Sabar+Sholat= Masa Depan?

Pendahuluan

Islam adalah agama yang sangat menekankan masa depan (akherat), yang transparan, akuntabel, berintegritas dan bertanggung jawab. Pandangan ini dirumuskan dengan konsep kiamat (dan akherat), yang dibagi menjadi tiga tetapi saling melengkapi. Pertama, masa depan jangka panjang terjauh disebut kiamat kubro/besar (Kiamat). Kedua, masa depan jangka menengah. Kiamat sugro/kecil, kiamat) ini biasa disimbulkan dengan kematian biologis karena kematian sangat ditakuti oleh setiap makhluk hidup: kehilangan segala-galanya. Di samping itu, historisitas terhenti: hanya tinggal menunggu pengadilan akhir (di Kiamat).

Padahal, kiamat sugro ini terjadi ribuan kali, bahkan lebih, dalam kehidupan seseorang karena setiap akhir dari sebuah tindakan, pada hakekatnya, adalah kiamat, yang berupa yaumul hisab (hari perhitungan amal). Contoh makan dan minum 30 menit. Dari sini akan terhisab (terdeteksi, tercatat, terlaporkan, “tertagih”) dari berbagai segi: waktu (misalnya, 1 jam); kuantitas makanan (misalnya, 1 ons campuran nasi dengan lauk pauk dan minuman); biaya (misalnya, Rp 250.000,-); pengaruh makan terhadap tubuh akan sangat tergantung pada komposisi makanan, minuman dan kondisi tubuh (hisab medis).

Akherat sebagai Masa Depan

Masa depan juga diungkapkan dengan istilah akherat, sehingga jug harus menjadi “akherat jangka penjang terjauh” (Kiamat), “akherat jangka menengah” (kiamat) dan “akherat jangka pendek” (yaumul hisab). Namun demikian, umat Islam cenderung memukul rata bahwa akherat adalah setelah hancurnya dunia (akhir dari kiamat dan awal Kiamat). Mereka pada umumnya menyamakan antara “Akherat lebih baik dan lebih kekal” (Al-A’la: 17) dengan “Akherat lebih baik bagimu daripada ula” (Al-Duha: 4).

Sebagai akibatnya, mereka lebih terfokus Akherat Kiamat dan cenderung melalalikan akherat sebagai yaumul hisab. Padahal, jika diceramati, ke dua akherat ini berbeda. Pertama, “Akherat” (Al-A’la: 17)” dibandingkan dengan orientasi serba-duniawi. Di sisi lain, “Akherat” (Al-Duha: 4) dibandingkan dengan ula (pertama; start). Kedua, “Akherat” (Al-A’la: 17) mencela dunia, sedangkan “Akherat (Al-Duha: 4) menjanjikan dunia. Ketiga, “Akherat (Al-A’la: 17)” bersifat umum, sedangkan “Akherat (Al-Duha: 4)” bersifat khusus: Nabi Muhammad akan diberi, sehingga rido (rela).

Memang berdasarkan asbabunnuzul, “Akherat (Al-Duha: 4)” adalah janji Allah kepada Nabi Muhammad setelah beliau gelisah karena wahyu terputus. Dengan demikian, Nabi Muhammad didorong agar optimis dan dinamis, sehingga “Akherat lebih baik bagimu dari ula” dapat diterjemahkan menjadi “Masa depan lebih baik bagimu daripada masa pertama, (sekarang yang telah menjadi kemarin)”. Masa depan di sini adalah Fathu Makkah. Pembebasan kota Mekkah ini, ternyata, merupakan revolusi tidak berdarah pertama dalam sejarah!

Agar kata “akherat” ini menjadi petunjuk maka dapat disetting sebagai rencana kerja berjangka. Misalnya, “akherat” –yaitu, mendaftar ke SMA lebih baik daripada “ula” –yaitu tamat SMP. “Akherat ini pun segera menjadi ula, maka perlu dilanjutkan dengan “akherat” baru –yaitu, masuk perguruan tinggi lebih baik daripada taman SMA (maka segeralah mendaftar sebelum pendaftaran ditutup sebagai implementasi dari hadis “Masa mudamu sebelum masa tuamu”). Begitu seterusnya hingga kiamat: kematian menjemput!

