Bahasa Arab memiliki peluang besar untuk berkembang melampaui tradisi keagamaan dan keilmuan klasik, mulai dari diplomasi internasional, pendidikan, hingga inovasi teknologi digital. Semangat tersebut menjadi fokus Kalijaga Arabic Fest (KAF) 2026 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (15/10), di Convention Hall Lantai 1.
Mengusung tema “Bahasa Arab di Kancah Global: Menjembatani Tradisi dan Mendorong Inovasi”, KAF 2026 menghadirkan 105 peserta dalam tujuh cabang lomba. Peserta berasal dari berbagai sekolah menengah, pondok pesantren, ma’had aly, serta perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Partisipasi internasional turut hadir melalui peserta dari International Islamic University Malaysia (IIUM) Pagoh dan Arabic Debate Club (ADC) Pagoh Malaysia.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kompetensi bahasa Arab sekaligus memperluas wawasan tentang relevansi bahasa tersebut dalam kehidupan modern. Melalui kompetisi dan forum akademik, KAF mendorong peserta untuk tidak hanya mempelajari warisan keilmuan bahasa Arab, tetapi juga mengembangkan potensinya sebagai sarana komunikasi, pengembangan pengetahuan, dan inovasi.
Ketua panitia KAF 2026, Rahma Zahida, menyampaikan bahwa festival ini dirancang sebagai wadah untuk belajar, berkembang, menggali potensi, serta membangun pengalaman dan persahabatan. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang meraih kemenangan, tetapi juga oleh pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta selama mengikuti kompetisi.
“Bahasa Arab bukan hanya sekadar warisan keilmuan yang harus dijaga, tetapi juga menjadi jembatan menuju masa depan,” ungkapnya.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Sunan Kalijaga, Nurul Huda, S.S., M.Pd.I., mengapresiasi dukungan pimpinan universitas dan fakultas terhadap penyelenggaraan KAF 2026. Ia berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan melalui sinergi antara jenjang sarjana, magister, dan doktor dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab.
Tahun ini, KAF diselenggarakan dalam lingkup internasional sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Perluasan jangkauan tersebut diharapkan dapat memperkuat motivasi belajar sekaligus mempererat hubungan antarpelajar dan akademisi dari berbagai institusi.
“Kalau dengan ngopi kita jadi saudara, maka dengan bahasa Arab kita jadi keluarga,” tutur Nurul Huda.
Pengembangan bahasa Arab di era global menjadi bahasan utama dalam sesi studium generale yang menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Faiq Ilham Rosyadi, S.Pd., M.Pd., dosen PBA UIN Sunan Kalijaga sekaligus CEO Innovonesia Teknologi Inc., dan Dr. Cahya Edi Setyawan, M.Pd.I., dari STAI Masjid Syuhada Yogyakarta. Sesi ini dimoderatori mahasiswa Muhammad Anas Nasrulloh.
Dalam paparannya bertajuk “Bahasa Arab di Kancah Global: Menjembatani Tradisi Kebahasaan dengan Inovasi Pendidikan di Era Digital”, Faiq menekankan pentingnya transformasi peran mahasiswa dan akademisi bahasa Arab. Mereka tidak cukup hanya menguasai teori dan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu mengambil peran sebagai pengembang inovasi yang mampu memperluas pemanfaatan bahasa Arab di masyarakat.
Faiq mengibaratkan tradisi keilmuan bahasa Arab sebagai sungai yang selama berabad-abad menghidupkan peradaban manusia. Sumbernya berasal dari Al-Qur’an, hadis, literatur ulama klasik, serta berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, astronomi, matematika, nahwu, sharaf, balagah, dan mantik.
