Mengisi masa jeda semester, Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga sekaligus Associate Director Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Prof. Alimatul Qibtiyah, M.A., Ph.D., melaksanakan tugas penelitian intensif di China Confucius Research Institute yang berbasis di Qufu, Provinsi Shandong, China. Kegiatan akademik mancanegara ini berlangsung selama dua bulan penuh, mulai dari 1 Juli hingga 31 Agustus 2026.
Prof. Alimatul, yang juga merupakan pengurus dan anggota Pimpinan Pusat 'Aisyiyah serta Muhammadiyah, terpilih sebagai salah satu akademisi internasional dalam program bergengsi Qilu Visiting Study and Residency Research Program. Program residensi riset ini bersifat fully funded (didanai penuh) dan menjadi wadah bagi para sarjana dunia untuk mendalami kekayaan peradaban, filsafat, serta interaksi sosial-keagamaan.
Mengawali hari pertama kedatangannya, Prof. Alimatul disambut langsung dengan penuh kehangatan oleh Pimpinan Tertinggi China Confucius Research Institute, Bapak Kong Deli (孔德立), yang menjabat sebagai Presiden (院长) sekaligus Wakil Sekretaris Komite institut tersebut. Penyambutan resmi ini diakhiri dengan jamuan makan malam formal yang sangat mengesankan, menyajikan estetika kuliner khas setempat yang sarat akan makna budaya.
Sebagai bagian dari agenda riset lapangannya, pada tanggal 10 Juli 2026, Prof. Alimatul melakukan kunjungan ke Masjid Qufu di Shandong. Di sana, ia mengabadikan potret penting mengenai konsep kerukunan sejarah Islam di Tiongkok. Salah satu dokumentasi memperlihatkan semboyan yang terpahat di dinding masjid, yaitu "伊儒会通" (Yi Ru Hui Tong) yang berarti "Integrasi dan Titik Temu antara Islam dan Konfusianisme", serta "以儒诠经" (Yi Ru Quan Jing) yang bermakna "Menjelaskan Al Qur’an Menggunakan Perspektif Konfusianisme". Papan tersebut merekam jejak sejarah para ulama Muslim Tiongkok terdahulu yang secara harmonis mendialogkan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal.
Menariknya, konsep integrasi budaya tersebut juga sejalan dengan dokumentasi kedua yang ia temukan di lokasi, yakni sebuah plakat kutipan pidato resmi Presiden China, Xi Jinping. Dalam kutipan tersebut, Xi Jinping menegaskan bahwa peradaban Tiongkok bersifat inklusif karena selalu terbuka untuk saling belajar dengan peradaban lain, di mana hubungan erat antara Islam dan Konfusianisme (Yi Ru Hui Tong) secara eksplisit diakui dalam pidato kenegaraan tersebut.
Melalui kegiatan residensi dan penelitian ini, Prof. Alimatul berharap dapat membawa perspektif baru terkait studi kerukunan, gender, dan dialog antar-iman ke tanah air. Mengingat Prof Alim juga sebagai aktivis di PSW da KIJ UIN Sunan Kalijaga tentu saja dari pengalaman akademik ini sekaligus memperkuat jejaring internasional UIN Sunan Kalijaga, ICRS, serta persyarikatan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam kancah pemikiran global yang inklusif dan berkemajuan.