Perubahan tidak selalu berawal dari gagasan besar. Terkadang, perubahan justru tumbuh dari keresahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, lalu berkembang menjadi aksi nyata yang memberi manfaat bagi orang lain. Semangat itulah yang tecermin dalam gagasan tiga pemenang Kalijaga Changemaker 2026, yang menghadirkan inovasi di bidang pendidikan keluarga, kepemimpinan anak muda, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Hanania Rahima, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus peraih juara pertama, keresahan terhadap isu fatherless menjadi titik awal lahirnya komunitas Harmonest. Pengalaman dan keresahan yang dirasakan bersama teman-temannya mendorong mereka untuk tidak berhenti pada persoalan, tetapi mencoba menghadirkan solusi.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Family Card, sebuah permainan kartu yang dirancang untuk mendekatkan anak dan orang tua melalui komunikasi. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kartu, keduanya diajak untuk saling berbicara, mendengarkan, dan membangun hubungan yang lebih baik.
“Family Card ini menyatukan antara anak dan orang tua. Jadi, nanti anak dan orang tua berkomunikasi lewat Family Card dan saling menanyakan pertanyaan yang ada di dalamnya,” jelas Hananya.
Seiring perkembangannya, Harmonest tidak hanya berfokus pada isu keluarga. Komunitas ini juga memperluas kegiatan ke berbagai persoalan lain, termasuk perundungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hingga saat ini, Harmonest telah melatih lebih dari 85 fasilitator dan menjangkau lebih dari 1.000 peserta di berbagai wilayah Indonesia serta Selangor, Malaysia.
Capaian tersebut menunjukkan bagaimana keresahan personal dapat berkembang menjadi gerakan yang menjangkau lebih banyak orang. Bagi Hanania mahasiswa memiliki ruang untuk terus berinovasi dan berkreasi dalam menjawab persoalan di sekitarnya.
Semangat mengubah keresahan menjadi aksi juga hadir dalam gagasan Peace Young Leaders yang diinisiasi Siti Zahwa Qurratul Ainiah, peraih juara kedua Kalijaga Changemaker 2026. Program ini berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan kekerasan, dengan menempatkan kepemimpinan anak muda sebagai salah satu fokus utama gerakannya.
Bagi Zahwa, anak muda bukan sekadar kelompok yang perlu dilindungi dari berbagai persoalan sosial, melainkan juga dapat mengambil peran dalam membangun lingkungan yang lebih aman dan damai. Karena itu, Peace Young Leaders dikembangkan sebagai program yang mendorong keterlibatan anak muda dalam menyuarakan perubahan.
Dampaknya, menurut Zahwa, telah terlihat melalui berbagai kegiatan yang dijalankan para fasilitator di sejumlah provinsi. Gagasan dan hasil gerakan tersebut juga dibawa kepada para pemangku kebijakan, termasuk DPR RI, DPD, dan PKB Yogyakarta, serta pihak-pihak terkait lainnya.
Keikutsertaan dalam Kalijaga Changemaker 2026 menjadi bagian dari perjalanan program tersebut, tetapi bukan penentu keberlanjutan gerakannya. Zahwa menegaskan bahwa Peace Young Leaders akan tetap berjalan, terlepas dari ada atau tidaknya kompetisi.
“Program ini akan terus berjalan ada atau tidaknya Kalijaga Changemaker, karena program ini adalah program yang akan terus kami suarakan untuk anak muda ke depannya,” ungkapnya.
Pesan Zahwa kepada mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pun sejalan dengan semangat programnya. Ia mengajak mahasiswa untuk mengambil peran dalam menjaga perdamaian, baik di lingkungan sekitar maupun di dunia digital. Ajakan ini menegaskan bahwa upaya menciptakan ruang yang aman dan damai membutuhkan keterlibatan bersama, termasuk dalam interaksi di ruang daring.
Jika Harmonest bergerak melalui inovasi komunikasi keluarga dan Peace Young Leaders mendorong kepemimpinan anak muda untuk perdamaian, gagasan Laboratorium Kehidupan Masyarakat berangkat dari keyakinan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan potensi untuk menggerakkan perubahan dari lingkungannya sendiri.
Gagasan yang dibawa Nur Cahyanti, mahasiswa Program Studi Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga, ini mengantarkannya meraih juara ketiga sekaligus penghargaan Juara favorit dalam Kalijaga Changemaker 2026.
Nur, yang akrab disapa Nurche, menjelaskan bahwa Laboratorium Kehidupan Masyarakat dirancang sebagai ruang belajar yang menempatkan kehidupan sebagai sumber pengetahuan dan masyarakat sebagai pelaku perubahan. Dalam gagasan ini, kolaborasi menjadi penghubung antara masyarakat dengan masyarakat lainnya, sekaligus antara masyarakat dan pihak eksternal.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat program, melainkan sebagai bagian penting dalam proses perubahan. Potensi yang ada di lingkungan masyarakat diharapkan dapat dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat perekonomian, serta mendorong kemandirian desa hingga menjadi desa percontohan.
Bagi Nurche, capaian di Kalijaga Changemaker 2026 merupakan batu loncatan untuk memperluas jejaring dan kolaborasi. Ia berharap semakin banyak pihak eksternal yang bersedia terlibat dalam kegiatan Laboratorium Kehidupan Masyarakat sehingga program tersebut dapat menjangkau jejaring yang lebih luas.
Meskipun bergerak di bidang yang berbeda, ketiga pemenang tersebut membawa pesan yang beririsan: gagasan dan pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi sesama.
Hanania menunjukkan bahwa keresahan terhadap persoalan keluarga dapat melahirkan inovasi yang mendorong komunikasi dan pembelajaran. Zahwa mengajak anak muda mengambil peran dalam membangun perdamaian di ruang nyata maupun digital. Sementara itu, Nurche menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pelaku perubahan melalui pembelajaran dan kolaborasi.
Pesan Nurche kepada mahasiswa UIN Sunan Kalijaga merangkum semangat tersebut. Menurutnya, pendidikan dan ilmu pengetahuan perlu disertai kesediaan untuk berbagi serta memberi manfaat kepada lingkungan sekitar.
“Kalian boleh meraih pendidikan setinggi-tingginya, boleh menambah ilmu sebanyak-banyaknya, tapi jangan lupa salurkan ilmu itu kepada orang-orang yang berada di sekeliling kalian,” pesannya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pusat-pusat pertumbuhan di kota besar, tetapi juga oleh kontribusi masyarakat di desa-desa.
“Ingat! Indonesia besar bukan karena obor di Jakarta, karena Indonesia besar juga karena lilin-lilin di desa,” tuturnya.
Kisah ketiga pemenang Kalijaga Changemaker 2026 memperlihatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari berbagai pintu: keluarga, kepemimpinan anak muda, hingga kehidupan masyarakat. Melalui gagasan yang berangkat dari persoalan nyata, mahasiswa tidak hanya ditantang untuk berpikir kreatif, tetapi juga untuk memastikan bahwa ilmu dan inovasi yang dikembangkan dapat menjangkau masyarakat serta menghadirkan dampak yang berkelanjutan.(humassk)