UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menerima kunjungan benchmarking dari Institut Agama Islam Hasan Jufri (INHAFI) Bawean pada Kamis (11/6/2026) di Ruang Rapat Lantai 2, Gedung Prof. KH. Saifuddin Zuhri, UIN Sunan Kalijaga. Kunjungan ini menjadi ajang silaturahmi akademik sekaligus forum berbagi pengalaman terkait akreditasi, pengelolaan perguruan tinggi, serta penjajakan kerja sama kedua institusi.
Rombongan INHAFI Bawean diterima langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Prof. Istiningsih, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Prof. Sigit Purnomo, serta Wakil Dekan I Fakultas Syariah dan Hukum Dr. Ocktoberrinsyah, Koordinator Pusat Penelitian dan Penerbitan LPPM Dr. Moh. Mufid, dan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Prof. Dwi Agustina Kurniawati, beserta jajaran staf. Sementara itu, tim INHAFI Bawean dipimpin langsung oleh Rektor Abdul Halim, Lc., M.H., didampingi Wakil Rektor I Dr. Ainun Barakah, Wakil Rektor II Ulfatun Najihah, Wakil Rektor III Dr. Abdul Hafid, beserta jajaran dekan, ketua program studi, LPM, dan LPPM.
Dalam sambutannya, Prof. Noorhaidi Hasan menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga lebih mengedepankan kolaborasi yang berdampak nyata dibandingkan sekadar seremoni penandatanganan nota kesepahaman.
“Yang terpenting bukan penandatanganan MoU, tetapi kegiatan nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh kedua belah pihak. Kerja sama dapat dimulai terlebih dahulu, sementara aspek administratif bisa diselesaikan kemudian,” ujarnya.
Rektor juga menyampaikan keterbukaan UIN Sunan Kalijaga untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia INHAFI Bawean, baik melalui studi lanjut dosen pada jenjang doktoral maupun pengiriman mahasiswa dalam berbagai program akademik. Menurutnya, pemetaan kebutuhan pengembangan SDM menjadi langkah awal yang penting untuk menentukan bentuk kolaborasi yang paling relevan.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Noorhaidi turut memaparkan perkembangan UIN Sunan Kalijaga yang saat ini memiliki sekitar 25.000 mahasiswa dan 764 dosen, dengan 13 persen di antaranya berstatus Guru Besar. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menjadi fakultas terbesar dengan 19 program studi dan sekitar 6.000 mahasiswa. Selain itu, program doktoral UIN Sunan Kalijaga telah meluluskan sekitar 1.400 hingga 1.500 alumni dari berbagai bidang keilmuan.
Sementara itu, Rektor INHAFI Bawean Abdul Halim menyampaikan bahwa kunjungan ini tidak hanya bertujuan mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga menjadi sarana belajar bagi INHAFI dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi dan meningkatkan kualitas akademik.
“Kami ingin mendapatkan masukan dan pengalaman dari UIN Sunan Kalijaga, terutama terkait akreditasi, pengembangan sumber daya manusia dosen, serta strategi pengelolaan perguruan tinggi. Harapannya, INHAFI dapat terus berkembang dan mempersiapkan diri menuju transformasi kelembagaan yang lebih besar di masa mendatang,” ungkapnya.
Abdul Halim menjelaskan bahwa INHAFI merupakan perguruan tinggi yang berada di bawah Yayasan Pondok Pesantren Hasan Jufri Bawean. Sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah kepulauan, institusinya menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait aksesibilitas dan transportasi. Meskipun demikian, semangat untuk meningkatkan kualitas akademik tetap menjadi prioritas, termasuk percepatan jabatan fungsional dosen hingga target melahirkan profesor dalam beberapa tahun ke depan.
Diskusi yang berlangsung hangat juga membahas berbagai peluang kerja sama lanjutan, mulai dari program studi lanjut bagi dosen, pengembangan program pascasarjana, kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat melalui LP2M, hingga peluang student mobility dan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang melibatkan berbagai mitra nasional.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Sunan Kalijaga, Prof. Istiningsih, menambahkan bahwa tindak lanjut kerja sama akan dibahas secara lebih teknis melalui koordinasi antarunit terkait agar menghasilkan program-program yang konkret dan berkelanjutan.
Melalui kunjungan benchmarking ini, kedua institusi berharap dapat membangun sinergi yang tidak hanya memperkuat kapasitas kelembagaan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi Islam di Indonesia, termasuk di wilayah kepulauan dan daerah terluar. (humassk)