Menteri
Agama RI Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ekoteologi mengajak manusia
melihat alam bukan semata sebagai objek yang berada di luar dirinya, melainkan
sebagai manifestasi kebesaran Tuhan yang harus dihormati, dijaga, dan
dimuliakan.
Pandangan
itu disampaikan Menteri Agama saat memberikan ceramah ekoteologi dalam kegiatan
pembinaan pegawai di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (4/6/2026). Di hadapan sivitas akademika, ia menjelaskan bahwa cara manusia memahami
alam akan sangat menentukan cara manusia memperlakukan lingkungan.
Jika alam hanya dipandang sebagai benda, objek, atau sesuatu yang terpisah
jauh dari Tuhan, manusia akan mudah mengeksploitasi dan merusaknya. Namun, jika
alam dipahami sebagai tajalli, yakni
penampakan atau manifestasi dari kebesaran Allah Swt. maka manusia akan lebih
berhati-hati, santun, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengannya.
“Kalau kita bicara ekoteologi, kita bicara tentang alam yang dihubungkan
dengan Tuhan,” ujar Prof. Nasaruddin.
Menurutnya, alam semesta tidak dapat dibaca secara dangkal hanya sebagai
realitas fisik. Di balik gunung, laut, pohon, tanah, air, tubuh manusia, hingga
unsur-unsur kecil yang dapat diamati melalui mikroskop, terdapat tanda-tanda
kebesaran Allah Swt.. Karena itu, ilmu pengetahuan seharusnya tidak menjauhkan
manusia dari Tuhan, tetapi justru mengantarkan manusia pada pengenalan yang
lebih dalam terhadap-Nya.
Prof. Nasaruddin Umar menyebut, tradisi keilmuan Islam mengenal beberapa
cara dalam memahami hubungan Tuhan dan alam. Dalam pendekatan teologi dan
fikih, Allah dipahami sebagai Khalik, sedangkan alam disebut sebagai makhluk.
Namun, dalam pandangan tasawuf, hubungan itu dipahami lebih dalam, yakni alam
semesta merupakan tajalli Allah Swt.,
penampakan dari kebesaran-Nya.
Ia
menegaskan, pandangan tersebut bukan berarti menyamakan Tuhan dengan alam.
Tuhan tetap Maha Transenden, “Masuk ke dalam segala sesuatu, tetapi tidak
bercampur. Keluar dari segala sesuatu, tetapi tidak
terpisah,” katanya, menjelaskan relasi Tuhan dengan alam semesta.
Dari titik inilah, Prof. Nasaruddin membangun dasar etik ekoteologi. Jika
alam adalah manifestasi kebesaran Tuhan maka merusak alam bukan sekadar
tindakan ekologis yang keliru, tetapi juga bentuk kegagalan spiritual. Menebang
pohon sembarangan, mencemari sungai, merusak tanah, dan mengeksploitasi
lingkungan tanpa tanggung jawab berarti mengabaikan tanda-tanda Ilahi yang
hadir dalam alam.
Menurutnya, manusia yang memiliki kesadaran tauhid tidak akan memperlakukan
alam secara kasar. Sebab, ke mana pun manusia menghadap, ia sesungguhnya
berhadapan dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Alam semesta adalah ruang tempat
manusia membaca ayat-ayat Allah yang terbentang.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengingatkan agar sivitas akademika
tidak hanya mengandalkan nalar dalam membangun ilmu pengetahuan. Akal,
riset, laboratorium, dan teknologi harus berjalan bersama kesadaran spiritual.
“Iqra’ harus disertai bismirabbik.
Membaca
tanpa menyebut nama Tuhan hanya akan melahirkan monster,” ujarnya.
Sebelumnya,
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menyampaikan bahwa kehadiran
Menteri Agama menjadi kesempatan penting bagi keluarga besar UIN Sunan Kalijaga
untuk memperoleh tausiyah, wejangan, sekaligus wawasan keagamaan yang dapat
menjadi pedoman bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan umat Islam
secara umum.
Menurut
Rektor, pesan ekoteologi tersebut sejalan dengan semangat UIN Sunan Kalijaga
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya unggul secara akademik,
tetapi juga memiliki kedalaman etik dan spiritual.
Ceramah
ini menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak cukup dijawab dengan
teknologi dan regulasi. Lebih dari itu, manusia membutuhkan perubahan cara
pandang. Alam tidak boleh lagi dilihat semata sebagai sumber daya yang bisa
diambil tanpa batas, melainkan sebagai manifestasi Tuhan yang menuntut sikap
hormat, kasih, dan tanggung jawab.
Dengan
cara pandang tersebut, menjaga lingkungan bukan hanya agenda sosial dan
ekologis, tetapi juga bagian dari penghayatan iman. Ekoteologi menuntun manusia
untuk tidak sekadar hidup di alam, tetapi hidup bersama alam dengan kesadaran
bahwa seluruh semesta adalah pancaran kebesaran Allah. (humassk)