Tadarus Difabel Minggu 72
“Ramadhan tahun ini mulai puasanya ikut yang mana?”... Itulah pertanyaan yang sering saya dengar di awal Ramadhan 2026, minggu lalu
Pertanyaan klasik tapi itu selalu terasa baru… Biasanya dikaitkan dengan posisi hilal dan hisab, soal yang seolah tidak pernah selesai dibahas di tahun-tahun yang lampau. Diperkarakan ulang setiap menjelang Ramadhan dalam perdebatan tiada akhir
“Saya mulai puasa dari mengikuti keyakinan pribadi hati saya…”
Dari sudut pandang INKLUSIF Puasa Ramadhan tidak mensyaratkan kesempurnaan ilmu, kecanggihan logika astronomi, atau afiliasi organisasi maupun lembaga tertentu…. Ia hanya meminta niat dan kesadaran untuk berkata pasrah dalam hati, NAWAITU SHAUMA GHODIN… Tidak harus melewati perdebatan yang sedemikian sulit untuk memulainya
Sejatinya puasa Ramadhan bukanlah kompetisi ilmu pengetahuan, astronomi… atau adu keyakinan… Puasa adalah latihan kejujuran individu, menahan lapar, haus, dan ego pribadi ketika tidak ada manusia yang melihat…
Ramadhan adalah inklusif milik bersama, mengingatkan kita bahwa ibadah ini tidak pernah eksklusif hanya bagi yang “lebih tahu penampakan bentuk cahaya bulan” atau hanya bagi yang “lebih mampu menghisabnya”. Ramadhan adalah milik siapa saja yang memilih untuk tunduk…
Ramadhan Inklusif tentu juga tidak mengenyampingkan rukyat atau hisab. Keduanya tetap menjadi bagian dari titik tolak dan keteraturan bersama.
Hilal dan hisab mungkin menentukan kapan kita mulai puasa… Tapi Ketundukan pada Tuhan itulah yang menentukan apakah puasa kita bermakna…
Seseorang bisa saja melihat hilal atau bisa memiliki kemampuan menghisab, tetapi tidak tunduk.
Sebaliknya, seseorang yang tak pernah melihat hilal (seperti difabel netra) atau punya kesulitan untuk menghisab posisi bulan (seperti difabel intelektual atau bahkan juga kebanyakan dari kita) bisa saja sangat tunduk.
Di hadapan Tuhan, yang dinilai bukanlah afiliasi metode… (“hai fulan, kamu puasa pake metode apa?”)
Yang dinilai adalah ketulusan menahan diri…
Dalam perspektif difabel, Ramadhan menjadi inklusif ketika kita memahaminya sebagai PENGALAMAN SPIRITUAL PERSONAL…
Mungkin saja yang lebih penting dari perdebatan hilal adalah pertanyaan ini, “Sudahkah kita benar-benar tunduk pada Tuhan yang mencipta perbedaan keyakinan mengenai awal menjalankan puasa?”
Karena jika puasa hanya berhenti pada perdebatan tentang langit, ia akan menjadi sekedar peristiwa astronomis di langit sana.
Tetapi jika puasa terjadi di dalam diri manusia, maka ia menjadi pengalaman spiritualitas yang bermakna… Lihatlah manusia di bumi, bukan hanya melihat bulan di langit
Ramadhan menjadi milik semua, termasuk milik mereka yang sering kita anggap “di luar perhitungan”, padahal justru sering paling jujur dalam beribadah…
Di sinilah Ramadhan menjadi inklusif milik bersama.
Seorang difabel netra tetap bisa berpuasa meskipun tidak pernah melihat bulan.
Seorang difabel tuli mungkin tidak mendengar pengumuman sidang isbat.
Seorang difabel intelektual bisa jadi memahami puasa dengan cara yang berbeda. Meskipun tidak bisa menghisab posisi bulan
Apakah nilai ketundukan mereka lebih rendah? Tentu tidak.
Pada sebuah meja sahur
Yogyakarta 22 Februari 2026