WhatsApp Image 2026-06-03 at 15.10.45.jpeg

Rabu, 03 Juni 2026 15:25:00 WIB

0

UIN Sunan Kalijaga dan UIN Mataram Kembangkan Model Layanan Disabilitas PTKI.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama UIN Mataram memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pendidikan tinggi inklusif melalui penelitian yang didanai MORA AIF Funds Tahun 2026. Penelitian bertajuk Organizational Development and Inclusive Governance: Developing a Disability Service Unit Model for Indonesian Higher Education ini berlangsung pada 2–4 Juni 2026.

Kegiatan tersebut merupakan tahap awal penelitian berupa analisis kebutuhan (need assessment) dan pemetaan kesiapan kelembagaan dalam penyelenggaraan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Tim peneliti UIN Sunan Kalijaga yang dipimpin oleh Ro’fah, Ph.D., bersama Jamil Suprihatiningrum, Ph.D., melakukan diskusi serta pengumpulan data sebagai dasar penyusunan model Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang akan dikembangkan selama dua tahun ke depan.

Tim peneliti diterima langsung oleh Rektor UIN Mataram, Prof. Masnun Tahir, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Rektor PTKI Indonesia. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor III Prof. Jumarim, Ketua LP2M Prof. Kadri, Sekretaris LP2M Prof. Akhmad Asyari, serta jajaran pimpinan dan pengelola layanan konseling dan disabilitas di lingkungan UIN Mataram. Dr. Mira Mareta, M.A. selaku Ketua Pusat Konseling dan Disabilitas, Dr. Muchammadun, serta Riska Mutiah, M.Si.

Dalam sambutannya, Prof. Masnun Tahir menegaskan bahwa keberadaan Unit Layanan Disabilitas di lingkungan PTKI merupakan kebutuhan mendesak seiring meningkatnya komitmen terhadap pendidikan inklusif. Ia menekankan bahwa layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas harus menjadi bagian integral dari tata kelola institusi, bukan sekadar program tambahan.

“Pusat Layanan Difabel di PTKI menjadi salah satu fondasi implementasi pendidikan inklusif di perguruan tinggi. UIN Mataram siap bergabung dengan UIN Sunan Kalijaga untuk menyebarkan praktik baik inklusivitas ke seluruh PTKI di Indonesia,” ujarnya.

Senada, Prof. Jumarim menyampaikan bahwa UIN Mataram telah menjadikan isu inklusivitas sebagai bagian dari arah pengembangan kelembagaan kampus. Komitmen tersebut mencakup kebijakan yang mendukung kesetaraan, termasuk dalam isu disabilitas dan gender sebagai bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi.

Sementara itu, Dr. Mira Mareta selaku Ketua Pusat Konseling dan Disabilitas menjelaskan bahwa UIN Mataram terus mengembangkan sistem dukungan bagi mahasiswa melalui layanan konseling dan disabilitas. Kolaborasi ini dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat tata kelola layanan agar lebih sistematis dan berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, Prof. Kadri mengingatkan bahwa budaya inklusif tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan fasilitas, tetapi juga melalui cara berpikir dan berkomunikasi yang sensitif terhadap isu disabilitas.

Pada diskusi ini juga mengungkap bahwa praktik pendidikan inklusif telah tumbuh di UIN Mataram secara organik. Dr. Muchammadun dan Riska Mutiah, M.Si. menyampaikan bahwa berbagai bentuk pendampingan mahasiswa dengan kebutuhan khusus telah dilakukan, meski masih bersifat sporadis dan belum terintegrasi dalam sistem kelembagaan yang kuat.

Ro’fah Ph.D., menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan mengembangkan model Unit Layanan Disabilitas berbasis Organizational Development (OD) dan Inclusive Governance (IG). Model tersebut akan mencakup struktur kelembagaan, mekanisme layanan, sistem evaluasi, modul pelatihan dosen dan tenaga kependidikan, serta sistem informasi layanan disabilitas berbasis digital.

Selain kegiatan penelitian, kunjungan ini juga menjadi momentum penguatan hubungan kelembagaan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua perguruan tinggi. Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan pendidikan tinggi inklusif.

Penelitian yang berlangsung hingga 2027 ini menargetkan lahirnya model Unit Layanan Disabilitas yang dapat direplikasi di berbagai PTKI dan perguruan tinggi di Indonesia. Hasilnya diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat tata kelola pendidikan tinggi inklusif sekaligus mendukung pemenuhan hak penyandang disabilitas.

Melalui kolaborasi ini, UIN Sunan Kalijaga dan UIN Mataram menegaskan komitmen bersama untuk membangun kampus yang inklusif, berkeadilan, serta mampu memberikan kesempatan setara bagi seluruh mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam kehidupan akademik maupun sosial.(humassk)