UIN SUKA

Senin, 09 Maret 2026 09:11:00 WIB

0

MASIH Tentang PERANG DUNIA TERAKHIR, Difabel, dan Kesejahteraan Sosial ( Dr.Asep Jahidin, Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga)

Apakah Anda tidak merasa khawatir dengan perkembangan dunia saat ini, terutama konflik di Timur Tengah yang ikut melibatkan berbagai kekuatan besar dunia? Tulisan tadarus ini semoga bisa menjadi teman untuk mengambil percik permenungan

Jika pertanyaan ini terasa jauh, mungkin tulisan tadarus ini memang tidak akan terasa terlalu penting... Tetapi bagi anda yang memandang sejarah sebagai pelajaran kemanusiaan, perkembangan perang di Timur Tengah hari ini seharusnya cukup membuat kita berhenti sejenak dari rasa tidak peduli.

Kita bisa memahami bahwa perang adalah titik paling rendah dari kesadaran kemanusiaan.

Di sana manusia berhenti melihat manusia lain sebagai sesama ciptaan Tuhan, dan mulai melihat sesama manusia sebagai musuh yang boleh dan bahkan harus dihancurkan.

Supaya tadarus ini terasa lebih eksistensial, mari saya ajak anda menengok sedikit ke belakang. Kita kembali sejenak ke masa lalu...

Setelah Perang Dunia Pertama berakhir, dunia telah menyaksikan jutaan orang kembali dari medan perang dengan tubuh yang terluka, kehilangan anggota badan, mengalami trauma, dan hidup dalam kemiskinan. Banyak dari mereka kemudian hidup sebagai difabel akibat perang.

Sejarah sebenarnya sudah memberi pelajaran yang sangat mahal.

Pada abad ke-20 dunia mengalami dua perang besar yang mengguncang peradaban manusia. Perang Dunia Satu dan Dua. Perang besar kedua bahkan diakhiri dengan ledakan bom nuklir di kota Hiroshima yang menghancurkan sebuah kota dalam sekejap.

Perang Dunia menghasilkan jutaan manusia meninggal.

Kota-kota hancur.

Keluarga tercerai-berai.

Lebih mengenaskan dari itu semua, perang ternyata tidak hanya menghasilkan kematian...

Perang juga meninggalkan jutaan manusia yang terluka dan harus menjalani hidup dengan disabilitas sepanjang sisa hidupnya.

Banyak yang pulang tanpa kaki.

Tanpa tangan.

Tanpa penglihatan.

Tanpa pendengaran.

Sebagian bahkan pulang dengan luka batin yang tidak terlihat… trauma, kesepian, dan kehilangan makna hidup.

Kalau kita baca literatur… Dari kesadaran atas pedihnya situasi tersebut, lahirlah praktik modern Social Work dan terus berkembang hingga terwujudnya layanan rehabilitasi, bantuan sosial, dan perlindungan bagi kelompok rentan, dibangun secara lebih sistematis, yang kemudian turut mendorong semakin berkembangnya Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Dengan kata lain, dari puing-puing penderitaan itu lahir berbagai sistem perlindungan sosial modern sebagai upaya manusia untuk memulihkan kembali kehidupan yang rusak akibat perang.

Hari ini, ketika tulisan tadarus ini digoreskan, dunia sedang kembali menyaksikan konflik bersenjata yang semakin meluas dan penuh ketidakpastian. Kita melihat manusia sekali lagi tidak sepenuhnya belajar dari sejarahnya yang pahit itu... mereka seperti kembali ke titik nol

Dalam perspektif Tadarus Difabel, seharusnya sejarah ini memberi pelajaran yang sangat dalam bagi para pelaku peperangan itu.

Ketika peradaban runtuh karena kekerasan, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah mereka yang paling rentan... Anak-anak, orang miskin, difabel, dan kelompok rentan lainnya.

Melihat kenyataan tersebut… Di sinilah urgensi untuk terus menyalakan kembali cahaya ajaran Nabi harus selalu diupayakan. Karena dalam banyak riwayat, Nabi justru menempatkan kelompok yang lemah sebagai pusat perhatian masyarakat.

Dari kesadaran inilah kita belajar sesuatu yang sangat mendasar, bahwa peradaban yang hanya pandai berperang, tetapi tidak mampu merawat mereka yang rentan, sebenarnya adalah peradaban yang gagal memahami arti kemanusiaan.

Perspektif difabel memberi cara pandang yang berbeda terhadap sejarah.

Bagi mereka yang hidup dengan disabilitas akibat perang, peperangan bukanlah kisah heroisme.

Perang adalah pengalaman kehilangan… Kehilangan tubuh, kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga, bahkan kehilangan rasa aman dalam hidup...

Setiap perang bukan hanya menghancurkan kota dan negara, tetapi juga menciptakan generasi manusia yang harus belajar hidup dengan luka-luka dengan segala retakannya …

Dan di situlah sebenarnya kemanusiaan sebuah peradaban diuji…

Tadarus ini ditulis saat peperangan itu masih berlangsung dan masa depan dunia terasa semakin tidak pasti… Anda mau ke mana?