sospem fupi.jpeg

Selasa, 08 September 2026 17:19:00 WIB

0

FUPI UIN Sunan Kalijaga Tutup SOSPEM dan Matrikulasi, Perkuat Fondasi Akademik dan Jejaring Global Mahasiswa Pascasarjana

Memasuki jenjang pendidikan pascasarjana, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai bidang keilmuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, menulis akademik, melakukan penelitian, dan membangun jejaring keilmuan. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Sosialisasi Pembelajaran (SOSPEM) dan Matrikulasi mahasiswa baru Program Magister dan Doktor Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Rangkaian kegiatan tersebut ditutup pada Selasa (8/9/2026) di Taman FUPI UIN Sunan Kalijaga. Tidak sekadar menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru, SOSPEM dan Matrikulasi dirancang sebagai tahap awal untuk memperkenalkan budaya akademik sekaligus membangun kesiapan mahasiswa menghadapi karakter pembelajaran di jenjang magister dan doktor.

Dekan FUPI UIN Sunan Kalijaga, Prof. H. Robby Habiba Abror, menegaskan bahwa pembelajaran di jenjang pascasarjana memiliki karakter yang berbeda dengan pendidikan sarjana. Karena itu, pengenalan budaya akademik perlu disesuaikan dengan tuntutan keilmuan mahasiswa magister dan doktor.


“Pengenalan budaya kampus perlu disesuaikan dengan level pascasarjana. Tentunya terdapat perbedaan antara materi dan pola pembelajaran pada jenjang S-1 dengan S-2 maupun S-3,” jelasnya.

Melalui matrikulasi, mahasiswa diperkenalkan dengan sejumlah kemampuan fundamental yang menunjang perjalanan akademiknya, antara lain filsafat ilmu, academic writing, serta bidang keilmuan sesuai karakteristik masing-masing program studi. Materi tersebut menjadi bekal awal mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan penelitian sekaligus menghasilkan karya akademik yang berkualitas.

Penguatan tersebut juga didukung oleh keterlibatan guru besar, ketua dan sekretaris program studi, serta para dosen yang memiliki pengalaman dalam penelitian dan publikasi ilmiah, baik pada jurnal nasional maupun internasional. Interaksi langsung dengan para akademisi diharapkan memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai dinamika penelitian dan dunia akademik.

Menariknya, proses pembelajaran awal tersebut diwarnai dengan munculnya berbagai pertanyaan kritis dari mahasiswa. Salah satu isu yang mengemuka adalah strategi menembus jurnal internasional.

Bagi Robby, pertanyaan semacam itu justru menjadi indikator positif tumbuhnya tradisi akademik di kalangan mahasiswa pascasarjana.

“Makin sulit pertanyaan yang diajukan, artinya mahasiswa makin kritis untuk mencari tahu. Pertanyaan seperti bagaimana kiat menembus jurnal internasional justru memberikan semangat kepada para fasilitator untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan,” ujarnya.

Selain membangun fondasi akademik, FUPI juga mulai memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan akademik global. Penguatan jejaring internasional menjadi salah satu bagian dari pengembangan pendidikan pascasarjana di lingkungan FUPI UIN Sunan Kalijaga.

Robby menjelaskan, FUPI memiliki pengalaman interaksi akademik dengan sejumlah perguruan tinggi luar negeri, khususnya di Malaysia. Salah satunya ditandai dengan kunjungan 12 dekan dari fakultas pengkajian Islam sejumlah universitas di Malaysia yang diterima oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi.

Kerja sama dengan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), termasuk melalui program student exchange, juga menjadi bagian dari upaya membuka pengalaman akademik internasional bagi mahasiswa. Pada semester sebelumnya, FUPI turut menerima kunjungan sekitar 40 mahasiswa dan dosen dari Universitas Malaya, Kuala Lumpur.

Menurut Robby, berbagai interaksi tersebut menunjukkan makin terbukanya ruang kolaborasi antara FUPI dengan perguruan tinggi internasional.

“Ini menjadi magnet khusus bagi fakultas. Karena itu, mahasiswa perlu diperkenalkan dengan pola kerja sama dan jejaring akademik internasional sejak awal,” tuturnya.

Jejaring tersebut menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk melihat bahwa proses pendidikan pascasarjana tidak berhenti pada ruang kelas. Diskusi ilmiah, penelitian kolaboratif, publikasi, pertukaran mahasiswa, hingga interaksi dengan akademisi dari berbagai negara menjadi bagian dari pengalaman akademik yang perlu dibangun sejak awal.

Penguatan pendidikan pascasarjana FUPI juga berjalan beriringan dengan pengembangan program studi. Pada tahun akademik 2026/2027, FUPI menyelenggarakan sejumlah Program Magister, yaitu Magister Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Magister Studi Agama-Agama (MSAA), Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT), Magister Sosiologi Agama (SA), serta Magister Ilmu Hadis.

Pada jenjang doktoral, FUPI memiliki Program Doktor Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) dan tengah mempersiapkan pengembangan Program Doktor Ilmu Al-Qur'an dan Hadis (IAT).

Perkembangan tersebut menunjukkan upaya FUPI untuk memperluas pilihan pendidikan tinggi keislaman sekaligus merespons kebutuhan pengembangan keilmuan di tengah perubahan masyarakat dan tantangan akademik global.

Wakil Dekan Bidang Akademik FUPI UIN Sunan Kalijaga, Prof. Saifuddin Zuhri, menyampaikan bahwa pada tahun akademik ini terdapat 111 mahasiswa program magister dan doktor yang tersebar dalam enam program studi.

Menurut Saifuddin, matrikulasi tahun ini menjadi penguatan dari agenda SOSPEM yang sebelumnya telah menjadi bagian dari penyambutan mahasiswa pascasarjana.

“Tujuan matrikulasi adalah memberikan persamaan persepsi di program studi masing-masing dan menjadi pondasi awal bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Ia berharap keberadaan mahasiswa pascasarjana makin menghidupkan atmosfer intelektual di lingkungan FUPI. Aktivitas akademik diharapkan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi berkembang melalui diskusi, penelitian, publikasi, dan pertukaran gagasan.

“Dengan makin dinamisnya aktivitas mahasiswa, fakultas tidak hanya menjadi ruang administratif, tetapi juga menjadi ruang intelekStual yang hidup,” ujarnya.

Bagi FUPI, interaksi dalam SOSPEM dan Matrikulasi juga menjadi proses dua arah. Mahasiswa membawa perspektif, gagasan, dan pertanyaan baru, sementara dosen memperoleh masukan untuk terus mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan akademik mahasiswa.

Penutupan SOSPEM dan Matrikulasi dengan demikian bukan sekadar penanda berakhirnya masa orientasi. Momentum tersebut menjadi awal perjalanan akademik mahasiswa magister dan doktor untuk tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang kritis, terbuka, kolaboratif, dan terhubung dengan jejaring akademik yang lebih luas.

Dengan fondasi akademik yang kuat serta akses pada jejaring nasional dan internasional, mahasiswa pascasarjana FUPI diharapkan mampu berkembang menjadi akademisi dan intelektual yang produktif dalam penelitian, publikasi, pengembangan ilmu pengetahuan, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat, agama, dan bangsa. (humassk)