2026, UIN Sunan Kalijaga berada dalam kelompok peringkat 601–800 dunia.
Perhatian terhadap lingkungan ikut membentuk rencana pembangunan Kampus II di Pajangan dengan konsep forest campus. Jalan utama yang akan menjadi infrastruktur dasar kawasan tersebut juga mulai terbentang. Pembangunan gedung perkuliahan diupayakan dimulai pada tahun depan.
“Pembangunan Kampus II juga dilakukan untuk meningkatkan sarana-prasarana pembelajaran secara berkelanjutan, yang sebagiannya merupakan respons atas terus meningkatnya minat calon mahasiswa belajar di UIN Sunan Kalijaga—termasuk mahasiswa-mahasiswa asing dari berbagai negara,” ujar Rektor.
Di bidang tata kelola, lanjut Rektor, UIN Sunan Kalijaga untuk pertama kalinya meraih kualifikasi badan publik informatif dalam evaluasi Komisi Informasi Pusat pada akhir tahun lalu. Sementara itu, pembukaan Program Studi Kedokteran dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter pada 2026 menandai perluasan kontribusi kampus di bidang kesehatan. Prof. Noorhaidi menyebut pengembangan keilmuan tersebut diarahkan pula untuk menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk melalui upaya promotif dan preventif bagi kesehatan lansia.
Setelah mengajak hadirin menelusuri sejarah dan melihat capaian universitas hari ini, Rektor membawa orasinya pada pertanyaan tentang masa depan. Peringkat dan pengakuan, menurut dia, menjadi pijakan untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas.
“Capaian-capaian tersebut tentu patut kita syukuri. Tetapi pada kesempatan Dies Natalis ke-75 ini saya ingin mengajak kita melihat ranking dengan perspektif yang lebih mendasar. Ranking memberi tahu kita bahwa kerja keras akademik kita mulai memperoleh pengakuan. Ia menunjukkan bahwa penelitian kita mulai dibaca dunia. Ia memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan Islam yang kita bangun di Yogyakarta dapat berdialog dan berkompetisi dalam lanskap akademik global,” ungkapnya.
Dari perjalanan yang dimulai pada 1951, UIN Sunan Kalijaga kini menatap babak baru. Keunggulan akademik yang dibangun selama 75 tahun menjadi bekal untuk memperluas manfaat pengetahuan, hingga melampaui batas negara.
“Universitas yang besar adalah universitas yang pengetahuannya dibutuhkan, gagasannya didengar, inovasinya digunakan, lulusannya dipercaya, dan keberadaannya membawa perubahan,” kata Prof. Noorhaidi. Bagi UIN Sunan Kalijaga, cita-cita itulah yang memberi arah pada langkah berikutnya, yakni From Academic Excellence to Global Impact.(humassk)