nanggulan18.jpeg

Sabtu, 24 Oktober 2026 16:21:00 WIB

0

Lebih dari Sekadar Outbound, PSMPT UIN Sunan Kalijaga Perkuat Kolaborasi dan Kepemimpinan Tim FSH UIN Walisongo melalui Experiential Learning

Hujan deras dan udara dingin di kawasan Nanggulan, Kulon Progo, tak menyurutkan semangat 30 peserta pelatihan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo Semarang untuk mengayuh sepeda menyusuri jalan pedesaan. Di antara hamparan sawah yang menghijau dan perbukitan Menoreh yang diselimuti kabut, mereka belajar sesuatu yang tak selalu ditemukan di ruang kelas: membangun kepercayaan, berkomunikasi, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.


Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kegiatan outbound dan team building hari kedua pelatihan "Improving the Performance of Educational Staff in Supporting Excellent Academic and Administrative Services" yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Manajemen Pendidikan Tinggi (PSMPT) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026), dengan berkolaborasi bersama MOANA, Nanggulan, Kulon Progo.

Bukan sekadar rekreasi di alam terbuka, kegiatan ini dirancang menggunakan pendekatan experiential learning, yakni pembelajaran melalui pengalaman langsung yang dilanjutkan dengan refleksi untuk menemukan makna dan penerapannya dalam pekerjaan. Melalui rangkaian aktivitas yang melibatkan interaksi dengan masyarakat, kerja kelompok, dan pengalaman budaya, peserta diajak mengasah komunikasi, kepercayaan, kepemimpinan, pemecahan masalah, serta komitmen dalam tim.


Pendekatan ini melengkapi sesi kelas pada hari pertama yang membahas servant leadership, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), dan service excellence. Jika materi di ruang kelas membangun pemahaman konseptual, pengalaman di Nanggulan menjadi ruang bagi peserta untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam situasi yang lebih cair dan kolaboratif.

Perjalanan dimulai dengan bersepeda menyusuri jalur pedesaan di antara pematang sawah dengan latar perbukitan Menoreh. Meski hujan deras mengguyur sejak pagi, para peserta tetap melanjutkan perjalanan dengan mengenakan jas hujan berwarna-warni. Udara dingin dan jalanan basah justru menambah kesan tersendiri dalam pengalaman kebersamaan tersebut.


Di sepanjang perjalanan, peserta tidak hanya menikmati suasana pedesaan, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan warga melalui kegiatan yang memperkenalkan keterampilan dan kearifan lokal.

Salah satu pengalaman yang menarik perhatian adalah praktik membuat tempe secara tradisional menggunakan ragi alami. Dengan bimbingan Mbah Yem dan Mbah Ti, peserta mempelajari proses pembuatan tempe dengan membungkusnya menggunakan daun pisang.


Suasana berlangsung akrab dan penuh antusiasme. Para peserta berkesempatan mencoba sendiri setiap tahapan, sekaligus mengenal pengetahuan tradisional yang diwariskan melalui pengalaman sehari-hari masyarakat.

Pengalaman tersebut makin hangat dengan sajian teh sereh hangat, mendoan dan gebleg, makanan khas Kulon Progo berbahan pati singkong, yang dinikmati di tengah gerimis. Momen sederhana ini menghadirkan ruang interaksi di luar rutinitas kerja, sekaligus memperkaya pengalaman peserta dalam mengenal kehidupan dan budaya lokal.

Setelah menyelesaikan lokakarya pembuatan tempe, rombongan kembali melanjutkan perjalanan bersepeda menuju kegiatan berikutnya, yaitu membatik.


Di lokakarya membatik, peserta kembali memperoleh kesempatan untuk belajar melalui praktik langsung. Dengan antusias, mereka mencoba proses membatik dan menghasilkan karya masing-masing. Aktivitas ini memberi ruang untuk melatih ketelitian, kesabaran, kreativitas, serta menghargai proses dalam menghasilkan sebuah karya.

Di sela kegiatan, peserta juga disuguhi aneka minuman tradisional, seperti kunyit asam, susu kedelai, dan jahe, yang menambah kehangatan suasana.

Menariknya, pengalaman tersebut tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Peserta dapat membawa pulang tempe hasil praktik dan karya batik mereka sendiri sebagai kenang-kenangan dari proses belajar bersama.

Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung melalui pemaparan materi dan diskusi formal. Pengalaman mencoba, berinteraksi, menghadapi tantangan, dan menghasilkan karya bersama dapat membuka ruang untuk mengenali cara bekerja, membangun komunikasi, serta memahami kontribusi setiap individu dalam sebuah tim.

Dalam konteks layanan akademik dan administratif perguruan tinggi, kemampuan tersebut menjadi penting. Pelayanan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada kecakapan individu, tetapi juga pada koordinasi, kepercayaan, dan kesediaan setiap unsur untuk saling mendukung.

Setelah menyelesaikan kedua lokakarya, perjalanan peserta berakhir dengan makan siang bersama. Sajian yang disiapkan Febri dan Rosida dari Tepi Kota menghadirkan kekayaan kuliner Nusantara yang diadaptasi dari buku resep Mustika Rasa, warisan kuliner yang disusun pada masa Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.


Beragam hidangan tersaji, mulai dari pepes ikan, pepes udang, pencok jagung, hingga sayur trancam mentimun dan batang kunci. Sajian tersebut dilengkapi minuman pokak saripu yang memperkaya pengalaman bersantap bersama.


Para peserta menikmati hidangan dengan penuh antusias. Setelah bersepeda di tengah hujan, belajar membuat tempe, dan mencoba membatik, makan siang menjadi penutup yang mempererat kebersamaan dalam suasana santai.

Melalui kegiatan outbound dan team building ini, PSMPT UIN Sunan Kalijaga menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia perguruan tinggi dapat dilakukan melalui metode yang kreatif, kontekstual, dan berorientasi pada pengalaman nyata.

Pendekatan experiential learning memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya memahami pentingnya kerja sama dan kepemimpinan, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana komunikasi, kepercayaan, pembagian peran, dan komitmen diperlukan untuk menyelesaikan suatu rangkaian aktivitas.


Nilai pembelajaran tersebut menjadi semakin relevan ketika dibawa kembali ke lingkungan kerja. Di tengah tuntutan layanan akademik dan administratif yang semakin kompleks, tenaga kependidikan perlu membangun koordinasi yang solid, terbuka terhadap cara kerja baru, dan tanggap terhadap kebutuhan pengguna layanan.

Melalui pelatihan yang memadukan penguatan kompetensi manajerial, literasi digital, pelayanan prima, dan pembelajaran berbasis pengalaman, PSMPT UIN Sunan Kalijaga memperkuat kontribusinya dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia perguruan tinggi. Kolaborasi dengan FSH UIN Walisongo Semarang ini diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman kebersamaan, tetapi berlanjut menjadi praktik kerja yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan mutu layanan kampus. (humassk)