Riset tidak pernah berhenti pada penelitinya. Ia menemukan maknanya ketika dipublikasikan, berdampak menjangkau kehidupan, memberi solusi, dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dalam lanskap inilah capaian peneliti muda UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrul Nurkolis, menjadi relevan. Ia dianugerahi dua Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sekaligus, sebagai Magister Ilmu Biomedis dengan publikasi jurnal ilmiah terindeks Scopus terbanyak serta pemegang hak paten terbanyak pada bidang yang sama.
Penghargaan tersebut diserahkan pada Senin (6/4/2026) di Gedung Museum Rekor Indonesia (MURI), Jakarta, oleh Wakil Direktur Utama MURI Osmar Semesta Susilo, dan disaksikan oleh pendiri Yayasan, Prof. Dr. Jaya Suprana.
Pengenaugerahan ini tidaklah mengherankan. Hingga saat ini, Fahrul telah menghasilkan sekitar 178 artikel terindeks Scopus dan 10 paten sederhana yang telah memperoleh status granted. Baginya, capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang tidak berdiri sendiri.
“Capaian ini tentu bukan kerja individu semata, melainkan hasil kolaborasi dengan banyak mentor, kolega, dan tim riset yang luar biasa,” ujar Fahrul.
Ia menekankan, konsistensi dalam berkarya tidak lahir dari motivasi sesaat, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari. Rasa ingin tahu, menurutnya, menjadi bahan bakar utama yang membuat riset terasa sebagai kebutuhan, bukan beban. Di sisi lain, lingkungan kolaboratif menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya karya-karya besar.
“Di balik itu semua juga ada fase lelah dan ragu, tetapi yang terpenting adalah tetap memilih untuk berjalan,” katanya.
Secara keilmuan, sebagian besar riset Fahrul berfokus pada pengembangan natural products, functional food, serta penyakit metabolik seperti diabetes. Fokus ini tidak hanya berhenti pada publikasi akademik, tetapi diarahkan untuk mendukung pengembangan terapi berbasis bahan alam Indonesia yang lebih terjangkau, sekaligus memperkuat pendekatan preventive medicine.
Dalam konteks yang lebih luas, capaian ini juga menghadirkan pesan penting mengenai kualitas lulusan perguruan tinggi, termasuk Perguruan Tinggi Keagamaan. Fahrul menilai, kualitas tidak dapat direduksi pada label institusi semata.
“Kualitas ditentukan oleh integritas, kerja keras, dan kontribusi nyata. Jangan sibuk membuktikan ke orang lain, cukup fokus membangun kapasitas diri, dan biarkan karya yang berbicara,” ujarnya.
Dalam perjalanannya sebagai peneliti, Fahrul yang juga merupakan alumni Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga ini juga menyoroti peran kampus ini sebagai ruang pembentukan karakter keilmuan yang utuh. Ia menilai, lingkungan akademik kampus tidak hanya menekankan capaian ilmiah, tetapi juga menanamkan nilai integritas dan spiritualitas dalam proses pencarian ilmu.
Menurut dia, pendekatan tersebut membentuk cara berpikir yang tidak semata ilmiah, melainkan juga humanis, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang secara akademik maupun personal.
“Di sana saya belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk memberi manfaat dan keberkahan bagi banyak orang,” ujarnya.
Capaian ini sekaligus mempertegas bahwa penguatan riset di lingkungan kampus tidak hanya diarahkan pada peningkatan publikasi, tetapi juga pada relevansi dan dampaknya bagi masyarakat. Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, kerja-kerja ilmiah yang terhubung dengan kebutuhan nyata menjadi kunci untuk memperluas kontribusi perguruan tinggi di tingkat nasional maupun global.(humassk)