Prestasi akademik tidak selalu lahir hanya dari kemampuan individu. Di baliknya, terdapat lingkungan belajar yang memberikan ruang untuk berkembang, dosen yang mendampingi, fasilitas yang mendukung, serta kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan potensinya. Hal tersebut tecermin dalam perjalanan Hanny Handayani Sucinta, Wisudawan Terbaik Tercepat Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 dari Program Magister Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dengan IPK 3,85, Hanny menyelesaikan studi magisternya setelah melalui proses akademik yang membawanya makin dekat dengan bidang yang kini menjadi passion-nya, yakni kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Tidak hanya mendalami AI secara akademik, selama menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ia juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan riset, berkolaborasi lintas perguruan tinggi, mengikuti forum akademik, hingga menghasilkan inovasi yang memperoleh HAKI.
Bagi Hanny, keberhasilan menyelesaikan studi menjadi pencapaian yang sangat berarti. Namun, lebih dari sekadar gelar dan prestasi akademik, ia memandang kelulusannya sebagai buah dari perjalanan yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih matang.
“Alhamdulillah, pastinya sangat bersyukur dan lega. Menyelesaikan studi magister ini adalah perjalanan akademik yang sangat berkesan dan benar-benar mendewasakan cara berpikir saya,” ungkap Hanny.
Ia juga mempersembahkan pencapaian tersebut bagi orang tua dan keluarga yang selama ini memberikan doa dan dukungan.
“Namun, kebanggaan terbesar saya justru ada pada momen saat saya bisa mempersembahkan pencapaian ini untuk orang tua dan keluarga saya, sebagai balasan kecil atas semua doa dan pengorbanan mereka,” tuturnya.
Perjalanan Hanny dalam dunia AI tidak serta-merta dimulai sejak awal. Ia bahkan mengaku sempat merasa salah jurusan ketika menempuh pendidikan sarjana. Ketertarikannya terhadap AI justru semakin menemukan bentuk ketika melanjutkan studi magister di UIN Sunan Kalijaga.
“Dulu sewaktu S-1, saya mengambil mata kuliah AI murni cuma karena tidak ingin menyusahkan teman-teman seperjuangan saat tugas kelompok. Bahkan sampai menjelang lulus S-1 pun, saya masih sering merasa salah jurusan,” kenangnya.
Memasuki jenjang magister, pengalaman akademiknya berubah. Ia menemukan bidang yang membuatnya merasa benar-benar menikmati proses belajar dan penelitian.
“Ternyata, tanpa saya sadari, passion dan minat terbesar saya memang ada di bidang AI ini,” katanya.
Bagi Hanny, menemukan bidang yang sesuai dengan minat menjadi salah satu pengalaman penting selama berkuliah. Proses penelitian yang panjang justru memberinya kepuasan ketika berhasil menemukan sesuatu yang baru dan bermanfaat.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan tidak hanya berperan dalam memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu mahasiswa mengenali potensi dan menemukan bidang yang ingin dikembangkan lebih jauh.
Hal tersebut pula yang dirasakan Hanny selama berada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menurutnya, kampus memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk berkembang, termasuk melalui dukungan fasilitas, pendampingan dosen, pendanaan penelitian, serta kesempatan untuk mempublikasikan dan mengembangkan karya.
“Kalau bisa disimpulkan dalam satu kalimat, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta benar-benar memfasilitasi semuanya dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Menurut Hanny, dukungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terhadap pengembangan mahasiswa tidak hanya terlihat dari fasilitas fisik, tetapi juga dari kultur akademik yang mendorong mahasiswa untuk berani mencoba dan menghasilkan karya.
Salah satu fasilitas yang mendukung proses risetnya adalah High Performance Computer (HPC). Fasilitas tersebut memungkinkan mahasiswa melakukan komputasi tingkat tinggi yang dibutuhkan dalam pengembangan riset AI.
Namun, fasilitas tersebut bukan satu-satunya faktor yang membuat Hanny dapat mengembangkan potensinya. Ia juga merasakan kuatnya dukungan dosen dalam proses akademik dan penelitian, termasuk dorongan untuk mengikuti konferensi, mempublikasikan hasil riset, serta mendaftarkan karya sebagai HAKI.
