Memulai kehidupan sebagai mahasiswa bukan hanya tentang memasuki ruang kuliah, mengenal dosen, atau menghadapi tugas-tugas akademik pertama. Bagi sebagian mahasiswa baru, masa transisi juga berarti belajar hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun pertemanan, sekaligus mengelola berbagai kekhawatiran yang datang bersamaan.
Kesadaran
bahwa perjalanan akademik membutuhkan kesiapan yang lebih dari sekadar
kemampuan intelektual inilah yang menjadi salah satu perhatian UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta. Melalui pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru, kampus
berupaya membangun lingkungan pendidikan yang memberi perhatian terhadap
kesejahteraan mahasiswa secara menyeluruh, baik fisik maupun psikologis.
Memasuki
hari kedua pelaksanaan pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru Tahun Akademik
2026/2027, sebanyak 103 mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial
(IKS), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), mengikuti rangkaian pemeriksaan di
Ruang Teatrikal FDK, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan
ini merupakan hasil kolaborasi antara FDK UIN Sunan Kalijaga, Klinik Pratama
UIN Sunan Kalijaga, dan Puskesmas Depok 3 Yogyakarta. Pemeriksaan meliputi
pengukuran berat dan tinggi badan, tekanan darah, gula darah, pemeriksaan oleh
dokter umum dan dokter gigi, hingga pemeriksaan kondisi psikologis melalui
layanan Pojok Psikolog.
Kehadiran
layanan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sekaligus edukasi agar
mahasiswa memiliki kesadaran untuk mengenali dan menjaga kondisi kesehatannya
sejak awal menempuh pendidikan tinggi.
Di
tengah tuntutan akademik yang makin kompleks, UIN Sunan Kalijaga memandang
mahasiswa bukan semata-mata sebagai pembelajar yang dituntut mencapai prestasi
akademik. Mereka juga merupakan individu yang sedang tumbuh, beradaptasi, dan
menghadapi beragam dinamika kehidupan.
Karena
itu, perhatian terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dalam rangkaian
pemeriksaan. Melalui Pojok Psikolog, mahasiswa memperoleh kesempatan mengikuti screening
psikologis dan mendapatkan informasi awal mengenai kondisi kesehatan mental
mereka.
Psikolog
Puskesmas Depok 3 Yogyakarta, Elly Ervinawati, S.Psi., Psikolog, menjelaskan
bahwa screening merupakan langkah awal untuk mengenali kondisi
psikologis seseorang dan bukan penetapan diagnosis klinis.
“Dari
beberapa mahasiswa yang sudah keluar hasil screening-nya, mungkin ada
yang terindikasi depresi atau kecemasan. Kalau sudah jelas terdiagnosis ada
masalah dalam kesehatan mental, kami sarankan untuk ke fasilitas kesehatan
tingkat pertama atau puskesmas terdekat demi mendapatkan layanan psikolog,”
jelasnya.
Menurut
Elly, kehidupan mahasiswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari
lingkungan keluarga, pola pengasuhan, persoalan akademik, pertemanan, hingga relasi
di lingkungan pendidikan. Masa transisi menuju kehidupan perguruan tinggi pun
dapat menghadirkan tantangan tersendiri, terutama bagi mahasiswa yang sedang
belajar mandiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Dalam
kondisi tersebut, dukungan dari lingkungan terdekat menjadi penting. Orang tua,
keluarga, sahabat, maupun lingkungan pendidikan dapat menjadi bagian dari
sistem dukungan yang membantu mahasiswa menjalani proses pertumbuhannya.
“Sebagai
orang tua seharusnya memberikan dukungan terhadap apa yang menjadi pilihan
anak. Tidak berarti menyetujui seratus persen, tetapi memberikan pandangan
secara bijaksana,” tutur Elly.
Pengalaman
adaptasi itu dirasakan Indana Zulfa, mahasiswa baru Program Studi Ilmu
Kesejahteraan Sosial. Berasal dari Cirebon, Indana kini menjalani fase baru
sebagai mahasiswa sekaligus perantau di Yogyakarta.