Menurutnya, tugas generasi pembelajar bahasa Arab saat ini adalah memastikan aliran pengetahuan tersebut terus menjangkau ruang-ruang baru. Salah satu caranya ialah memadukan penguasaan bahasa Arab dengan teknologi digital untuk menghasilkan produk pembelajaran yang lebih menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menyoroti pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa atau Mobile Assisted Language Learning (MALL), antara lain melalui aplikasi pembelajaran dan platform interaktif. Pengembangan permainan edukatif, konten digital, serta aplikasi bahasa Arab juga membuka peluang untuk meningkatkan minat belajar sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Faiq juga menekankan bahwa pembelajaran bahasa Arab perlu menjembatani dua kebutuhan utama, yakni penguasaan khazanah keagamaan dan akademik serta keterampilan komunikatif untuk kepentingan profesional. Dengan pendekatan tersebut, bahasa Arab tidak hanya dipahami melalui teks klasik, tetapi juga digunakan secara aktif dalam komunikasi, studi lanjut, pekerjaan, dan relasi internasional.
Narasumber kedua, Dr. Cahya Edi Setyawan, M.Pd.I., dari STAI Masjid Syuhada Yogyakarta, memperkuat pembahasan mengenai posisi strategis bahasa Arab melalui perspektif tradisi, globalisasi, dan inovasi. Ia menegaskan bahwa bahasa Arab tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai bahasa agama, karena bahasa ini juga memiliki nilai akademis, praktis, pragmatis, dan ekonomis yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurut Cahya, masa depan pengembangan bahasa Arab bertumpu pada tiga dimensi yang saling berkaitan. Pertama, tradisi, yang berakar pada Al-Qur’an, hadis, tafsir, dan turats atau khazanah keilmuan klasik. Kedua, globalisasi, yang menempatkan bahasa Arab sebagai sarana diplomasi, pendidikan internasional, pertukaran budaya, perdagangan, dan hubungan antarnegara. Ketiga, inovasi, yang membuka peluang pengembangan bahasa Arab melalui kecerdasan buatan (artificial intelligence), digitalisasi, penerjemahan mesin (machine translation), korpus digital, serta teknologi suara.
Ketiga dimensi tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan secara bersamaan. Tradisi menyediakan fondasi keilmuan, globalisasi memperluas ruang pemanfaatan, sedangkan inovasi menghadirkan metode dan teknologi baru agar bahasa Arab tetap relevan di tengah perubahan dunia.
Cahya juga menyoroti pergeseran orientasi pendidikan bahasa Arab di tingkat global. Pembelajaran tidak lagi cukup berfokus pada penguasaan kaidah tata bahasa, tetapi perlu mendorong kemampuan menggunakan bahasa untuk berpikir, berkomunikasi, dan memahami teks secara mendalam.
Penguasaan bahasa Arab dengan demikian dapat menjadi modal bagi pelajar dan profesional untuk melanjutkan studi, mengembangkan karier di negara-negara berbahasa Arab, serta memperluas akses terhadap sumber pengetahuan klasik maupun modern. Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian tradisi dan pengembangan teknologi bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat saling memperkuat.
Selain forum akademik, KAF 2026 menghadirkan tujuh cabang lomba yang diselenggarakan secara daring dan luring. Ketujuh cabang tersebut meliputi Munadzoroh, Khitobah, Qiroatus Syi’ir, Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK), Kaligrafi, Ghina Aroby, dan Taqdimul Qissoh.
Beragam kategori tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan berargumentasi, berpidato, bersastra, membaca kitab, bernyanyi, bercerita, hingga mengekspresikan kreativitas melalui seni kaligrafi. Keberagaman cabang lomba sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa Arab dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan, baik akademik, komunikatif, maupun artistik.
Melalui Kalijaga Arabic Fest 2026, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memperkuat ruang kolaborasi bagi mahasiswa, pelajar, dan akademisi untuk mengembangkan kompetensi bahasa Arab dalam perspektif yang lebih luas. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan kekuatan tradisi keilmuan Islam dengan inovasi pendidikan dan teknologi sehingga bahasa Arab terus berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan, komunikasi lintas budaya, dan peradaban global.(humassk)