Ramadan selalu memiliki wajah yang berbeda di setiap tempat. Bagi Izra Berakon, dosen Manajemen Keuangan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ramadan tahun ini menghadirkan pengalaman yang tak biasa. Ia menjalani bulan suci di Turki, sebuah negeri yang membentang di dua benua sekaligus menyimpan jejak panjang sejarah peradaban Islam.
Saat ini Izra tengah menempuh studi doktoral pada Departemen Ekonomi dan Keuangan Islam di Sakarya Universit. Turki. Dari kota yang tidak jauh dari Istanbul, bekas jantung Kekhalifahan Ottoman, ia menyaksikan bagaimana tradisi Islam yang berusia ratusan tahun berdampingan dengan kehidupan modern.
“Ramadan tahun ini adalah yang pertama bagi saya di Turki. Perasaannya campur-campur, senang bisa merayakan bulan suci bersama umat Muslim di negeri yang kaya sejarah Islam, tetapi juga ada rasa rindu karena jauh dari keluarga di Indonesia,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut, menurutnya, membuka kesempatan untuk melihat bagaimana umat Islam di belahan dunia lain menjalani Ramadan dengan tradisi yang berbeda, namun tetap menyimpan makna yang sama.
Salah satu hal yang menarik baginya adalah cara masyarakat Turki menyambut datangnya Ramadan. Masjid-masjid dihiasi lampu dan ornamen yang memancarkan cahaya hangat. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Ramazan Süslemeleri. Tidak hanya masjid, berbagai ruang publik juga ikut dihiasi sehingga suasana Ramadan terasa hidup.
Izra juga mencatat perbedaan menarik terkait durasi puasa antara Indonesia dan Turki. Jika di Indonesia waktu berbuka cenderung semakin cepat menjelang Idul Fitri, di Turki justru sebaliknya, waktu berbuka semakin mundur, sementara waktu sahur semakin cepat. Ia bersyukur Ramadan kali ini berlangsung pada musim dingin. Pada musim panas, durasi puasa di Turki bisa berlangsung jauh lebih lama. “Namun demikian, puasa yang lebih panjang justru memberi ruang lebih luas untuk refleksi dan memperbanyak ibadah,” katanya.
Pengalaman lain yang berkesan baginya adalah keterlibatan anak-anak dalam aktivitas Ramadan. Banyak orang tua membawa anak-anak mereka ke masjid untuk mengikuti tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga kajian keagamaan. Menariknya, relawan khusus akan menjaga anak-anak di ruang terpisah selama salat berlangsung. Di sana mereka melakukan aktivitas seperti menggambar atau mewarnai. “Cara ini membuat anak-anak tetap merasakan suasana Ramadan tanpa mengganggu jamaah yang sedang beribadah,” ujarnya.
Tradisi unik lainnya adalah penanda waktu berbuka puasa. Jika di Indonesia masyarakat akrab dengan bunyi bedug, di Turki waktu Maghrib ditandai dengan dentuman meriam yang ditembakkan ke udara. “Suara meriam yang menggelegar ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap orang yang berpuasa. Rasanya ada sensasi tersendiri, lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka, namun juga sebuah tanda bahwa kita telah melewati hari penuh kesabaran dan pengabdian,” kisahnya.
Selain tradisi, Izra juga merasakan kuatnya budaya berbagi selama Ramadan. Pemerintah, kampus, dan komunitas masyarakat menyediakan tenda-tenda iftar gratis di sekitar masjid.
Ia juga mendengar kisah menarik yang masih hidup di masyarakat Turki. Pada bulan Ramadan, sebagian orang kaya datang ke pasar untuk melunasi utang masyarakat miskin secara anonim.
Tradisi yang berakar dari masa Ottoman ini tidak hanya membantu orang yang berutang, tetapi juga memastikan pedagang tetap menerima haknya.
Warisan Ottoman lainnya juga terlihat dalam etika perdagangan. Pada masa kekhalifahan, pedagang dilarang menaikkan harga kebutuhan pokok selama Ramadan untuk mencegah lonjakan inflasi akibat meningkatnya permintaan. Meski kini tidak lagi menjadi aturan formal, semangat menjaga stabilitas harga masih dapat ditemukan di sejumlah pasar di Turki.
Bagi Izra, pengalaman menjalani Ramadan di negeri dua benua ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat hidup dalam berbagai bentuk budaya, tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan akademik yang lebih luas.
Di tengah lanskap sejarah Ottoman dan kehidupan modern Turki, Ramadan bagi Izra bukan sekadar pengalaman pribadi. Ia menjadi ruang perjumpaan antara tradisi Islam Nusantara dengan jejak peradaban Islam dunia.
Kiprah Izra Berakon menjadi salah satu cermin bagaimana akademisi UIN Sunan Kalijaga hadir dalam ruang-ruang akademik global. Melalui studi dan jejaring internasional, kampus ini tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga menghadirkan perspektif Indonesia dalam percakapan global.(humassk)