1002061043.jpg

Sabtu, 02 Mei 2026 10:21:00 WIB

0

Upacara HARDIKNAS UIN Sunan Kalijaga, Kolaborasi Jadi Kunci Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum penting untuk menengok kembali jejak perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi masyarakat pribumi pada masa kolonial, yang saat itu belum memperoleh kesempatan belajar secara setara. 

Di tengah keterbatasan, pendidikan diperjuangkan sebagai jalan untuk membebaskan, mencerdaskan, dan mengubah nasib. Karena itu, Hardiknas menjadi ruang refleksi, bahwa pendidikan hari ini berdiri di atas ikhtiar panjang, sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk terus melanjutkannya demi masa depan yang lebih berkeadilan.

Dalam rangka itulah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026), di halaman Gedung Pusat Administrasi Umum (PAU). Upacara diikuti oleh seluruh civitas akademika, mulai dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga petugas keamanan.


Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, bertindak sebagai pembina dalam upacara yang berlangsung khidmat. Para peserta mengenakan beragam busana adat dari berbagai daerah, menghadirkan nuansa kebhinekaan yang mencerminkan semangat pendidikan yang berakar pada nilai-nilai budaya serta pentingnya merawat identitas dalam pembentukan karakter bangsa.

Dalam amanatnya, Rektor menyamaikan pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, yang menegaskan bahwa peringatan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali arah dan makna pendidikan nasional.

“Pendidikan pada hakikatnya adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih sayang untuk memanusiakan manusia. Pendidikan adalah proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah serta potensi manusia sebagai makhluk Tuhan yang mulia,” demikian disampaikan dalam amanat tersebut.

Pidato itu juga mengingatkan kembali pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang sistem among, yakni asah, asih, asuh, yang menjadi fondasi pendidikan Indonesia. Pendidikan, dalam perspektif ini, tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan pendampingan yang utuh.

Lebih lanjut, pendidikan diposisikan sebagai upaya strategis dalam membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, serta bertanggung jawab. “Pendidikan menjadi instrumen utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, kuat, dan berdaya saing global,” ungkapnya.

Untuk itu, ditetapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai program prioritas. Pendekatan ini, lanjut Rektor. diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara substantif, tidak hanya berfokus pada capaian kognitif, tetapi juga pada pemahaman yang utuh dan kontekstual.

“Dalam implementasinya, terdapat lima kebijakan strategis yang menjadi penopang utama. Pertama, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan serta digitalisasi pembelajaran guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan memadai. Kedua, pemenuhan kualifikasi serta peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru sebagai aktor kunci Pendidikan.” Papar Prof. Noorhaidi.

Kebijakan lainnya adalah penguatan karakter melalui penciptaan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari perundungan serta kekerasan, baik secara fisik, sosial, maupun spiritual; peningkatan kualitas pembelajaran melalui penguatan literasi, numerasi, serta pengembangan bidang STEM dan Tes Kemampuan Akademik (TKA); serta perluasan akses pendidikan yang inklusif melalui layanan yang mudah, terjangkau, dan fleksibel.

Menutup amanatnya, Rektor menekankan bahwa keberhasilan kebijakan pendidikan sangat ditentukan oleh tiga elemen utama, yakni mindset yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus. Tanpa ketiganya, kebijakan hanya akan berhenti sebagai formalitas administratif tanpa dampak nyata.

“Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari kita perkuat kerja sama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua menuju Indonesia yang cerdas, maju, dan bermartabat,” pungkasnya.

Upacara Hardiknas ini juga menjadi ruang jeda yang reflektif bagi UIN Sunan Kalijaga, sebuah kampus tempat puluhan ribu mahasiswa datang, belajar, lalu menuntaskan perjalanan akademiknya menuju gelar kesarjanaan. Namun, di balik capaian itu, ada proses panjang yang tak kasatmata, bagaimana ilmu ditempa, nilai ditanamkan, dan kesadaran sosial dibangun perlahan.

Di sanalah semangat empowering knowledge, shaping the future menemukan maknanya, bahwa pendidikan adalah ikhtiar untuk membentuk masa depan, melalui manusia-manusia yang siap memberi arti.(humassk)0