Sabar dan Sholat sebagai Cara Meraih Masa Depan?

Allah SWT menegaskan: “Mintalah tolong [kepadaKu] dengan cara bersabar dan sholat” (Al-Baqarah: 153). Sabar adalah sunatullah: hukum alam, sehingga obyektif, absolut, universal dan kekal hingga Kiamat. Ini berlaku bagi semua makhluk hidup, sehingga ayat ini, pada tahap ini, merupakan rahmatan lil alamin. Siapa, bahkan apa pun juga, yang bersabar akan berhasil. Dari semua makhluk hidup, manusialah yang paling membutuhkan kesabaran karena manusia diberi hak untuk mengelola alam ini melalui akalnya. Sampai di sini, ayat lebih fokus sehingga menjadi “petunjuk bagi umat manusia” (Al-Baqarah: 2).

Namun demikian, agar dapat menjadi petunjuk progresif maka sabar pun perlu dirumuskan. Sabar itu apa? Sabar, bagi saya, adalah lama x banyak x sering x niat/planning. Misalnya, niatnya adalah menulis makalah yang dapat diterbitkan di jurnal internasional –katakanlah 30 (tiga puluh) halaman—agar menjadi profesor atau guru besar. Oleh karena itu, harus dipraktekkan lama (30) hari x banyak (menulis 1 halaman 1 hari) x sering (direvisi atau diedit 3x 1 hari). Dengan demikian, kesabaran ini membuahkah hasil hanya dalam 1 bulan.

Siapa pun yang menerapkan rumus di atas akan mendapat “petunjuk”. Di sini Alquran tanpa pandang bulu. Misalnya, diadu 100 putera mahkota dari 100 negara, yang mewakili 100 agama, melawan 1 orang yang tidak beragama, bahkan mata, tangan dan kakiknya hanya 1. Si mata-tangan-kaki satu mengamalkan rumus di atas, sedangkan 100 putera mahkota tidak, maka siapakah yang akan mendapat “petunjuk” dari Allah, yaitu menjadikan kesabaran sebagai mukjizat Allah pembangun masa depan? Jadi, ayat “Allah bersama orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah: 153 dll) itu berlaku universal: bagi semua umat manusia, bukan hanya untuk umat Islam!

Namun demikian, mengapa masih perlu sholat? Di sinilah titik pembeda dan pemisahnya. Memang benar kesabaran berlaku obyektif, universal, absolut dan kekal hingga Kiamat, tetapi hanya di dunia ini saja, tidak sampai ke Sorga di Akherat setelah Kiamat karena harus diuji dengan satu-satunya kriteria: tidak mempersekutukan Allah. Selain dosa syirik akan diampuni Allah (Annisa: 48 dan 116), sehingga akan masuk Sorga. Oleh karena itu, diperlukanlah sholat, sehingga Al-Baqarah: 153 ini menjadi “petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 2).

Ketakwaan merupakan puncak akumulasi keimanan dan keislaman seseorang. Dengan kata lain, orang yang bertakwa adalah manusia sempurna karena ditambahkan akidah. Hanya orang yang berimanlah yang akan masuk Sorga. Sampai di sini, Al-Baqarah 153 ini menjadi “petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. Namun demikian, sholat di sini bukanlah sholat lima waktu, tetapi sholat-sholat khusus seperti sholat hajat.

Jika kesabaran seperti rumusan di atas dikerjakan dan diperkuat dengan sholat hajat, maka ayat ini menjadi “Alquran ini (selalu) menunjukkan kepada aqwan (sesuatu yang paling lulus, tegak dan kokoh)” (Al-Isra’: 9). Dari segi apa? Dari segi teologis, kosmos dan kosmis. Aqwam seakar dengan kata qaum (kaum) dan qiyamah (kiamat), sehingga berarti yang paling siap menghadapi siapa dan apa pun juga!

Oleh: Prof. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D

Rektor UIN Sunan Kalijaga

President of Asian Islamic Universities Association

Kolom Terpopuler