Bagi Hanny, dukungan tersebut menciptakan rasa aman bagi mahasiswa untuk bereksperimen dan mengembangkan gagasan.
“Fasilitas yang serba ada dan all-in ini membuat kami para mahasiswa merasa aman dan berani untuk berinovasi, karena semua ruang dan dukungannya sudah disediakan dengan sangat baik,” ujarnya.
Melalui ekosistem tersebut, Hanny tidak hanya mengembangkan kemampuan akademiknya, tetapi juga belajar melihat teknologi secara lebih luas. Ia menyebut UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajarkannya bahwa Informatika tidak harus berdiri sendiri, melainkan dapat menjadi alat untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan di bidang lain.
“Saya merasa kampus benar-benar mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi problem solver yang adaptif di dunia nyata,” katanya.
Pengalaman tersebut tecermin dalam keterlibatan Hanny pada sejumlah riset kolaboratif. Salah satunya adalah penelitian kesiapsiagaan bencana bersama Universitas Indonesia.
Dalam penelitian tersebut, Hanny dan tim UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkontribusi dalam pengembangan Decision Support System dengan melihat kebutuhan nyata di lapangan. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan perspektif baru bahwa teknologi harus dikembangkan berdasarkan persoalan dan kebutuhan pengguna.
“Saya jadi benar-benar paham bahwa merancang sistem respons bencana tidak bisa sekadar berbasis teori di laboratorium, tapi kita harus mau turun langsung mendengarkan apa yang sebenarnya menjadi kendala instansi penanggulangan bencana di lapangan,” jelasnya.
Pengalaman kolaborasi tersebut sekaligus memperkuat pandangannya mengenai pentingnya keterbukaan lintas disiplin. Ia melihat lingkungan akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendorong mahasiswa untuk tidak terjebak dalam sekat keilmuan.
Menurut Hanny, pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Teknologi dapat dipertemukan dengan bidang pertanian, lingkungan, sosial, maupun kemasyarakatan untuk menghasilkan solusi yang lebih relevan.
“Sangat mendukung. Jujur saja, ekosistem di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta inilah yang pada akhirnya membentuk cara berpikir saya menjadi jauh lebih terbuka,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengalaman belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga membuatnya melihat hubungan antara teknologi, norma sosial, dan nilai keagamaan.
“Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saya belajar memadukan inovasi teknologi dengan norma sosial dan keagamaan,” katanya.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Hanny untuk melanjutkan perjalanan setelah menyelesaikan studi. Ia telah diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Cikarang dan akan mengajar di Pekanbaru.
Langkah tersebut menjadi kelanjutan dari minatnya pada dunia akademik dan penelitian. Sebagai dosen sekaligus peneliti, ia ingin terus memperluas wawasan, mengeksplorasi berbagai bidang ilmu, dan membangun kolaborasi riset.
Ia membawa prinsip yang juga menjadi motto dalam tesisnya, “I wanna be a walking Encyclopedia.”
“Saya punya kehausan untuk mengeksplorasi ilmu seluas-luasnya,” ungkapnya.
Ke depan, Hanny berharap dapat membawa pengalaman akademiknya menuju ranah riset global dan terlibat dalam proyek-proyek kolaborasi internasional.
Kisah Hanny menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa dapat tumbuh ketika potensi individu bertemu dengan ekosistem akademik yang mendukung. Dukungan fasilitas, dosen, pendanaan, kesempatan berkolaborasi, publikasi, hingga pengembangan kekayaan intelektual menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk mahasiswa untuk tidak hanya menjadi lulusan, tetapi juga insan akademik yang siap memberikan kontribusi lebih luas.
Bagi mahasiswa yang tengah menjalani proses penelitian, Hanny berpesan agar tidak takut menghadapi kebuntuan dan terus memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berkembang.
“Merasa stuck saat meriset itu hal yang sangat wajar,” katanya.
Ia mengajak mahasiswa untuk tidak minder dan terus mencoba berbagai hal hingga menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan passion mereka.
“Apa pun yang terjadi, keep going. Jangan pernah lelah bereksperimen. Teruslah melangkah maju, and eventually, you'll find your home, tempat di mana passion dan diri kalian yang sesungguhnya berada,” pungkasnya. (humassk)