Di tengah situasi politik kebangsaan yang kian menegangkan, ketika demokrasi kembali dipertanyakan dan kebebasan warga berada dalam berbagai tarikan kepentingan, ajakan untuk kembali berpikir secara jernih dan filosofis terasa mendesak. Di saat arus informasi media sosial datang bertubi-tubi dan langkah-langkah politis kerap sulit ditebak, ruang refleksi menjadi kebutuhan bersama.
Dalam konteks itulah Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, bekerja sama dengan Suka Press, menggelar bedah buku Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama dan Kekuasaan karya Prof. Al Makin, Kamis (26/12/2026), di Aula Convention lantai 1 kampus setempat.
Buku tersebut mengajak pembaca menelusuri sejarah pemikiran manusia dari berbagai peradaban, seperti Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Eropa, Asia, China, pasca Perang Dunia II, hingga Nusantara, dalam bahasa yang relatif mudah dipahami.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Makin menegaskan, buku itu bukan sekadar hasil renungan akademik, tetapi juga bagian dari pengalaman intelektual pribadinya. “Banyak dari pemikir tersebut yang secara pribadi saya kenal, berkomunikasi, dan bergaul dengan mereka,” ujarnya.
Ia mengurutkan para pemikir sejak 3000 SM hingga masa kini, termasuk para pemikir Indonesia. Pengalaman mengajar sejak tahun 2000 dan kunjungan ke berbagai situs penting turut membentuk penulisan buku tersebut. Ia pernah tinggal di sekitar rumah Max Weber selama tiga tahun, menghadiri kuliah Jürgen Habermas dan Jacques Derrida, serta mengunjungi petilasan Karl Marx.
“Filsafat pada hakikatnya adalah milik seluruh umat manusia, sebab setiap manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir. Moral dan agama pun sepatutnya direnungkan secara mendalam, tidak berhenti pada penerimaan atau pengajaran formal semata,” katanya.
Karena itu, menurut Prof. Al Makin, filsafat sudah selayaknya diperkenalkan sejak bangku sekolah menengah. Atas dasar itulah, ia berupaya menyajikannya dengan bahasa yang jernih dan aksesibel agar dapat dipahami para pelajar.
Dalam kesempatan yang sama, penulis sastra Okky Madasari menilai buku ini penting karena menempatkan para pemikir dunia secara sistematis dan runtut. Banyak orang mengenal filsuf besar seperti Plato, tetapi tidak memahami silsilah dan konteks pemikirannya. “Buku ini menjadi wajib bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah pemikiran dunia dan bagi yang berminat melakukan dekolonialisasi pengetahuan,” ujarnya.
Menurut Okky, buku tersebut juga menyadarkan pembaca bahwa pengetahuan lahir dari kegelisahan. Para pemikir besar tidak lahir di ruang kosong, melainkan sebagai respons atas persoalan zamannya. “Mereka kerap kali kita pandang sebagai sosok yang jauh dan seolah seperti dewa, padahal mereka adalah manusia biasa yang gelisah, merenung atas realitas zamannya, lalu menuliskannya,” ungkapnya.
Pegiat kebudayaan tersebut juga menyebut buku ini tidak berhenti pada pembacaan, tetapi menantang pembaca untuk melanjutkannya, memproduksi pengetahuan baru, meneliti teori-teori non-Western, serta membangun kemandirian berpikir tanpa sekadar mengulang gagasan lama.
Okky juga mengingatkan, keterlambatan melahirkan pemikir besar bisa jadi berkaitan dengan sensor dan pembatasan terhadap proses intelektual. Tanpa kebebasan berpikir dan bertanya, sulit bagi masyarakat untuk menumbuhkan tradisi filsafat yang sehat. “Prasyarat utama tumbuhnya pemikiran yang hidup adalah iklim kebebasan berpikir, kebebasan untuk membicarakan siapa pun, apapun dan saling berdebat,” ujarnya.
Sementara itu, filsuf UIN Sunan Kalijaga, Dr. Fakhrudin Faiz, melihat buku ini sebagai karya ensiklopedik yang kaya informasi. Namun sebagaimana ensiklopedi pada umumnya, selalu ada ruang untuk bertanya dan merasa belum tuntas, sehingga justru mengundang lahirnya edisi-edisi lanjutan.
Namun demikian, ia menyayangkan realitas masyarakat Indonesia yang kerap lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi media sosial daripada melakukan pembacaan yang produktif dan reflektif. Dalam situasi seperti ini, menurutnya, pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana menghadirkan filsafat dalam bentuk yang lebih komunikatif dan menarik, tanpa kehilangan kedalaman berpikirnya.
Dosen UIN Jogja tersebut menilai fenomena tersebut juga membuat makna filsuf berubah dari era ke era. Pada zaman kuno, filsuf dipandang sebagai orang suci atau begawan; pada abad pertengahan, identik dengan ulama; pada era modern, merujuk pada akademisi; lalu berkembang menjadi aktivis sosial. “Sekarang, yang disebut seolah filsuf adalah selebritas yang sering tampil di media sosial,” ujarnya, menandai pergeseran otoritas dan cara publik mengenali figur pemikir di ruang digital.
Meski filsafat kerap dipandang sebagai sesuatu yang “asing”, Dr. Faiz menegaskan bahwa kehadirannya justru penting dan tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Filsafat dibutuhkan dalam berbagai peran: sebagai pendobrak yang berani mengkritisi, sebagai penanam yang mengeksekusi gagasan di lapangan, dan sebagai penjaga yang terus mengingatkan serta memberi arah.
Di tengah kebisingan zaman, bedah buku itu seolah menjadi pengingat bahwa berpikir bukan kemewahan akademik, melainkan kebutuhan warga negara. Sebab tanpa keberanian berpikir, demokrasi mudah terseret arus, dan kebebasan kehilangan makna.
Buku "Dari Athena sampai Nusantara" bukan sekadar buku filsafat biasa. Ia adalah jembatan peradaban dan berbagai budaya. Dengan bahasa yang memikat dan mudah dicerna, buku ini mengajak pembaca menyusuri pemikiran manusia dari Mesopotamia, Yunani, Romawi, Eropa, India, Tiongkok, Amerika, Arab, Mesir, Jepang, hingga Nusantara. Buku ini merawat ingatan kolektif bahwa Indonesia tidak pernah menjadi pulau pemikiran yang sunyi, para pemikir kita adalah bagian tak terpisahkan dari percakapan besar dunia.
Dari halaman pertama hingga akhir, buku ini memetakan dengan cemerlang bagaimana pemikir Nusantara seperti Tan Malaka, Daniel Dhakidae, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, hingga Azyumardi Azra berdialog dengan para raksasa pemikiran dunia: Socrates, Cicero, Lao Tzu, John Locke, hingga Habermas.
Di era disrupsi informasi dan kemacetan demokrasi, buku ini hadir sebagai oase sekaligus pisau bedah. Krisis adalah momentum untuk berpikir ulang. Dan tidak ada cara yang lebih baik selain menyelami bagaimana peradaban besar dunia merenungkan nasibnya, lalu melihat bagaimana pemikir kita ikut menorehkan tinta emas di dalamnya.(humassk)