Sekitar 96 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memasuki panggung PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Mereka datang membawa nama kampus untuk bertanding dalam 20+ cabang olahraga, seni, dan ilmiah, bersama kontingen dari 17 PTKIN lainnya dari wilayah Jawa dan Madura.
Malam pembukaan, Rabu (9/9/2026), berlangsung riuh di Gedung Student Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Satu per satu kontingen dipanggil. Mereka memasuki gedung dengan atribut masing-masing, disambut musik dan sorak-sorai yang membuat suasana semakin semarak.
Di antara derap langkah para kontingen itu, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga hadir sebagai bagian dari perjumpaan besar mahasiswa PTKIN Wilayah Jawa dan Madura. Dari Yogyakarta, mereka datang membawa semangat bertanding, juga membawa rasa ingin tahu tentang pengalaman yang menanti di arena, tentang pertandingan yang menantang, perjumpaan dengan mahasiswa dari kampus lain, dan cerita yang kelak mungkin lebih lama diingat daripada hasil pertandingan.
Malam itu belum menjadi saat untuk menghitung siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kompetisi bahkan belum dimulai. Panggung masih menjadi tempat untuk memperkenalkan wajah PORSI JAWARA II 2026 yang mengusung “Energi Juara, Harmoni Nusantara”
Video tentang lambang kegiatan dipertontonkan, begitu juga maskot PORSI JAWARA II, Batbet, yang memadukan karakter burung hantu dan kelelawar. Identitas kegiatan diperkenalkan sebelum para peserta memasuki hari-hari panjang pertandingan.
Panggung lalu berganti suasana. Gerak tari kreasi mengisi ruang, disusul tari sufi yang membawa irama berbeda. Seni menjadi bagian dari cara PORSI JAWARA II menyambut para mahasiswa sebelum mereka bertemu dalam arena kompetisi.
Dari panggung itu, malam perlahan bergerak menuju pesan yang lebih dalam tentang apa yang hendak dicari dari sebuah pertandingan.
Di tengah riuh pembukaan, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan hadir bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Prof. Abdur Rozaki, Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama Dr. Muhammad Luthfi Hamid, serta sejumlah pimpinan universitas. Tidak ketinggalam, Direktur DIKTIS Prof. Sahiron turut menyaksikan perhelatan yang mempertemukan mahasiswa PTKIN dari berbagai penjuru Jawa dan Madura itu.
Sebagai tuan rumah, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., menyampaikan satu pernyataan yang terdengar sederhana, tetapi memberi warna pada seluruh perhelatan. “Saya pastikan tidak juara umum. Sebagai tuan rumah, saya bertekad fair dan sportif,” ujarnya.
Ia tidak ingin kemenangan menjadi satu-satunya tujuan. Piala memang akan diperebutkan, tetapi ada sesuatu yang menurutnya lebih panjang umurnya daripada sebuah trofi.
“Semangat yang tinggi dan sportivitas itu penting. Piala tentu menjadi kebanggaan, tetapi karakter dan persaudaraan jauh lebih luar biasa. Itulah nilai yang harus dibawa pulang dari setiap pertandingan,” katanya.
Di arena seperti PORSI JAWARA II, mahasiswa memang datang sebagai peserta yang akan saling mengalahkan. Namun, mereka juga datang dari ruang yang sama sebagai mahasiswa PTKIN. Pertandingan mempertemukan mereka sebagai lawan untuk sementara, sementara perjumpaan membuka kemungkinan menjadi kawan setelah pertandingan selesai.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Amien Suyitno kemudian mengingatkan mahasiswa agar tidak membatasi masa kuliah hanya pada ruang kelas dan capaian indeks prestasi.
PTKIN, kata dia, memiliki banyak talenta yang tumbuh melalui ruang yang berbeda. Ada mahasiswa yang menekuni sains dan riset, ada yang memilih olahraga, ada pula yang mengembangkan kemampuan melalui seni, termasuk seni baca Al-Qur’an dan tari.
Keragaman itu, menurut dia, akan semakin dibutuhkan ketika mahasiswa memasuki kehidupan setelah kampus.
Untuk itu masa kuliah, kata Prof. Amien, adalah waktu untuk mencoba banyak hal, berproses, berjuang, dan mengukir prestasi.
“Jangan sia-siakan, waktu tidak akan pernah kembali ke masa lalu, dan Anda harus menyiapkan hal ini,” ujarnya.
Prof. Amien meminta mahasiswa tidak takut berkompetisi. Namun, kemenangan tetap harus ditempuh dengan cara yang benar.
“Hari ini harus dirajut dengan prestasi,” katanya.
“Silakan bersaing secara sportif, jaga integritas.”
Setelah rangkaian sambutan berakhir, riuh di dalam ruangan perlahan ditelan gelap. Lampu padam, menyisakan layar besar di hadapan para peserta yang mulai menumpahkan cahaya dan warna. Kilatan-kilatan cahaya berpendar, bergerak dan berkejaran dengan visual di layar, seolah menandai datangnya sebuah peristiwa yang sejak tadi dinanti. Tepuk tangan pun pecah. Sorak mahasiswa memenuhi ruangan.
Di antara cahaya yang berpendar dan semangat yang tumpah dari seluruh penjuru arena, PORSI JAWARA II resmi dibuka.
Di luar gedung, denyut kegiatan juga terasa oleh masyarakat Pekalongan. Kehadiran peserta dari berbagai daerah membuat kota menjadi lebih ramai. Warung-warung dan usaha kecil ikut merasakan pergerakan orang yang datang untuk mengikuti perhelatan tersebut. Plt. Bupati Pekalongan Sukirman turut menyoroti dampak tersebut.
Malam kemudian beranjak. Musik berhenti, panggung kembali tenang, dan para mahasiswa bersiap menghadapi hari pertandingan.
Bagi kontingen UIN Sunan Kalijaga, 23 cabang lomba menjadi 23 ruang untuk menguji kemampuan. Ada pertandingan yang akan berakhir dengan kemenangan, ada pula yang mungkin berhenti lebih cepat dari yang diharapkan. Tetapi perjalanan mereka baru dimulai.
Kelak, ketika riuh arena mereda dan pertandingan selesai, yang dibawa pulang mahasiswa mungkin bukan semata piala atau nama yang tercatat sebagai juara. Ada pertandingan yang pernah diperjuangkan, perjumpaan yang pernah terjadi, dan persaudaraan yang tumbuh di antara keduanya. Sebab, di balik kompetisi, selalu ada ruang untuk bertumbuh.(humassk)