WhatsApp Image 2026-09-08 at 15.16.26(1).jpeg

Selasa, 08 September 2026 16:08:00 WIB

0

Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Usaha, UIN Sunan Kalijaga Gali Spirit Kewirausahaan dan Keteladanan William Soeryadjaya

Kisah William Soeryadjaya bukan semata perjalanan seorang pengusaha membangun perusahaan besar. Di balik pertumbuhan Astra, terdapat keberanian membaca peluang, ketekunan menghadapi kegagalan, keberpihakan kepada bangsa, serta kepasrahan kepada Tuhan. Nilai-nilai itulah yang dibawa ke ruang akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk dibaca kembali oleh generasi muda.


Refleksi atas perjalanan hidup William Soeryadjaya itu mengemuka dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku Semangat Hidup dan Pasrah kepada Tuhan: Memoar William Soeryadjaya. Kegiatan yang diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Mubarok Institute dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. tersebut berlangsung di Aula Convention Hall lantai satu UIN Sunan Kalijaga, Selasa (8/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan dunia kampus, bisnis, dan pemerintah untuk membicarakan nilai-nilai yang melampaui keberhasilan ekonomi. Memoar William Soeryadjaya ditempatkan sebagai pintu masuk untuk membahas integritas, daya juang, nasionalisme, serta tanggung jawab sosial dalam membangun usaha.


Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan dalam pidatonya, mengatakan diskusi mengenai bisnis dan kewirausahaan telah lama diharapkan hadir sebagai bagian dari pengembangan keilmuan di kampus.

“Ini bukanlah momentum yang bersifat insidental. Kami telah lama memimpikan terwujudnya diskusi yang tidak hanya membicarakan persoalan keagamaan, sosial, dan humaniora, tetapi juga bisnis sebagai bidang yang menjadi perhatian banyak orang,” ujarnya.


Rektor menegaskan, UIN Sunan Kalijaga memiliki fondasi kuat dalam bidang keagamaan, sosial, humaniora, dan hukum. Berangkat dari fondasi tersebut, universitas terus memperluas kontribusi dalam bidang sains, teknologi, kedokteran, dan ilmu kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat.

Langkah itu, lanjutnya, didukung oleh perkembangan riset dan inovasi di lingkungan universitas. Berbagai kekayaan intelektual dan paten yang dihasilkan sivitas akademika membuka peluang hilirisasi melalui kemitraan yang lebih erat dengan dunia usaha dan industri.

“Kami berharap upaya membangun kemitraan dengan dunia usaha dapat menjadi salah satu pijakan penting dalam pengembangan kampus pada masa mendatang,” katanya.


Dalam kesempatan tersebut, Prof. Noorhaidi juga mengajak peserta melihat William Soeryadjaya sebagai figur yang dibentuk oleh proses panjang. Kehilangan kedua orang tua sejak usia muda tidak menghentikannya untuk bertahan, bekerja, dan membangun usaha setapak demi setapak hingga mendirikan PT Astra International.

Perjalanan tersebut tidak berlangsung tanpa hambatan. Sosok William Soeryadjaya memiliki ketangguhan yang dinilai relevan bagi mahasiswa dan generasi muda yang sedang mempersiapkan masa depan.

“Yang dapat kita pelajari adalah bagaimana beliau merintis, berjuang dengan kerja keras, jatuh, kemudian bangkit kembali hingga berhasil membangun institusi bisnis yang membanggakan,” ujarnya.

Warisan William Soeryadjaya juga hidup melalui orang-orang yang belajar dari pengalaman dan pemikirannya. Prof. Noorhaidi menyebut sejumlah pengusaha, profesional, dan tokoh nasional, seperti Jusuf Kalla, Sandiaga Uno, dan Sri Mulyani, menjadikan sosok Om William sebagai salah satu sumber pembelajaran.

Prof. Noorhaidi berharap kisah tersebut menginspirasi mahasiswa, pelajar, dan peneliti untuk mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, CEO Mubarok Institute Fadhil as Mubarok sebagai Keynote Speech, mengajak mahasiswa memaknai perintah membaca dalam Surah Al-‘Alaq secara luas dengan bercermin pada perjalanan William Soeryadjaya. Membaca tidak berhenti pada teks, tetapi mencakup kemampuan mengenali keadaan, menemukan peluang, serta menerjemahkan gagasan menjadi karya.


Fadhil juga menekankan, pendidikan tinggi tidak semestinya hanya mempersiapkan mahasiswa menjadi pencari kerja. Kampus juga perlu menumbuhkan keberanian mahasiswa untuk menciptakan usaha, membangun jejaring, dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya menjadi pegawai, tetapi juga dapat menjadi pebisnis yang mampu membaca kesempatan dan merealisasikan apa yang dirancang dan digagas. Pada saat yang sama, kepasrahan kepada Tuhan tetap dijaga dengan menjadikan aktivitas bisnis sebagai bagian dari ibadah,” ujarnya.

Dalam kerangka tersebut, UIN Sunan Kalijaga dipandang memiliki posisi strategis sebagai kawah candradimuka yang membentuk kecerdasan intelektual sekaligus spiritual. Keduanya menjadi bekal agar mahasiswa berani melangkah tanpa kehilangan nilai, etika, dan kesadaran bahwa keberhasilan membawa tanggung jawab kepada sesama.

Fadhil juga mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya lingkungan dalam membentuk cara berpikir. Kemampuan memosisikan diri, memilih komunitas, membangun percakapan yang produktif, serta menetapkan tujuan akan memengaruhi arah pertumbuhan seseorang.

“Siapa Anda, di mana Anda berada, dengan siapa Anda berkomunitas, apa yang Anda bicarakan, dan target apa yang Anda harapkan, semua itu akan membentuk pola pikir Anda,” katanya.

Di hadapan ratusan mahasiswa, ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak tumbuh menjadi generasi yang sekadar menikmati hasil pembangunan. Cita-cita kebangsaan harus diwujudkan melalui produktivitas, integritas, dan kemauan menciptakan manfaat bagi masyarakat.

Sesi berlanjut kepada Bedah Buku menghadirkan Komisaris Utama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. sekaligus putra kedua William Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya. Kehadirannya memberikan perspektif personal mengenai nilai-nilai yang diwariskan sang ayah, baik dalam keluarga maupun dalam perjalanan membangun usaha.


Forum tersebut juga menghadirkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga Prof. Abdur Rozaki; Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta, Kementerian Sosial RI, Haruman Hendarsa; Guru Besar Filsafat Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga sekaligus Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat, Prof. Shofiyullah; Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Surakarta, Veri Fahruddin; serta Pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Jadul Maula.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, seminar dan bedah buku ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar mahasiswa sekaligus memperkuat kemitraan dengan dunia usaha. Dari perjalanan William Soeryadjaya, mahasiswa diajak melihat bisnis sebagai jalan untuk menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan manusia, memperkuat bangsa, serta mengubah pengetahuan menjadi kebermanfaatan dengan tetap berpijak pada integritas dan nilai-nilai ketuhanan.(humassk)