WhatsApp Image 2026-11-04 at 20.36.57.jpeg

Rabu, 04 November 2026 21:18:00 WIB

0

Di UIN Sunan Kalijaga, Dirjen Pendis Tegaskan OASE III sebagai Pembuktian Integrasi Ilmu PTKIN

Integrasi ilmu agama dan sains memperoleh ruang pembuktian melalui karya mahasiswa. Bagi Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof. Amien Suyitno, Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 menjadi gerbang perjumpaan keilmuan yang memperlihatkan keluasan kapasitas perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.

Pesan tersebut disampaikan dalam pembukaan OASE III PTKIN di Gedung Prof. Amin Abdullah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (4/11/2026). Di hadapan Menteri Agama dan peserta, Prof. Amien menekankan bahwa pengembangan PTKIN perlu dipahami melalui kemampuannya mempertemukan kedalaman ilmu agama dengan penguasaan sains, riset, dan teknologi.


Menurutnya, mengembangkan perguruan tinggi yang selama ini dikenal sebagai kampus agama hingga memperoleh pengakuan dalam berbagai bidang keilmuan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Karena itu, capaian PTKIN perlu menjadi sumber kebanggaan sekaligus dorongan untuk terus meningkatkan kualitas.

“Selamat kepada UIN Sunan Kalijaga atas capaian THE WUR 2027. Ini bukan kampus biasa-biasa saja. Insan PTKIN harus bangga atas capaian ini. Tidak mudah membawa PTKIN yang selama ini dikenal sebagai kampus agama meraih pengakuan internasional,” ungkap Prof. Suyitno.


Dalam konteks itu, penyelenggaraan OASE di UIN Sunan Kalijaga memiliki arti penting. Gagasan integrasi ilmu yang terus dikembangkan di lingkungan PTKIN menemukan bentuknya melalui penelitian, inovasi, dan kemampuan mahasiswa menjelaskan karya mereka di hadapan komunitas akademik.

Prof. Suyitno juga menuturkan bahwa penguatan ruang bagi sains dan riset menjadi bagian dari perjalanan lahirnya OASE. Sebelumnya, kompetisi mahasiswa diselenggarakan melalui Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset atau PIONIR. Namun, menurut dia, bidang sains dan riset membutuhkan ruang yang lebih kuat agar memperoleh perhatian dan pengembangan yang memadai.

Pemisahan ajang menjadi Pekan Seni dan Olahraga Nasional serta OASE kemudian memberikan ruang yang lebih terarah bagi masing-masing bidang. Melalui OASE, kemampuan mahasiswa dalam ilmu agama, sains, dan penelitian dapat ditampilkan sekaligus diuji secara lebih terfokus.

Ia mengingat kembali penyelenggaraan OASE pertama di Aceh pada 2021, yang berlangsung secara daring di tengah pandemi Covid-19. Penyelenggaraan kedua berlangsung di DKI Jakarta pada 2023, sebelum ajang ketiga mempertemukan peserta di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perjalanan tersebut menunjukkan upaya berkelanjutan untuk membangun wadah pengembangan talenta mahasiswa PTKIN. Prof. Amien mengaitkannya dengan pentingnya pengelolaan talenta nasional agar potensi mahasiswa memperoleh pembinaan dan kesempatan untuk berkembang.

“OASE mencita-citakan lahirnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd baru, generasi yang mendalami ilmu agama sekaligus menguasai sains dan tekun meneliti. Kalian dipersiapkan untuk meneruskan tradisi keilmuan yang melahirkan karya berpengaruh dan bermanfaat lintas generasi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Pendis juga menyinggung keragaman kekuatan akademik di lingkungan PTKIN. Dalam penilaiannya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memberikan contoh pengembangan ilmu agama yang berjalan seimbang dengan sains. Sementara itu, UIN Raden Intan Lampung disebut memiliki capaian dalam bidang yang berkaitan dengan ekoteologi.

Keragaman tersebut memperlihatkan peluang bagi PTKIN untuk saling belajar dan memperkuat kontribusi sesuai bidang keunggulannya. Prestasi akademik memperoleh makna lebih luas ketika terhubung dengan persoalan pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat lainnya.

“Bisa berkontribusi, bisa menonjolkan sisi kehebatan dan prestasi Anda sesuai dengan karakteristiknya,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Prof. Suyitno turut menyinggung karya di bidang pendidikan serta keterlibatan dosen kedokteran dalam kegiatan lapangan yang memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Ia mengajak seluruh peserta menunjukkan kemampuan dan prestasi sebagai bagian dari ikhtiar mencapai kemajuan bersama.

Pada akhirnya, ia menempatkan kualitas dan profesionalitas sebagai tujuan utama kompetisi. Kemenangan merupakan bagian dari pencapaian, sementara proses yang ditempuh mahasiswa perlu memperlihatkan penguasaan ilmu dan kesungguhan dalam berkarya.

Dari UIN Sunan Kalijaga, OASE III membawa harapan agar integrasi keilmuan terus berkembang melalui praktik akademik yang nyata. Pertemuan ilmu agama, sains, dan riset menjadi bekal bagi mahasiswa PTKIN untuk menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan serta memberi manfaat bagi masyarakat.(humassk)