Lingkungan
yang baru, teman-teman yang belum banyak dikenal, serta tugas-tugas perkuliahan
yang sebelumnya belum pernah dihadapi menjadi bagian dari proses yang harus
dipelajarinya satu per satu.
“Kadang
merasa cemas ketika dosen memberikan tugas PPT atau makalah, terutama ketika
belum mengetahui bagaimana cara membuat tugas tersebut. Karena baru pertama
kali merantau, saya juga belum banyak mengenal teman dan masih merasa khawatir
kalau harus pergi ke mana-mana sendirian,” ungkapnya.
Bagi
Indana yang mengaku cenderung introvert, beradaptasi tidak selalu dapat
dilakukan dalam waktu singkat. Ia memilih menjalaninya secara perlahan sambil
mulai mengenal teman-teman baru, berkomunikasi dengan dosen, dan membiasakan
diri dengan lingkungan kampus.
Ketika
rasa khawatir muncul, ia juga berusaha menjaga komunikasi dengan orang-orang
terdekatnya.
“Kalau
mulai merasa khawatir, saya biasanya menelepon orang tua atau sahabat-sahabat
saya waktu SMA. Setelah itu saya merasa lebih tenang dan bisa menata hati
kembali,” katanya.
Pengalaman
Indana menjadi gambaran bahwa di balik langkah awal mahasiswa memasuki
perguruan tinggi, terdapat proses adaptasi yang berbeda-beda. Sebagian harus
belajar menghadapi tuntutan akademik baru, sebagian lainnya menyesuaikan diri
dengan kehidupan jauh dari keluarga. Dalam proses inilah, kehadiran lingkungan
kampus yang suportif menjadi bagian penting dari pengalaman belajar mahasiswa.
Elly
mengingatkan bahwa perjalanan akademik perlu dijalani dengan keseimbangan.
Mahasiswa perlu bertanggung jawab terhadap studi, tetapi tetap memberikan ruang
bagi dirinya untuk beristirahat, membangun relasi sosial, dan melakukan
aktivitas yang mendukung kesehatan mental.
“Silakan
berkuliah dan menjalani studi dengan baik, tetapi sesekali sangat diperbolehkan
untuk mengobrol santai dengan teman-teman. Kemudian, menyediakan waktu untuk me
time juga penting untuk mendukung kesehatan mental kita, serta selalu
menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat,” pesannya.
Namun,
keseimbangan tersebut, menurutnya, tetap perlu disertai tanggung jawab terhadap
tujuan utama mahasiswa dalam menempuh pendidikan.
“Jangan
pula inginnya bersenang-senang terus hingga studi yang menjadi tujuan utama
menjadi keteteran,” lanjutnya.
Melalui
pendekatan yang memperhatikan kesehatan fisik dan psikologis secara bersamaan,
UIN Sunan Kalijaga berupaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang lebih utuh
bagi mahasiswa. Kolaborasi antara fakultas, Klinik Pratama UIN Sunan Kalijaga,
dan Puskesmas Depok 3 juga menunjukkan pentingnya sinergi dalam membangun
ekosistem kampus yang mendukung kesejahteraan sivitas akademika.
Bagi
UIN Sunan Kalijaga, menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi perjalanan akademik
bukan hanya berarti membekali mereka dengan ilmu pengetahuan. Pendidikan juga
merupakan proses membantu mahasiswa mengenali dirinya, bertumbuh secara sehat,
dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai tantangan kehidupan.
Pemeriksaan
kesehatan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 yang terus dilaksanakan
sesuai jadwal pun menjadi salah satu langkah awal dari komitmen tersebut. Sejak
memasuki kampus, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa menjaga kesehatan, baik
tubuh maupun pikiran, merupakan bagian penting dari perjalanan menuju masa
depan.
Dengan
fondasi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, UIN Sunan Kalijaga
berharap mahasiswa dapat menjalani proses belajarnya secara optimal, berkembang
secara utuh, dan bertumbuh menjadi insan yang tidak hanya unggul secara
akademik, tetapi juga mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan lebih adaptif
dan seimbang.(humassk)