Di tengah khidmat prosesi wisuda, kisah Fithrunnada Salma Shabrina (Salma) menjadi salah satu potret kuat tentang makna pendidikan inklusif. Salma merupakan mahasiswa dengan disibilitas intelektual (down syndrome) dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Salma tidak hanya meraih gelar sarjana, tetapi juga menorehkan kebanggaan keluarga menjadi sarjana kedua di rumahnya, menyusul sang adik.
“Kelulusan ini berarti saya berhasil menyusul adik saya menjadi sarjana. Kini kami berdua menjadi kebanggaan keluarga,” ujar Salma dengan penuh haru.
Bagi Salma, perjalanan akademik bukanlah hal yang mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi justru datang dari lingkungan sosial, ketika tidak semua orang memahami kondisi difabel yang ia miliki. Namun, semangatnya tak pernah padam.
“Yang membuat saya tetap bersemangat adalah dukungan dari orang tua, keluarga besar, dan teman-teman,” tuturnya.
Dukungan tersebut juga tecermin dalam keseharian di kampus. Salma mengaku sangat menikmati masa kuliah, terutama saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan kegiatan Praktikum Pekerjaan Sosial (PPS) yang meninggalkan kesan mendalam. Selain itu, ruang interaksi di Pusat Layanan Difabel (PLD) menjadi tempat yang penuh kenangan.
“Momen paling berkesan adalah saat bermain dan berkumpul bersama teman-teman di PLD sambil menunggu jam kuliah berikutnya,” kenangnya.
Sebagai mahasiswa difabel, Salma merasakan langsung kehadiran kampus yang inklusif. Ia menilai dukungan dari dosen dan Pusat Layanan Difabel sangat membantu dalam menjalani proses perkuliahan.
“Peran kampus sangat bagus, terutama bapak ibu dosen dan PLD yang selalu mendukung kebutuhan saya,” ungkapnya.
Kehadiran layanan PLD menjadi bukti komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua mahasiswa tanpa terkecuali.
Di balik keberhasilan Salma, ada peran besar keluarga yang setia mendampingi. Orang tua Salma mengaku sempat diliputi rasa khawatir saat anaknya pertama kali memulai kuliah.
“Kami sempat tidak percaya diri dan khawatir apakah anak kami bisa mengikuti perkuliahan, juga bagaimana lingkungan pertemanannya,” ungkapnya.
Masa awal kuliah yang berlangsung secara daring saat pandemi Covid-19 justru menjadi kesempatan bagi keluarga untuk memberikan pendampingan penuh di rumah. Mereka secara konsisten membantu Salma memahami materi dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.
Kini, kekhawatiran itu berubah menjadi rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam.
“Kami sangat bahagia dan bersyukur, akhirnya sampai di titik ini,” ujar orang tua Salma.
Kisah Salma tidak hanya menjadi cerita personal, tetapi juga pesan sosial yang kuat tentang pentingnya pendidikan inklusif. Keluarganya berharap masyarakat semakin terbuka dan memberi ruang bagi anak difabel untuk berkembang.
“Beri ruang anak difabel untuk belajar dan berkembang bersama anak-anak lain sesuai kemampuannya,” pesan mereka.
Kisah Salma menjadi cerminan bahwa dengan dukungan keluarga, lingkungan kampus yang inklusif, serta semangat yang tak padam, keterbatasan bukan penghalang untuk meraih prestasi. Di UIN Sunan Kalijaga, inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan nyata hadir dalam setiap langkah mahasiswa menuju masa depan. (humassk)