WhatsApp Image 2026-03-15 at 09.29.09.jpeg

Sabtu, 14 Maret 2026 14:15:00 WIB

0

Kolaborasi dengan Sejumlah Perguruan Tinggi, FUPI UIN Jogja Gelar Sekolah Lintas Iman Bahas Kesehatan Mental dalam Perspektif Berbagai Agama

Di tengah meningkatnya kasus kesehatan mental yang juga dialami banyak generasi muda, termasuk mahasiswa, peran agama menjadi semakin relevan. Tidak hanya berbicara tentang ritus dan praktik keagamaan, agama-agama dengan berbagai pandangannya diyakini mampu menawarkan pendekatan yang lebih holistik dalam memahami dan merawat kesehatan mental manusia.

Untuk itu, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Sanata Dharma, dan DIAN/Interfidei menyelenggarakan Sekolah Lintas Iman (SLI) angkatan XVII. Program ini secara resmi dibuka pada Sabtu (14/2/2026) di kantor Institut DIAN/Interfidei dan menghadirkan rangkaian pertemuan yang membahas berbagai isu strategis dalam dialog lintas iman.


Dalam salah satu rangkaian kegiatan tersebut, isu kesehatan mental yang kian marak menjangkiti generasi muda, khususnya mahasiswa di era digital, menjadi sorotan utama pada pertemuan yang digelar pada Sabtu (14/3/2026). Pertemuan bertema “Agama dan Kesehatan Mental di Era Digital: Tantangan dan Pendekatan Holistik di Perguruan Tinggi Berbasis Agama” ini berlangsung di Smart Room lantai II Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan diikuti para peserta SLI, terutama mahasiswa semester enam Program Studi Studi Agama-Agama FUPI UIN Sunan Kalijaga.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang agama berbeda: Pdt. Nani Minarni, S.Si., M.Hum. (Kristen), Romo Y.B. Prasetyantha (Katolik), dan Roni Ismail (Islam). Ketiganya sepakat bahwa institusi pendidikan berbasis agama harus bertransformasi dalam memberikan dukungan mental bagi mahasiswa yang kini kerap terjebak dalam tekanan dunia digital.

Dari perspektif Islam,  Dosen Prodi Studi Agama – Agama FUPI UIN SUKA, Roni Ismail, S.Th.I., M.S.I., menjelaskan pentingnya konsep Qalbun Salim atau hati yang bersih. Bahwasanya kesehatan mental dalam Islam dicapai melalui tahapan takhalli (pembersihan sifat negatif), tahalli (penanaman sifat positif), dan tajalli (merasakan kehadiran Tuhan). 

Menurut Roni, nilai-nilai tersebut juga menjadi bagian dari pendekatan pembinaan mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga. Salah satunya diwujudkan melalui berbagai program penguatan kecerdasan emosi dan spiritual, termasuk workshop bagi mahasiswa baru yang bertujuan membantu mereka membangun kesehatan mental yang lebih baik sejak awal masa studi.

Dalam kesempatan yang sama, Pdt. Nani Minarni memaparkan pengalaman Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dalam menerapkan pendekatan Bio-Psycho-Social-Spiritual (BPSS). Menurutnya, pascapandemi COVID-19, pendekatan pastoral tradisional yang hanya mengandalkan doa tidak lagi mencukupi untuk menangani kasus kompleks seperti bipolar atau percobaan bunuh diri.

"Manusia adalah pribadi utuh yang terdiri dari fisik, jiwa, dan roh. Kami mengembangkan layanan yang mengintegrasikan peran pendeta, psikolog, hingga psikiater untuk membangun culture of care di kampus," ujar Pdt. Nani.

Senada dengan hal tersebut, Romo Y.B. Prasetyantha menyoroti fenomena Homo Digitalis. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 35% Generasi Z menghabiskan lebih dari dua jam sehari di media sosial, yang sering kali memicu rasa tidak aman dan depresi. Melalui konsep Cybertheology, Romo Prasetyantha menekankan bahwa internet harus dimaknai sebagai ruang baru untuk mencari makna hidup, namun tetap memerlukan refleksi kritis agar relasi yang terbangun tetap otentik dan tidak manipulatif.

Menanggapi kegiatan ini, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Abdur Rozaki, menyambut baik keberlanjutan program. Menurutnya, kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa, terutama sebagai ruang untuk saling belajar dan membangun pengalaman bersama dalam dialog lintas iman.

Ia menambahkan, tema yang diangkat dalam kegiatan ini juga semakin relevan karena tidak lagi terbatas pada persoalan ritual keagamaan semata, melainkan menyentuh isu-isu kontekstual yang dihadapi masyarakat saat ini, seperti kesehatan mental.

Nada yang sama disampaikan Dekan FUPI, Prof. Dr. Robby Habiba Abror, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk belajar memahami keragaman perspektif agama sekaligus merespons isu-isu aktual yang dihadapi masyarakat.

Kegiatan ini juga, menurutnya tidak hanya mengajarkan mahasiswa perbedaan tradisi keagamaan, tetapi juga diajak melihat bagaimana nilai-nilai spiritual dari berbagai agama dapat menjadi sumber kekuatan dalam merespons persoalan kemanusiaan, termasuk kesehatan mental,

Kegiatan ini menunjukan bahwa agama memiliki peran krusial sebagai sumber kekuatan dan makna di tengah tantangan zaman. Perguruan tinggi berbasis agama memikul tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental melalui layanan konseling profesional, komunitas yang inklusif, dan edukasi penggunaan teknologi yang bijak. (humassk)