WhatsApp Image 2026-11-04 at 20.37.00.jpeg

Rabu, 04 November 2026 20:49:00 WIB

0

Resmi Buka OASE III 2026 di UIN Sunan Kalijaga, Menag Ajak Mahasiswa Warisi Tradisi Ilmuwan Muslim yang Mendalami Agama, Menguasai Sains, dan Tekun Meneliti

Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Nasaruddin Umar mengajak mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) mengembangkan sains dan teknologi dengan berpijak pada nilai-nilai agama. Penguasaan ilmu pengetahuan perlu berjalan bersama tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan Menag saat membuka secara resmi Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (4/11/2026) bertempat di Gedung Prof. Amin Abdullah. Ajang ini diikuti 54 PTKIN yang berkompetisi dalam 18 perlombaan bidang agama, sains, dan riset.


Menurut Prof. Nasaruddin, kemajuan bangsa memerlukan pengembangan sains dan teknologi. Agama memberikan arah agar kemampuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan pengaruhnya terhadap manusia dan kehidupan bersama.

“Bangsa yang berkembang harus memajukan sains dan teknologi. Oleh sebab itu harus ada agama yang senantiasa membimbing ilmu pengetahuan, jangan jadi monster tapi jadlah seorang ilmuan yang berpengaruh dan bermanfaat untukk semua,” pesannya.


Melalui OASE, Menag mendorong mahasiswa untuk mendalami ilmu keagamaan sekaligus aktif dalam penelitian dan pengembangan teknologi. Ia menempatkan semangat berkompetisi, berkarya, dan menghasilkan penemuan sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam yang perlu terus dihidupkan.

Dalam sambutannya, Menteri Agama juga banyak merefleksikan kisah Rasulullah dan para tokoh dalam sejarah Islam. Ia mengangkat keteladanan tentang penghargaan terhadap kreativitas, keterbukaan pada pengetahuan, serta perhatian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Salah satu kisah yang disampaikannya ialah apresiasi Nabi kepada seorang pemuda yang menghadirkan lampu untuk penerangan. Menag menekankan pentingnya memberi penghargaan kepada orang-orang yang menggunakan kemampuan dan kreativitasnya untuk membantu kehidupan bersama.

“Kalian kalau kreatif, maka kalian mencontoh sifat Allah yang Maha Khaliq, Maha Kreatif,” ujarnya.

Prof. Nasaruddin juga menyinggung perhatian Rasulullah terhadap kesehatan dan pertanian. Melalui kisah-kisah tersebut, ia mengajak peserta melihat keluasan hubungan antara kehidupan beragama dan ikhtiar menjawab kebutuhan manusia.

Pandangan itu turut disampaikannya ketika membicarakan ulama dan ilmuwan pada masa lalu. Menurut Menag, penguasaan ilmu agama dapat berjalan beriringan dengan ketekunan meneliti serta keterlibatan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Para ilmuwan pada zaman dahulu merupakan sosok-sosok yang luar biasa. Siapa yang pernah membaca sejarah Bagdad dan Abu Hanifah? Ia seorang ulama fikih, tetapi juga memiliki keahlian dalam bidang arsitektur. Dialah yang membangun benteng Bagdad. Ia juga seorang penjjahit. Jangan membayangkan ulama  hanya bersandar di dinding masjid sambil memegang tasbih,” ujar Menag.

Begitu juga dengan Imam Syafi’i sebagai peneliti sejarah yang menghasilkan berbagai karya dari penelitiannya, serta Salman al-Farisi yang memiliki keahlian dalam bidang arsitektur. Ia juga menyebut Al-Kindi yang banyak menerjemahkan dan mendalami filsafat. Melalui keteladanan tersebut, Menag mengajak mahasiswa mendalami ilmu agama sekaligus aktif dalam penelitian dan pengembangan teknologi agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan dukungan sarana yang semakin berkembang, mahasiswa diharapkan memiliki dorongan untuk memperkuat penelitian dan menghasilkan inovasi. OASE menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa pendalaman agama memiliki hubungan erat dengan pengembangan sains dan riset.

Selain penguatan keilmuan, Prof. Nasaruddin menekankan keterbukaan terhadap perbedaan. Ia mengingatkan bahwa hubungan baik Rasulullah menjangkau orang-orang dari beragam latar belakang agama. Semangat tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian para pimpinan perguruan tinggi dalam membangun lingkungan pendidikan yang terbuka.

“Untuk itu kepada para rektor, jangan hanya menerima mahasiswa yang beragama Islam. Berilah kesempatan kepada mahasiswa dari berbagai agama agar di kampus kita terjadi dialog dan sintesis pengetahuan,” ajak Menag.

Melalui penyelenggaraan OASE III, pesan yang ditekankan Menag ialah pentingnya melahirkan generasi yang mendalami agama, menguasai ilmu pengetahuan, dan terbuka terhadap sesama. Kreativitas dan kemampuan riset mahasiswa diharapkan tumbuh bersama kesadaran bahwa pengetahuan membawa tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi masyarakat.(humassk)