Momentum halal bihalal di lingkungan kampus tidak sekadar menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga ruang refleksi untuk meneguhkan kembali nilai-nilai keilmuan dan integritas akademik. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Dosen dan Tenaga Kependidikan yang dirangkaikan dengan halal bihalal di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (1/4/2026), di Gedung Pusat Administrasi Umum (PAU).
Di hadapan segenap pimpinan dan pegawai, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Machasin, dalam paparannya menekankan pentingnya menjaga kemurnian ilmu pengetahuan di tengah berbagai capaian akademik yang terus diraih perguruan tinggi.
Ia mengangkat prinsip hidup yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga, yakni “mengikuti aliran air, tetapi tidak terbawa arus”. Menurutnya, prinsip tersebut relevan dalam kehidupan akademik saat ini, bahwa perkembangan zaman perlu diikuti, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar keilmuan.
“Prestasi itu penting dan perlu terus dijaga. Namun, capaian tersebut harus senantiasa dibarengi dengan komitmen pada integritas akademik, termasuk kejujuran dalam penulisan karya ilmiah dan penghargaan terhadap sumber keilmuan,” ujarnya.
Menurutnya, integritas merupakan fondasi utama dunia akademik. Mengutip pemikiran Muhammad Iqbal, ia menyebut bahwa salah satu cara memperkuat kepribadian adalah dengan menghasilkan karya yang kreatif dan orisinal. Karena itu, praktik plagiasi dinilainya sebagai pelanggaran serius yang tidak boleh ditoleransi di lingkungan perguruan tinggi.
Selain integritas akademik, Dosen S3 Studi Islam Pascasarjana ini juga mengajak civitas akademika untuk memaknai kembali esensi memaafkan. Menurutnya, memaafkan bukan semata respons atas permintaan maaf orang lain, melainkan kebutuhan batin untuk mencapai kedamaian.
“Hari ini saya memutuskan untuk memaafkan, bukan karena orang lain pantas dimaafkan, tetapi karena jiwa kita membutuhkan ketenangan,” ungkapnya.
Ia mengutip pesan Al-Qur’an bahwa kebaikan dan keburukan tidaklah sama, sehingga keburukan seharusnya dibalas dengan kebaikan. Sikap tersebut, lanjutnya, dapat mengubah permusuhan menjadi kedekatan dan kehangatan.
Dalam refleksinya, Prof. Machasin juga menyinggung pandangan Soekarno tentang pentingnya tempaan dalam kehidupan. Ia menggambarkan bahwa kehidupan yang terlalu nyaman justru tidak akan melahirkan ketangguhan. Dalam kisah Mahabharata, Astina dilukiskan sebagai negeri yang serba “cukup”, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, dan segala sesuatunya terasa menenangkan. Namun, menurutnya, kondisi semacam itu bukanlah ruang yang ideal untuk membentuk karakter yang kuat.
Ia menegaskan bahwa bangsa ini justru membutuhkan ruang tempaan layaknya “kawah candradimuka”, tempat setiap individu diuji, jatuh, dan bangkit kembali menjadi pribadi yang lebih tangguh. “Kalau semuanya serba memanjakan, kita tidak akan pernah kuat. Jatuh bangun itu bagian dari proses,” ujarnya.
“Kita tidak bisa menjadi kuat jika selalu berada dalam kondisi yang serba nyaman. Tantangan justru menjadi ruang pembentukan diri,” katanya.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, menurutnya, menjadi penting kalangan terdidik untuk tetap hadir dan mengambil tanggung jawab ketika nilai kebenaran mulai diabaikan.
“Ketika kebenaran dilecehkan dan keburukan merajalela, orang berilmu harus tampil. Ilmuwan bekerja sesuai kecakapannya dan tidak boleh kehilangan arah,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UIN Sunan Kalijaga tidak hanya memperkuat ikatan kebersamaan antarpegawai, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen sebagai institusi pendidikan tinggi yang menjunjung tinggi integritas, keilmuan, dan nilai-nilai kemanusiaan.(humassk)