WhatsApp Image 2026-06-24 at 15.32.09.jpeg

Rabu, 24 Juni 2026 13:38:00 WIB

0

UIN Sunan Kalijaga dan UINSI Samarinda Bersanding dalam Sosialisasi PMB Kolaboratif, Tunjukkan Semangat Sinergi Antar-PTKIN

Di tengah upaya memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas, dua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memilih melangkah bersama. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI) menggelar Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Kolaboratif sebagai bagian dari ikhtiar memperkenalkan wajah PTKIN yang makin maju, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Bertempat di Gedung Rektorat UINSI Samarinda, Selasa (23/6/2026), keduanya bergandengan tangan memperkenalkan berbagai peluang pendidikan tinggi sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang perkembangan PTKIN saat ini.


Dalam kegiatan yang dihadiri sekitar 50 sekolah Tingkat MA dan sederajat, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Moh. Sodik, M.Si., menegaskan bahwa PTKIN saat ini hadir dengan mandat yang lebih luas daripada sekadar menjadi lembaga pendidikan keagamaan.

Mandat tersebut tecermin dalam bangunan keilmuan PTKIN yang bertumpu pada tiga fondasi utama. Pertama, Hadharah An-Nash atau kajian teks keagamaan. Setiap mahasiswa di PTKIN wajib dibekali dengan studi Islam yang mendalam, mulai dari Al-Qur’an, Tafsir, hingga Hadis. Dengan ini, menurut Prof. Sodik, pendidikan di PTKIN tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang pintar secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual.


"Setiap mahasiswa dibekali pemahaman keislaman yang kuat, mulai dari Al-Qur'an, Tafsir hingga Hadis. Namun, tujuan akhirnya tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang utuh, memiliki integritas dan akhlakul karimah," ujarnya.

Berbagai persoalan bangsa kerap muncul bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan lemahnya karakter dan spiritualitas.

"Banyak orang pintar terjerumus dalam praktik korupsi. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan," katanya.

Pilar lainnya adalah Hadharah Al-‘Ilmi (Kajian Ilmiah). Melalui pilar ini, lanjut Prof. Sodik, PTKIN didorong untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan menjaga kualitas akademiknya sesuai standar nasional maupun internasional.

Komitmen tersebut tecermin dalam penerapan sistem penjaminan mutu yang ketat. Baik UIN Sunan Kalijaga maupun UINSI Samarinda secara berkala menjalani proses akreditasi dan evaluasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) serta berbagai Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM). Di tingkat internal, pengawasan dan pengembangan mutu akademik juga dilakukan melalui Lembaga Penjaminan Mutu yang dimiliki perguruan tinggi masing-masing.

“Adapun pilar terakhir, Hadharah Al-Falsafah (Kajian Falsafah), PTKIN turut menanamkan fondasi filosofis yang kuat. Kajian ini mencakup falsafah Pancasila, pemikiran para pendiri bangsa (muassis), falsafah para syuhada, falsafah kebudayaan, hingga ekoteologi,” katanya.


Sementara itu, sebagai tuan rumah,  Kepala Bagian Umum dan Akademik UINSI Samarinda, Ahmad Mahyuddin, menilai dunia pendidikan tinggi tidak harus selalu diwarnai kompetisi yang saling meniadakan.

"Kampus itu bersaing, tetapi tidak harus bertanding. Hari ini kita menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat berkolaborasi, berbagi ruang, dan bersama-sama memberikan peluang terbaik bagi generasi muda," ujarnya.

Mahyuddin menjelaskan bahwa kolaborasi antara UINSI Samarinda dan UIN Sunan Kalijaga bertujuan memperluas akses pendidikan tinggi bagi lulusan sekolah menengah, khususnya di Kalimantan Timur.

Ia juga menyoroti hubungan historis yang telah lama terjalin antara kedua institusi. Banyak dosen UINSI merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga saat ini, Prof. Noorhaidi Hasan, merupakan putra asli Kalimantan yang berhasil menorehkan kiprah akademik di tingkat nasional dan internasional.

Menurut Mahyuddin, PTKIN saat ini telah mengalami transformasi besar. Kampus Islam negeri bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan mulai berkembang menjadi destinasi utama pendidikan tinggi.

Transformasi tersebut ditandai dengan peningkatan kualitas akademik, akreditasi nasional dan internasional, serta berbagai upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif. PTKIN juga telah membentuk pusat-pusat pencegahan dan penanganan kekerasan seksual sebagai bagian dari komitmen menghadirkan ruang belajar yang ramah bagi mahasiswa.

Memasuki sesi sosialisasi, perhatian peserta tertuju pada berbagai program unggulan yang ditawarkan kedua kampus. Namun, di antara beragam informasi tersebut, hadirnya Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga menjadi magnet tersendiri bagi para siswa yang tengah mempersiapkan masa depan pendidikannya.


Ketua Admisi UIN Sunan Kalijaga, Handini, M.I.Kom., menjelaskan bahwa fakultas tersebut dirancang dengan pendekatan yang mengintegrasikan ilmu kedokteran modern, nilai-nilai keislaman, dan perspektif interdisipliner.

"Kami ingin melahirkan dokter masa depan yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki empati, integritas, dan kemampuan menjadi problem solver bagi masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga telah didukung laboratorium modern, jejaring rumah sakit pendidikan, serta berbagai jalur penerimaan yang dapat diakses oleh siswa dari seluruh Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.

Sementara itu, Kepala Pusat PMB UINSI Samarinda, Dr. Muhammad Ridho Muttaqien, M.Pd., memaparkan berbagai keunggulan akademik dan peluang pengembangan diri yang ditawarkan UINSI sebagai salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di kawasan timur Indonesia. (humassk)