Waktu persiapan yang terbatas tidak membuat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berhenti berusaha. Di tengah kewajiban Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan jarak yang memisahkan anggota tim, dua tim dari UIN Sunan Kalijaga justru mampu mempersembahkan dua medali emas pada hari terakhir Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II 2026, Sabtu (12/9/2026).
Dua medali emas tersebut diraih melalui cabang Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dan Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ). Bagi kedua tim, kompetisi bukan berlangsung dalam kondisi yang sepenuhnya ideal. Waktu harus dibagi dengan kegiatan KKN, sementara latihan dan persiapan tetap harus berjalan.
Pada nomor MSQ, medali emas diraih Muhammad Satrio Mufid Mafendi dari Program Studi Bimbingan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, bersama Muhammad Ilham Aulia dari Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, serta Lukman Hakim dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Ketiganya bahkan baru pertama kali tampil sebagai satu tim. Mereka dipertemukan melalui proses seleksi yang dilakukan tim kemahasiswaan. Dalam penampilan tersebut, Mufid berperan sebagai pensyarah, Ilham sebagai pembaca tilawah, dan Lukman sebagai qari.
Persiapan mereka berlangsung di tengah KKN yang menempatkan masing-masing anggota di lokasi berbeda. Mufid berada di Kalimantan, sementara Ilham dan Lukman berada di Malang dan Yogyakarta. Kondisi tersebut membuat latihan tatap muka sulit dilakukan.
“Kami latihan secara virtual karena saat itu sama-sama KKN dan tempatnya berbeda-beda,” ujar Mufid.
Keterbatasan waktu dan jarak tidak berhenti pada tahap persiapan. Di arena lomba, tim MSQ harus bersaing dengan 15 tim pada babak penyisihan. Hanya enam tim yang berhak melaju ke final. Tim UIN Sunan Kalijaga berada di posisi kelima.
Hasil tersebut belum memberikan rasa aman bagi ketiganya. Namun, posisi di babak penyisihan justru mereka jadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki penampilan sebelum tampil di final.
Ilham mengatakan tim melakukan sejumlah perbaikan, termasuk pada power dan gaya tubuh, agar penampilan di babak final dapat lebih kuat.
“Posisi kelima tidak membuat kami patah semangat. Kami berusaha tampil lebih baik di final,” kata Ilham.
Persiapan MSQ tidak berhenti pada latihan penampilan. Setiap tim juga harus menyusun naskah berdasarkan tema yang dipilih. Naskah tersebut memuat dua data, dua ayat, serta dua penafsiran.
Pada babak penyisihan, tim UIN Sunan Kalijaga mengangkat tema revolusi mental dan karakter. Sementara pada babak final, mereka memilih tema etika bermedia sosial dan kecerdasan artifisial (AI).
Pesan tersebut kemudian dikemas dengan pendekatan yang lebih kreatif. Improvisasi dan unsur hiburan disisipkan untuk membangun penampilan yang epik.
Bagi Lukman, tampil dalam MSQ juga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan ketika mengikuti MTQ. Pada nomor yang biasa diikutinya, ia lebih banyak tampil dalam posisi duduk sehingga pengaturan napas terasa lebih panjang. Sementara dalam MSQ, ia harus tampil berdiri dan menjaga kesinambungan penampilan bersama dua anggota tim lainnya.
Perbedaan tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi mereka. Setelah melalui penyisihan dan memperbaiki sejumlah kekurangan, ketiganya akhirnya mampu menyelesaikan penampilan di babak final dengan hasil terbaik.
Menariknya, medali bukan target yang mereka pasang sejak awal. Setelah nyaris tidak lolos dari babak penyisihan, perhatian mereka lebih banyak tertuju pada evaluasi dan upaya memberikan penampilan terbaik.
“Kami sebenarnya tidak punya keyakinan akan mendapatkan medali emas, bahkan medali pun tidak terlalu kami pikirkan. Kami hanya berusaha mengevaluasi penampilan di penyisihan dan melakukan yang terbaik di final,” ujar Mufid.
Medali emas kemudian menjadi hasil dari proses tersebut. Bagi Mufid, pengalaman pertama tampil sebagai satu tim memberi pelajaran penting tentang bagaimana menyatukan karakter, ego, dan semangat masing-masing anggota untuk mencapai tujuan yang sama.
Cerita perjuangan serupa juga datang dari tim MFQ. Tiga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, yakni Fika Suni Salsabila dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, serta Syauqi Sirojuddin dan A. Royhan Hibatulloh dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, berhasil menempati posisi teratas.
Persiapan menghadapi MFQ juga berlangsung bersamaan dengan KKN. Waktu harus dibagi antara kewajiban di lokasi KKN dan latihan menghadapi kompetisi. Setelah kegiatan KKN selesai, persiapan kembali dilakukan untuk menghadapi pertandingan.
Syauqi mengatakan persiapan dilakukan secara intensif. Waktu latihan bahkan berlangsung hingga malam sehingga waktu istirahat harus dikurangi.
“Berhari-hari kami menyiapkan ini sampai malam, bahkan kurang tidur,” ujar Syauqi.
Bagi Fika, persaingan pada babak penyisihan juga membuat peluang meraih medali sulit diprediksi. Meski persiapan telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasil akhir tetap harus ditentukan melalui penampilan di arena.
“Perasaan kami senang, tidak menyangka juga. Walaupun effort yang kami lakukan luar biasa, untuk hasil medali kami sempat hopeless karena saat penyisihan sudah sangat alot. Tapi kami diberikan kemudahan hingga berhasil mendapatkan medali emas,” tutur Fika.
Dua medali emas pada hari terakhir PORSI JAWARA II 2026 tersebut menjadi hasil dari proses yang tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Bagi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, keterbatasan waktu justru menuntut mereka untuk lebih cermat membagi kesempatan antara KKN, latihan, dan persiapan kompetisi.(humassk)