UIN SUKA

Senin, 04 Mei 2026 15:59:00 WIB

0

Filsafat Disabilitas dan Cahaya Nabi: KITA Tadarus, KITA Berfikir, KITA Setara, KITA ADA ( Dr. Asep Jahidin, Koordinator Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga)

Tadarus Difabel Minggu Ke-82

Di satu sudut ruang PLD tertulis kalimat… “Tidak ada tubuh yang salah. Yang perlu diubah adalah CARA PANDANG.” Inilah inti filsafat disabilitas. Selama ini terlalu banyak orang melihat difabel hanya sebagai persoalan tubuh. Padahal persoalan terbesar sering kali bukan tubuh, tetapi dunia yang dibangun dengan imajinasi sempit tentang manusia sempurna.     

Tangga tanpa jalur landai bukan kesalahan pengguna kursi roda. Buku tanpa format audio bukan kesalahan difabel netra. Kelas tanpa bahasa isyarat bukan kesalahan teman tuli. Kampus yang sulit diakses bukan kesalahan mahasiswa difabel...

Oleh sebab itu, ketika sistem menutup pintu kemudian menyalahkan mereka yang tertinggal, maka sesungguhnya yang bermasalah bukan individu, tetapi struktur sosial itu sendiri yang bermasalah… Demikian cara filsafat disabilitas bekerja dalam pikiran       

Lebih dalam lagi, Tadarus ini tidak berhenti pada filsafat modern. Saya juga membawanya masuk ke dalam ”Cahaya Nabi”. Sebab jauh sebelum dunia berbicara tentang inklusi, Nabi Muhammad telah memberi teladan bagaimana memuliakan manusia melampaui tubuhnya.

Tadarus ini adalah surat undangan yang saya kirim dengan hormat kepada semua untuk bertanya ulang mengenai soal-soal yang jarang kita pertanyakan… Siapa yang menentukan normal? Untuk siapa kota dibangun? Untuk siapa kampus dirancang? Mengapa yang minoritas dipaksa untuk terus menyesuaikan diri, padahal keadilan justru sejatinya memanggil mayoritas untuk ikut berubah?... serta segenap pertanyaan lainnya yang ingin anda pertanyakan

Filsafat disabilitas mengundang pikiran kita untuk bertanya dan kemudian memahami bahwa akses adalah hak, bukan hadiah. Kehadiran difabel adalah rahmat, bukan beban. Perbedaan adalah sunnatullah, bukan masalah

Ingatkah anda pada kisah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat netra yang bukan disingkirkan, tetapi dimuliakan oleh Nabi. Ia dipercaya menjadi muadzin, bahkan beberapa kali menggantikan Nabi memimpin urusan kota Madinah saat beliau bepergian. Dalam cahaya Nabi, keterbatasan penglihatan tidak menghapus kapasitas kepemimpinan. Dalam cahaya Nabi, difabel bukan alasan untuk dialienasikan.

Turunnya Surah Abasa menjadi pelajaran besar bagi sejarah kemanusiaan. Teguran langit itu menunjukkan bahwa perhatian kepada seorang difabel pencari ilmu lebih mulia daripada percakapan elitis dengan para pembesar Quraisy.

Sejak saat itu dunia diajari bahwa martabat manusia tidak diukur dari status sosial, rupa tubuh, atau kemampuan fisik, tetapi dari kesungguhan hati mencari kebenaran.

Sering kali masyarakat memuji keberagaman, tetapi takut pada perbedaan yang nyata. Kita senang slogan inklusi, tetapi belum siap mengubah bangunan, kurikulum, pelayanan, dan cara bicara. Kita suka kata setara, tetapi masih saja sibuk menentukan siapa yang normal dan siapa yang beban.

Maka filsafat disabilitas di ruangan ini dipertemukan dengan cahaya Nabi untuk melahirkan satu titik, bahwa: “manusia lebih besar daripada label yang ditempelkan kepadanya”. Tubuh hanyalah salah satu bentuk keberadaan, dia tidak diciptakan untuk dijadikan ukuran nilai kesempurnaan seseorang.