Digelar secara luring dan daring, KICE 2026 mempertemukan lebih dari 200 peserta, yang terdiri atas dosen dan mahasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri. Forum ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan perspektif pendidikan dari berbagai negara sekaligus mendiskusikan bagaimana inovasi dapat membentuk masa depan pembelajaran.
KICE 2026 menjadi bagian dari upaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), dalam memperluas ruang pertukaran gagasan pendidikan melalui forum akademik berwawasan internasional. Kehadiran tiga keynote speaker dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri menghadirkan perspektif yang beragam mengenai bagaimana pendidikan perlu merespons perubahan teknologi, kebutuhan pembelajaran yang semakin kompleks, serta tuntutan untuk membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif.
Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Ag. dalam sambutannya menegaskan bahwa KICE menjadi platform penting untuk memperbarui perspektif dan praktik pendidikan, baik bagi dosen maupun mahasiswa.
Menurutnya, forum internasional semacam KICE memberikan kesempatan kepada dosen untuk memperkaya praktik pengajaran sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dan wawasan akademik secara langsung dari berbagai perspektif.
“Ini merupakan platform yang penting untuk memperbarui pembelajaran di kelas,” ujarnya.
Prof. Sigit juga mengajak peserta untuk merefleksikan kembali makna inovasi di tengah disrupsi teknologi, terutama dengan makin kuatnya kehadiran Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan akademik.
Pertanyaan yang perlu terus dikaji, menurutnya, bukan sekadar apakah teknologi membuat manusia menjadi lebih inovatif, tetapi seberapa inovatif para pendidik dan mahasiswa dalam menghadapi perubahan tersebut.
Kehadiran AI, lanjutnya, sekaligus menghadirkan pertanyaan mengenai ketergantungan manusia terhadap teknologi. Karena itu, inovasi dalam pendidikan tidak semestinya dipahami hanya sebagai pengembangan teknologi atau kegiatan Research and Development (R&D).
Inovasi, menurut Prof. Sigit, juga berangkat dari rasa ingin tahu untuk meninjau kembali sistem pendidikan yang telah berjalan. Pendidik dan mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mempertanyakan apa yang masih menjadi kelemahan, apa yang perlu diperbaiki, serta bagaimana menemukan solusi atas berbagai kekurangan tersebut.
“Rasa ingin tahu untuk me-review sistem pendidikan yang sudah ada, apa kelemahannya, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana mengatasi kekurangan tersebut, dapat menjadi titik munculnya inovasi,” jelasnya.
Perspektif tersebut kemudian diperkaya melalui paparan tiga keynote speaker KICE 2026 yang membawa isu berbeda, tetapi bertemu pada satu pertanyaan besar: bagaimana pendidikan dapat tetap relevan di tengah perubahan global?
Prof. Dianne Chambers dari Edith Cowan University, Australia, mengangkat isu inclusive and special education. Paparannya menempatkan inklusi sebagai bagian penting dari perkembangan sistem pendidikan global, yang tidak hanya berkaitan dengan disabilitas, tetapi juga mencakup kondisi sosial-ekonomi dan latar belakang agama.
Gagasan tersebut menunjukkan pentingnya pergeseran dari sistem pendidikan yang eksklusif menuju pendidikan inklusif sehingga setiap peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam lingkungan pembelajaran.
Sementara itu, Dr. Elizabeth Koh Ruilin, Senior Lecturer dari Nanyang Technological University, Singapura, membawa perspektif mengenai inovasi pendidikan melalui presentasi bertajuk “Reframing VUCA in Education: Navigating Learning Through AI and Techno-Pedagogical Innovation.”
Ia mengulas perubahan dunia pendidikan di tengah perkembangan AI, termasuk munculnya sistem pembelajaran adaptif, tutor berbasis AI, perangkat pembuatan konten, hingga sistem penilaian otomatis. Perkembangan tersebut berlangsung dalam konteks dunia yang semakin Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous (VUCA).
Dalam konteks tersebut, pendidikan dituntut tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menata kembali cara pandang terhadap proses belajar dan mengajar agar tetap relevan dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Perspektif berikutnya datang dari Dr. Adi Nur Cahyono dari Universitas Negeri Semarang, yang memaparkan “STEM Trails: Shaping the Future of Learning Through Real-World Exploration and Digital Innovation for a Sustainable Future.”
Paparan tersebut memperkenalkan konsep STEM Trail yang mengintegrasikan aktivitas berbasis alam dengan teknologi digital. Inisiatif ini mengadaptasi model dari Australia dan Frankfurt serta diarahkan pada pengembangan pusat penelitian melalui kolaborasi internasional, antara lain di Semarang dan Ambon.
Ketiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan memiliki spektrum yang luas. Inovasi tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi, tetapi juga menyangkut bagaimana pendidikan membangun lingkungan belajar yang inklusif, merespons perubahan dunia yang cepat, dan menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata.
KICE 2026 tidak berhenti pada pertukaran gagasan melalui sesi keynote. Setelah sesi panel bersama tiga keynote speaker, konferensi berlanjut ke parallel session yang menjadi ruang produksi sekaligus pertukaran pengetahuan antarpeserta.
Pada sesi ini, gagasan tentang masa depan pendidikan dibawa lebih jauh melalui berbagai tema yang merepresentasikan keluasan kajian pendidikan. Peserta dapat berdiskusi dan berbagi hasil pemikiran maupun penelitian dalam berbagai tema panel, misalnya Religious Education; Inclusive and Special Education, Curriculum, EdTech, and AI; Science and Mathematics Education; Early Childhood and Primary Education; Assessment and Evaluation; serta Language and Literacy.
Keberagaman tema tersebut menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak berdiri pada satu bidang. Pendidikan agama, inklusi, kurikulum, kecerdasan artifisial, sains, pendidikan anak, evaluasi, hingga literasi menjadi bagian dari percakapan yang saling terhubung dalam membayangkan masa depan pembelajaran.
Melalui format tersebut, KICE 2026 tidak hanya menghadirkan pengetahuan dari pembicara kepada peserta, tetapi juga membuka ruang agar peserta menjadi bagian dari proses produksi pengetahuan. Pertukaran gagasan berlangsung lebih luas, melibatkan dosen dan mahasiswa dari berbagai latar akademik, baik dari Indonesia maupun dari luar negeri.
Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, forum ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus menghadirkan diskursus pendidikan yang relevan dengan perkembangan global tanpa kehilangan konteks kebutuhan pendidikan di Indonesia.
KICE 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa membentuk masa depan pendidikan bukan sekadar tentang memilih teknologi terbaru. Masa depan juga ditentukan oleh keberanian untuk mempertanyakan sistem yang ada, membangun pendidikan yang lebih inklusif, menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata, serta membuka ruang bagi kolaborasi dan pertukaran pengetahuan lintas batas.
Di ruang akademik seperti KICE, berbagai perspektif tersebut dipertemukan. Dari Australia, Singapura, hingga Indonesia, gagasan tentang pendidikan masa depan terus diproduksi, dipertukarkan, dan dikembangkan bersama. (humassk)