WhatsApp Image 2026-09-24 at 17.57.20.jpeg

Kamis, 24 September 2026 18:04:00 WIB

0

Menyapa Yogyakarta, Merayakan Perbedaan: Mahasiswa Internasional UIN Sunan Kalijaga Belajar Budaya dan Membangun Kebersamaan

Belajar di perguruan tinggi tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Bagi mahasiswa internasional UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, memahami lingkungan baru juga berarti mengenal budaya, cara berinteraksi, serta kehidupan masyarakat tempat mereka menuntut ilmu.

Semangat tersebut hadir dalam hari kedua International Student Orientation & Empowerment Program UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (24/9/2026), yang berlangsung di Omah Kecebong Yogyakarta. Mengusung tema “Mengenal, Beradaptasi, dan Bertumbuh di UIN Sunan Kalijaga”, kegiatan yang diselenggarakan Center for Developing Cooperation and International Affairs (CDCIA) ini dikemas melalui outbound dan pengenalan budaya Yogyakarta.


Tahun ini, UIN Sunan Kalijaga menyambut 28 mahasiswa internasional dari 10 negara berbeda. Keberagaman latar belakang tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman akademik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus membuka ruang perjumpaan antara mahasiswa dari berbagai budaya.

Di tengah kegiatan tersebut, Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Prof. Abdur Rozaki, turut hadir menyambangi dan menyapa para mahasiswa internasional. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan dengan mahasiswa sejak awal mereka memulai perjalanan akademiknya di UIN Sunan Kalijaga.


Sejak awal kegiatan, para mahasiswa diajak lebih dekat dengan budaya Jawa, khususnya Yogyakarta. Mereka mengenakan busana tradisional Jawa, kebaya bagi mahasiswi serta surjan dan blangkon bagi mahasiswa laki-laki. Pengalaman kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas budaya, seperti workshop membatik, bermain gamelan, hingga menikmati kuliner khas Indonesia.

Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti pada pengenalan simbol-simbol budaya.

Ketua CDCIA UIN Sunan Kalijaga, Dr. Witriani, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa internasional tidak hanya mengenal budaya Jawa secara visual, tetapi juga memahami bagaimana berelasi dan berinteraksi dalam lingkungan sosial yang baru.

“Karena mereka tinggal di Jawa, ada beberapa hal yang harus mereka pahami. Tidak sekadar pengenalan baju tradisional ataupun pernak-pernik kejawaan, tetapi juga bagaimana berelasi dan berinteraksi satu sama lain,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bekal penting agar mahasiswa internasional semakin siap menjalani kehidupan akademik sekaligus beradaptasi dengan lingkungan sosial di Yogyakarta. Sementara itu, kegiatan outbound menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmahasiswa sehingga mereka dapat saling mendukung selama menjalani studi di UIN Sunan Kalijaga.

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai aktivitas yang mereka ikuti. Permainan kelompok, sesi foto berbusana Jawa, hingga aktivitas budaya menjadi pengalaman baru bagi sebagian peserta.

Bagi Zahra, mahasiswa asal Somalia yang mengambil Program Studi Akuntansi Syariah, pengalaman hari kedua menjadi kesempatan untuk mengenal budaya sekaligus bahasa Jawa secara langsung. Ia bahkan mengingat beberapa kosakata yang diperolehnya selama kegiatan, seperti “matur nuwun” dan “dalem”.

“Today's activity was good. It's so very good,” kata Zahra ketika menceritakan pengalamannya mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku paling menyukai permainan yang dilakukan bersama peserta lainnya.

Bagi Zahra, keputusan memilih UIN Sunan Kalijaga juga tidak terlepas dari ketertarikannya pada Yogyakarta. Sebagai mahasiswa yang baru pertama kali datang ke Indonesia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses mengenal lingkungan baru sekaligus menjalani kehidupan akademik di universitas Islam.

Cerita berbeda datang dari Mahnoor, mahasiswa asal Pakistan yang mengambil Program Studi Ekonomi Syariah. Baru pertama kali meninggalkan negaranya, Mahnoor melihat Yogyakarta sebagai ruang untuk memperoleh pengalaman baru sekaligus mengenal keberagaman Indonesia.

Ia tertarik memilih UIN Sunan Kalijaga karena ingin mengeksplorasi Indonesia dan Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan. Dalam perjalanannya, ia juga mulai menyadari bahwa keberagaman Indonesia tidak hanya terlihat dari perbedaan antarnegara, tetapi juga dari keberagaman budaya di dalam Indonesia sendiri.

“Even though they are Indonesians, I've realized that everyone has their own culture. Someone is Javanese, someone is Sundanese, Madurese,” tuturnya.

Pengalaman mengikuti outbound pun meninggalkan kesan tersendiri bagi Mahnoor. Ia menikmati permainan yang membuat para peserta tertawa bersama, sekaligus merasakan pengalaman menjadi lebih lepas seperti ketika masih kecil. Ia bahkan menyebut pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kehidupan universitas dapat menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan dan tidak selalu formal.

Bagi Mahnoor, salah satu tantangan berikutnya adalah belajar bahasa Indonesia. Sebagai mahasiswa internasional, kemampuan bahasa menjadi bagian penting agar ia dapat mengikuti perkuliahan yang sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia.

Lebih dari sekadar orientasi, rangkaian kegiatan ini menunjukkan bagaimana UIN Sunan Kalijaga berupaya membangun pengalaman mahasiswa internasional sejak awal masa studi. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada lingkungan kampus, tetapi juga diajak memahami masyarakat, budaya, dan ruang sosial tempat mereka akan bertumbuh.

Dr. Witriani menyebut kegiatan serupa telah memasuki tahun kedua. Jika pada tahun pertama jumlah mahasiswa baru internasional yang mengikuti program masih sekitar lima orang, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 28 mahasiswa dari 10 negara.

Menurutnya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya CDCIA dalam memperluas jangkauan informasi, termasuk melalui jejaring kedutaan, media sosial, dan komunikasi melalui surat elektronik. Dari sekitar 570 pendaftar, sebanyak 28 mahasiswa terpilih untuk mengikuti program tahun ini.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, keberagaman mahasiswa internasional bukan sekadar angka. Kehadiran mereka menciptakan ruang perjumpaan yang memungkinkan mahasiswa saling mengenal budaya, belajar beradaptasi, dan memperluas perspektif tentang dunia.

Di Yogyakarta, mereka datang untuk belajar. Namun, melalui pengalaman lintas budaya seperti ini, proses belajar itu berlangsung dua arah: mahasiswa internasional mengenal Indonesia, sementara kampus juga diperkaya oleh cerita, pengalaman, dan perspektif yang mereka bawa dari berbagai belahan dunia.

Inilah wajah UIN Sunan Kalijaga sebagai ruang akademik yang tidak hanya mempertemukan ilmu dan tradisi, tetapi juga mempertemukan manusia dari berbagai latar untuk belajar, bertumbuh, dan saling memahami. (humassk)