Di tengah arus modernisasi dan budaya digital yang bergerak cepat, mahasiswa di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menghadirkan kembali denyut tradisi Nusantara melalui Pameran Informasi dalam Konteks Sosial (IDKS) 2026. Mengusung tema “Jejak Keajaiban Nusantara: Menelusuri Tradisi Indonesia”, pameran ini mengajak pengunjung menyusuri ragam tradisi lokal yang mulai jarang dikenal, sekaligus menegaskan peran generasi muda dalam merawat warisan budaya bangsa.
Pameran IDKS merupakan agenda tahunan Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga yang telah diselenggarakan sejak 2013 sebagai luaran mata kuliah Informasi dalam Konteks Sosial (IDKS). Setiap tahun, kegiatan ini mengangkat tema berbeda dengan fokus pada pelestarian budaya melalui pendekatan riset lapangan dan pengemasan informasi secara kreatif.
Tahun ini, sekitar 150 mahasiswa semester 4 terlibat dalam penyelenggaraan pameran yang menampilkan 13 booth budaya dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Jawa Barat. Beragam tradisi yang mulai jarang dikenal masyarakat dihadirkan kembali, di antaranya Mreti Tuk Umbul, Debus Banten, Ruwatan, Pek Bung, Sarapan Bekakak, Mbang Gadungan, Tradisi Badud, Tebu Manten, Kupatan Tanjolosutro, Ngeuyeuk Seureuh, Baja Puik, Dandan Kali, hingga Wiwitan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk terjun langsung ke masyarakat guna mengidentifikasi tradisi yang mulai langka, melakukan pengumpulan data dari sumber pertama (primary source), kemudian mengemas ulang informasi tersebut dalam bentuk pameran budaya yang komunikatif dan edukatif.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Abdur Rozaki. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kerja keras dosen pengampu dan mahasiswa yang telah mencurahkan waktu serta tenaga dalam menyelenggarakan pameran budaya tersebut.
Menurutnya, kegiatan perkuliahan tidak seharusnya terbatas pada aktivitas di dalam kelas, tetapi juga dapat dikembangkan melalui semangat pencarian ilmu pengetahuan, mempertajam nalar, memperkuat empati, dan menelusuri jejak budaya masyarakat.
“Pameran ini menjadi wajah menarik UIN Sunan Kalijaga di tengah masyarakat. Harapannya kegiatan seperti ini tidak hanya dikenal di lingkungan internal kampus, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat luas agar semakin banyak yang mengenal budaya Nusantara,” ujarnya.
Acara pembukaan turut dihadiri Dekan FADIB UIN Sunan Kalijaga beserta jajarannya, serta para dosen di lingkungan FADIB.
Dosen pengampu mata kuliah IDKS, Dr. Labibah Zain, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap keberagaman budaya Indonesia sekaligus memperkuat pemahaman mengenai fungsi perpustakaan sebagai institusi preservasi budaya.
Ia menuturkan bahwa masyarakat selama ini sering memandang perpustakaan hanya sebagai tempat penyimpanan buku dan koleksi fisik. Padahal, perpustakaan juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan serta tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, mahasiswa sebagai calon pustakawan dibekali kemampuan melakukan preservasi budaya melalui riset kecil (mini research), interaksi dengan narasumber dan pelaku budaya, pengemasan informasi dalam bentuk pameran, kerja tim, hingga kemampuan problem solving dan komunikasi publik.
Tidak hanya menghadirkan pameran budaya, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni oleh mahasiswa, seperti tarian, drama, dan stand up comedy.
Sementara itu, perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, Sri Ambarwati, menyampaikan apresiasinya terhadap kreativitas mahasiswa dalam mengemas ulang informasi budaya menjadi pameran yang menarik dan mudah dinikmati masyarakat.
Ia menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam preservasi budaya dan menjaga memori kolektif bangsa yang sarat nilai-nilai adiluhung. Menurutnya, perpustakaan tidak hanya bertugas menyebarkan informasi, tetapi juga mengemas ulang informasi agar lebih dekat dengan generasi muda.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan literasi budaya di era digital. Tantangan pelestarian budaya saat ini, menurutnya, menuntut kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi serta kecerdasan dalam berliterasi.
“Pustakawan sebagai penyebar informasi harus bijak dan selektif dalam memilih informasi yang dibagikan kepada masyarakat, serta memastikan informasi tersebut tervalidasi dan bermanfaat bagi publik,” ungkapnya. (humassk)