Tadarus Difabel Minggu ke-99
“Mantab mas Korpus PLD. Kami tunggu yang ke-99 mungkin berkaitan dengan al-asma’ al-husna”. Demikian saya mendapat pesan WhatsApp dari Pak Warek II UIN Sunan Kaljaga, saat menanggapi tulisan saya, tadarus difabel edisi ke-98 minggu lalu.
Saya membacanya sekali... Kemudian membacanya sekali lagi… Saya pikir, bagus juga ide itu.
Minggu ini Tadarus Difabel telah tiba pada angka 99 dan angka itu seperti menemukan pasangannya sendiri dengan 99 nama Allah, al-Asma’ al-Ḥusna. Seolah angka 99 yang selama ini hanya saya pahami sebagai penanda hitungan perjalanan amanah sebagai koordinator PLD, tiba-tiba mempunyai makna lain… ia menjadi seperti bercahaya… saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang terbang dalam perjalanan pulang dari Jepang lewat Korea Selatan Menuju Jakarta untuk selanjutnya ke Jogja. Duduk di dalam pesawat sambil mengendara angin.
Saya buka Laptop, lalu saya mulai ketik beberapa kalimat pembuka saat saya sedang berada diatas ketinggian 10363 meter, dengan kecepatan 888 km/jam, sebagaimana terlihat pada monitor di kursi pesawat. Saat ini jam 9 malam, pesawat yang saya duduki sedang berada di atas lautan di wilayah Korea Selatan… Situasi saya yang seperti ini telah membawa saya larut dalam sepercik permenungan nama-nama Tuhan itu
Tetapi semakin saya renungkan, semakin saya merasa bahwa al-Asma’ al-Ḥusna bukan hanya cocok karena jumlahnya. Ada sesuatu yang lebih terang yang mampu menembus gelapnya lautan dalam di bawah sana
Ada beberapa nama-nama Allah yang terasa begitu dekat dengan semangat inklusi. Bahkan mungkin terlalu dekat untuk hanya disebut sebagai “mewakili” inklusi. Sebab bisa jadi, nilai-nilai yang kita sebut inklusif itu sesungguhnya sudah berakar jauh di dalam cara Tuhan memperkenalkan diri Nya kepada manusia… Ini saya sebut saja sebagai metode tuhan dalam melihat manusia.
Ar-Raḥman. Yang Maha Pengasih. Saya rasa sifat pengasih tuhan itu beda dengan konsep rasa kasihan manusia kepada manusia lainnya, Tuhan pengasih adalah kasih yang tidak memilih siapa yang pantas menerimanya. Tuhan tidak bertanya apakah seseorang sempurna atau tidak untuk dikasihi. Apalagi memeriksa apakah tubuhnya lengkap atau berbeda. Kasih Tuhan hadir terlebih dahulu…Mungkin seperti ini konsepnya, menerima manusia sebelum menilai manusia. (saat mengetik bagian ini, pesawat saya sudah berada di atas pulau Hirara di samping Taiwan)
Lalu ada Ar-Raḥim, Yang Maha Penyayang. Kemudian ada Al-‘Adl. Yang Maha Adil. Kita sering membayangkan keadilan sebagai memberikan hal yang sama rata kepada semua orang. Tetapi pengalaman difabel mengajarkan sesuatu yang lain kepada kita bahwa yang sama belum tentu adil.
Memberikan tangga kepada semua orang bukan berarti semua orang telah mendapatkan akses yang sama. Bagi sebagian orang, tangga adalah jalan, tetapi bagi yang menggunakan kursi roda, tangga justru menjadi tembok penghalang. Maka itu keadilan kadang bukan tentang memberikan sesuatu yang sama. Keadilan adalah memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk sampai di tujuan masing-masing.
Di situlah inklusi menjadi lebih dari sekadar fasilitas. Ia menjadi persoalan keadilan... Tuhan maha adil, Tuhan itu sedemikian inklusif
Ada pula Al-Karim. Yang Maha Mulia, Yang maha memuliakan. Nama ini bisa mengingatkan kita bahwa manusia tidak menjadi mulia karena ia sempurna. Martabat manusia tidak lahir dari kemampuan melihat, mendengar, berjalan, berbicara, atau berpikir dengan cara tertentu.
Manusia memiliki martabat karena ia adalah manusia. Karena itu, pelayanan kepada difabel tidak semestinya berangkat dari rasa kasihan. Belas kasihan kadang membuat seseorang berada di bawah dan yang lain berada di atas. Sedangkan penghormatan menempatkan manusia berdiri sejajar sebagai sesama manusia.
Dari seluruh 99 nama-nama Tuhan ada satu lagi yang menarik untuk direnungkan, yaitu Al-Fattāḥ. Yang Maha Membuka. Membuka jalan. Membuka kemungkinan. Membuka pintu kuliah yang sebelumnya tertutup dan seterusnya…
Bukankah kerja-kerja inklusi pada dasarnya juga pekerjaan membuka? Membuka kampus. Membuka pendidikan. Membuka pekerjaan. Membuka ruang publik. Membuka kesempatan.
Dan yang paling penting dari semua itu adalah membuka cara pandang kita tentang manusia...
Mungkin ada yang bertanya, “Apakah difabel dapat menyesuaikan diri dengan dunia kita?”... saya jawab, kenapa anda tidak bertanya “Apakah dunia kita sudah cukup mencerminkan nilai-nilai yang selama ini kita ucapkan ketika menyebut nama Tuhan?”
Tadarus Difabel ke-99 ini akhirnya terasa seperti sebuah perjumpaan. Perjumpaan antara angka 99 tadarus difabel, 19 jam perjalanan cahaya inklusi dari Tokyo ke Jogja dan 99 nama Allah.
Maka semakin saya pikirkan pesan WA Pak Warek II di atas itu, semakin terasa bahwa judul “Al-Asma’ al-Ḥusna” ternyata bukan sekadar judul yang cocok untuk Tadarus Difabel ke-99 tetapi juga telah menjadi semacam sebuah pengingat. Bahwa mungkin selama ini kita berbicara tentang inklusi dengan banyak istilah, teori, kebijakan, dan program. Padahal jauh sebelum semua istilah itu hadir, Tuhan telah memperkenalkan diri Nya melalui nama-nama yang di dalamnya terkandung kasih, keadilan, kemuliaan, kelembutan, dan keterbukaan.
Inklusi juga bisa dimaknai sebagai cara kita belajar membaca sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan manusia.
Tadarus Difabel ke-99 pun berhenti sejenak di sini…. Bukan untuk menyimpulkan. Hanya untuk mengingat Kembali ketika kita menyebut nama-nama Tuhan, semoga saja setiap manusia yang ada di sekitar kita juga merasa dimuliakan oleh nama-nama itu
( saat tiba di bagian akhir ini, pesawat berada dalam kecepatan 940 Km/jam Jarak ke Jakarta masih tersisa 3490 KM lagi. Saya lihat di monitor, pesawat saya sedikit dibelokan menuju ke atas Manila Filipina, sepertinya ini di luar jalur awal saat digambarkan di monitor pesawat, mungkin karena menghindari cuaca. Karena pesawat mengalami sedikit turbulensi saya tutup laptop saya ini, untuk istirahat) ...
Saat catatan tadarus ini saya buka kembali, saya telah tiba di Jakarta dini hari, bersiap menuju Yogyakarta pagi ini...
Memantik Cahaya 99 dari Tokyo ke langit Osaka ke Incheon Seoul menuju Jakarta, untuk selanjutnya ke Jogja. Bandara Soekarno-Hatta, Di ujung Agustus 2026