Persoalan lingkungan membutuhkan solusi nyata yang tidak hanya berangkat dari kepedulian, tetapi juga inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan. Semangat tersebut tecermin dalam babak final Lomba Ekoteologi (Tata Kelola Limbah dan Lingkungan) Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026. Delapan finalis dari berbagai PTKIN di Indonesia mempresentasikan inovasi produk pengelolaan limbah dan lingkungan, Jumat (6/11/2026) di Teatrikal FISHUM Lt. 1, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kedelapan finalis terpilih setelah melalui seleksi terhadap 35 karya tulis ilmiah yang masuk. Pada tahap awal, seluruh karya dinilai secara daring oleh dewan juri berdasarkan aspek tata tulis, kesesuaian format, dan substansi konten. Delapan karya terbaik kemudian melaju ke babak final dengan penilaian yang lebih menitikberatkan pada demonstrasi produk dan presentasi inovasi.
Penanggung jawab Lomba Ekoteologi, Dr. Eka Sulistiyowati, S.Si., M.A., menjelaskan bahwa kompetisi ini dirancang untuk mendorong lahirnya inovasi yang dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari limbah padat, limbah cair, hingga limbah berbahaya.
Menurutnya, karya para finalis menunjukkan bahwa pendekatan ekoteologi dapat diterjemahkan menjadi solusi konkret melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa inovasi yang dihadirkan bahkan menyasar persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti pengolahan limbah air wudu, limbah batik, hingga pemanfaatan sisa makanan.
Babak final menghadirkan tiga dewan juri dari unsur profesional dan akademisi, yakni Dr. Priyaji Agung Pambudi, Sekretaris Jenderal Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network), Septin dari UIN Raden Mas Said Surakarta; serta Ardian Pramudia Kurniawan dari Program Studi Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Delapan inovasi yang dipresentasikan mencerminkan beragam pendekatan dalam pengelolaan lingkungan. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan Miu-Connect, platform kolaboratif terintegrasi dengan smart waste scale berbasis Internet of Things (IoT). UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi mengembangkan ECOPALM ROSTER, inovasi pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit menjadi material roster ramah lingkungan.
Sementara itu, UIN Maulana Hasanuddin Banten mempresentasikan Smart Eco-Masjid sebagai living laboratory ekoteologi melalui model pengelolaan air wudu. UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menghadirkan Pengembangan Berkasih Smart, sistem terintegrasi berbasis kecerdasan buatan (AI). UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengusung ECO-RETOX, inovasi reduksi limbah tekstil melalui sistem filtrasi.
Dua inovasi lainnya adalah MAZA TECH dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, berupa teknologi penangkap lemak dengan konsep dual-output yang terintegrasi dengan produksi sabun cuci, serta ECO-WUDHU GOVERNANCE dari UIN Raden Mas Said Surakarta, yakni model tata kelola air bekas wudu berbasis prinsip fiqh al-bi'ah.
Sebagai tuan rumah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta turut menghadirkan inovasi Granobara, produk pupuk organik berbentuk granul yang dikembangkan oleh tiga mahasiswa, Udkhulul Jannah, Putri Andini, dan Dwi Siska Cantika. Inovasi ini memanfaatkan limbah nasi dan tulang sebagai bahan baku untuk menghasilkan pupuk yang mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus mengurangi persoalan limbah makanan.
Pengembangan Granobara dilandasi prinsip anti-israf atau larangan berlebih-lebihan dalam Islam serta pentingnya menjaga keseimbangan alam. Gagasan ini berangkat dari persoalan limbah makanan yang masih menjadi tantangan lingkungan di Indonesia. Dengan mengolah sisa makanan menjadi produk bernilai guna, tim berupaya menghadirkan pendekatan ekonomi sirkular yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan kebutuhan sektor pertanian.
Dalam demonstrasinya, tim menjelaskan bahwa Granobara dibuat melalui pengolahan limbah nasi dan tulang, diperkaya hasil fermentasi bahan organik menggunakan EM4, serta dibentuk menjadi granul dengan bantuan natrium alginat dan kalsium klorida sebagai matriks enkapsulasi. Proses tersebut menghasilkan granul berwarna hitam dengan struktur kokoh dan berpori. Dalam demonstrasi penggunaan, tim juga memperlihatkan bahwa media tanah yang diberi Granobara menunjukkan kelembapan lebih tinggi dibandingkan media kontrol.
Keunggulan tersebut menjadikan Granobara tidak sekadar menawarkan alternatif pemanfaatan limbah, tetapi juga mengintegrasikan fungsi fisik, mineral, dan biologis untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Bentuk granul yang lebih kokoh juga dirancang agar tidak mudah larut saat terkena air, sehingga lebih praktis dalam aplikasi pertanian.
Melalui Lomba Ekoteologi OASE III PTKIN 2026, UIN Sunan Kalijaga mendorong mahasiswa PTKIN untuk mengembangkan pemahaman keagamaan yang berpadu dengan kepedulian ekologis dan inovasi teknologi. Beragam karya yang dipresentasikan menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam, seperti tanggung jawab menjaga alam dan menghindari perilaku berlebihan, dapat menjadi landasan bagi pengembangan solusi atas persoalan lingkungan.
Kompetisi ini sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi keagamaan dalam membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan, riset, dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Ekoteologi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui karya nyata untuk menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan. (humassk)