[Dy Asep Zahidin Manusia: Masih dalam nuansa Lebaran, minggu lalu, UIN Sunan Kalijaga berhasil meraih pencapaian raksasa di tingkat Global… Kemarin sore saat para mahasiswa difabel berkunjung ke rumah dalam rangka silaturahmi Idul Fitri, saya membagikan kabar besar ini, bahwa UIN Sunan Kalijaga suskes meraih posisi peringkat 37 kampus dunia dalam bidang Theology, Divinity and Religious Studies berdasarkan penilaian yang dikeluarkan oleh QS World University Rankings...
Sungguh hebat. Pertama kali terdeteksi oleh QS, langsung melesat di posisi 40 besar jajaran kampus dunia… Bahkan jauh melampuai posisi McGill University di Kanada yang selama kurun waktu tertentu telah menjadi salah satu kiblat UIN dan Kemenag RI dalam perkara studi keagamaan termasuk Islamic Studies
Prestasi ini sudah pasti lahir dari hasil kerja panjang semua dosen dan peneliti yang rajin menulis, meneliti, dan membangun reputasi akademik secara konsisten. Hingga pada akhirnya, tahun 2026 ini “cahaya” itu terlihat oleh dunia…
Prestasi ini sangat layak untuk dirayakan… Namun, pada saat yang sama, tentu capaian ini juga perlu direnungkan lebih dalam. Ranking dunia terkadang hanya cukup memantulkan cahaya di permukaan. Pertanyaan versi para orang tua mahasiswa dan pengguna layanan, terutama mahasiswa, adalah apakah cahaya pencapaian itu telah sekaligus juga menjawab tantangan lokal?
Tidak banyak yang tahu bahwa di balik capaian tersebut, ada “orang dapur” yang bekerja tanpa banyak disadari dan dilirik banyak pihak... Adalah Pusat Pemeringkatan dan SDGs LPPM, serta berbagai unit lain yang mengelola data, publikasi, serta jejaring global. Mereka bukan sekadar menjalankan administrasi, tetapi juga harus menyusun narasi, menjadi juru masak potensi internal untuk dimatangkan menjadi sesuatu yang terbaca dan diakui secara internasional…
Motor penggeraknya dikomandani oleh seorang dosen muda sarat energi, Koordinator Pusat pemeringkatan dan SDGs. Dr. Ir. Trio Yonathan Teja Kusuma, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng, orangnya kalem, saya perhatikan penampilannya santai saja, tapi dari gelarnya yang berderet sepanjang itu, anda dapat membayangkan sendiri bagaimana alam berfikirnya… ia disupervisi oleh ketua LPPM, Dr. Abdul Qoyum, S.E.I, M.Sc.Fin di bawah arahan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D
Dalam mensyukuri pencapaian itu, kita perlu juga memahami bahwa QS membaca data, sementara di sisi lain, masyarakat membaca pengalaman, di mana keduanya terkadang tidak selalu berjalan seirama. Di tengah prestasi besar ini, stigma lama masih saja tersisa. Masyarakat terkadang masih melihat lulusan UIN kerap direduksi hanya sebagai ahli agama, dianggap kurang relevan dengan kebutuhan industri modern, padahal tentu saja tidak selalu dimikian kenyataannya…
Yang lebih sunyi lagi adalah renungan mahasiswa difabel. Dalam merespon capaian global ini saat kami bicara, pertanyaan yang disampaikan oleh mereka kepada saya cukup sederhana, bagaimana semua mahasiswa, termasuk difabel, ikut merasakan dampaknya?. Tentu Ini tugas semua warga kampus untuk merealisasikan jawabannya...
Ranking berbicara diantaranya tentang publikasi, sitasi, reputasi, dan jejaring global. Sementara itu, kehidupan mahasiswa dan lulusan berbicara tentang bagaimana mencari pekerjaan, penerimaan sosial, rasa percaya diri, dan akses yang adil. Ketika keduanya belum berhasil terhubung, lahirlah potensi paradoks di mana kampus diakui dunia, tetapi lulusannya berpotensi masih diragukan di lingkungannya sendiri.
Karena itu, Untuk menyempurnakan pencapaian tingkat global itu agar sejalan dengan tantangan pada tingkat lokal, jalan yang perlu ditempuh adalah kolaborasi yang nyata semua pihak. Karir Center, Pusat Pengembangan Bisnis, termasuk juga Pusat Layanan Difabel, semua pusat lain dan berbagai unit pengembangan lainnya tidak boleh sekadar menjadi pelengkap administratif. Mereka harus terus ikut menjadi ruang hidup yang menghubungkan mahasiswa dengan dunia kerja, membangun kepercayaan diri profesional, dan menerjemahkan ilmu menjadi keterampilan yang relevan di masyarakat
Akhirnya, capaian ranking 37 Dunia wajib disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi titik akhir. Itu adalah pintu, bukan tujuan. Tujuan yang sesungguhnya adalah mewujudkan kampus yang dipercaya masyarakat, lulusan yang siap menjalani kehidupan, dan sistem inklusif yang tidak meninggalkan siapa pun…
Di situlah makna “cahaya nabi” yang sebenarnya, tidak hanya terlihat oleh dunia, tetapi juga mampu menerangi mereka yang selama ini belum terlihat… Sehingga kita tidak hanya kuat dalam memperbaiki angka, tetapi juga kuat dalam menentukan arah dan memperluas kesadaran bersama.
Senin, 30 Maret 2026 13:28:00 WIB
0