WhatsApp Image 2026-01-08 at 09.50.45.jpeg

Kamis, 08 Januari 2026 10:38:00 WIB

0

Menyongsong Dua Dekade, ICRS Resmi “Re-Born” dengan Kepemimpinan Baru 2026–2030

Memasuki usia ke-20 tahun, Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) menandai babak baru perjalanan institusionalnya melalui transformasi bertajuk “ICRS Re-Born”. Momentum ini ditandai dengan pelantikan jajaran direksi baru periode 2026–2030 yang akan membawa ICRS menuju fase penguatan peran di tingkat nasional dan global. Acara tersebut di hadiri oleh para Rektor serta para pejabat tiga perguruan tinggi tersebut yang dilaksanakan tanggal 7 Januari 2026 di Yogyakarta.


Pelantikan direksi baru dipimpin oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro selaku perwakilan Dewan Pengawas. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Samsul Maarif resmi dilantik sebagai Direktur ICRS.          Ia didampingi oleh dua Associate Director, yakni Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. dan Rev. Prof. Yahya Wijaya, Ph.D..


Dalam pidato perdananya, Dr. Samsul Maarif menegaskan komitmen kepemimpinannya untuk membawa ICRS semakin relevan dan berdampak luas. Ia memaparkan tiga pilar utama visi ICRS lima tahun ke depan.


Pertama, menjadikan ICRS sebagai pusat ekselensi dalam pendidikan, penelitian, dan penguatan kemitraan lintas budaya. Kedua, memperkuat akar komunitas dengan memastikan seluruh program ICRS memiliki dampak nyata bagi masyarakat akar rumput. Ketiga, meningkatkan kontribusi ICRS dalam merespons isu-isu global, khususnya perdamaian, keadilan sosial, dan keberlanjutan hidup.


“Transformasi ini bukan sekadar perubahan struktur, tetapi peneguhan peran ICRS sebagai ruang dialog lintas iman dan lintas budaya yang relevan dengan tantangan zaman,” ujar Dr. Samsul Maarif.


ICRS mencatat capaian membanggakan di tingkat internasional. Di bawah kepemimpinan sebelumnya yang dipimpin Dr. Zainal Abidin Bagir dan jajaran, ICRS berhasil masuk dalam peringkat 51–100 dunia QS World University Rankings by Subject 2025 untuk kategori Theology, Divinity, and Religious Studies.

Dalam acara tersebut, tiga rektor universitas pendiri ICRS—Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan UIN Sunan Kalijaga—menyampaikan pesan strategis bagi masa depan konsorsium.

Prof. dr. Ova Emilia, Rektor UGM, mendorong agar ICRS semakin responsif terhadap isu-isu aktual seperti kebencanaan, sekaligus mampu merangkul partisipasi Generasi Z dalam kegiatan akademik dan sosial.

Sementara itu, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, Rektor UKDW, menekankan pentingnya penguatan international branding untuk menarik lebih banyak mahasiswa internasional serta mendorong kajian lintas agama yang berfokus pada isu ekologi.


Adapun Prof. Dr. Noorhaidi, Rektor UIN Sunan Kalijaga, menegaskan bahwa perubahan institusional ICRS harus berdampak seimbang dan kuat bagi ketiga kampus pendiri. Ia juga menyoroti pentingnya skema penerimaan mahasiswa doktoral (S3) berbasis riset kolaboratif.

“Mahasiswa datang bukan membawa ide penelitian sendiri, tetapi tertarik bergabung karena riset yang sudah dirancang dan ditawarkan oleh ICRS,” tegasnya.

Sedangkan pada saat Sertijab, perwakilan UIN, Prof. Alim menyampaikan bahwa dirinya akan fokus dalam mengemban amanah baru walaupun termasuk yang kurang banyak bersinggungan dengan ICRS dibanding kedua pimpinan lainnya. " Saya beberapa kali pernah terlibat di ICRS, bahkan hampir jadi Mahasiswinya, namun saat itu saya memilih ambil Ph.D di Australia, karena itulah saya merasa masih menjadi  'muallaf' ICRS, sehingga benar-benar segera bergerak cepat untuk beradabtasi." Ungkapnya.

Menatap perjalanan menuju usia 25 tahun, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra dari Dewan Pengawas mengusulkan penyusunan buku sejarah perjalanan ICRS. Gagasan ini dinilai penting sebagai refleksi sekaligus fondasi intelektual agar ICRS terus berkembang sebagai pusat studi antaragama yang inklusif, kritis, dan relevan bagi masyarakat global.

Transformasi “ICRS Re-Born” menjadi penanda tekad lembaga ini untuk terus beradaptasi, memperluas dampak, dan memperkuat peran strategisnya dalam membangun dialog keagamaan yang berkeadilan dan berkelanjutan.(humassk)