UIN SUKA

Senin, 20 April 2026 13:59:00 WIB

0

MEMETIK CAHAYA YANG TERSEBAR: Refleksi 80 Minggu Tadarus Difabel Dr, Asep Jahidin Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga

Tadarus Difabel Minggu ke-80

Tadarus Difabel yang telah setiap minggu saya ceritakan ini tidak pernah benar-benar tentang membaca teks (mungkin juga tidak sedemikian “ilmiah”), tadarus ini memang disengaja untuk lebih banyak menyapa konteks… Sebuah perjalanan membaca kehidupan nyata. 

Dari minggu ke minggu, saya mengajak kita semua untuk mencoba menyapa dengan hormat realitas keseharian, apakah tentang tampilan fisik yang dianggap “tidak sempurna”, atau tentang sistem sosial yang seringkali terasa tidak ramah, atau kadang juga saya "iseng" membincangkan iman di hadapan publik yang seringkali ruangnya dipersempit oleh "kebenaran" yang hanya diperuntukan bagi mereka yang dianggap “utuh” secara fisik... sehingga tidak disediakan akses bagi difabel untuk memasukinya

Jika kita menoleh ke 79 minggu di belakang, ada satu benang merah yang memang sengaja terus menerus saya munculkan dalam nada yang sama, adalah tema inklusi dan aksesibilitas, ...Bahwa masalah terbesar difabel bukanlah pada kondisi tubuhnya, tetapi pada cara dunia memandangnya … terkadang juga pada cara pemahaman agama atau keyakinan sesesorang dalam menilai difabel

Pada cukup banyak cerita saya sebelumnya, kita telah merenung misalnya bagaimana belas kasihan pada difabel seringkali menyamar sebagai kebaikan, padahal ia menyimpan ketimpangan. Kita juga menyaksikan bagaimana akses yang tidak setara diproduksi secara sistematis, ini bukan kebetulan. Ini masalah umum, bahkan dalam ruang-ruang keagamaan sekalipun, difabel masih sering ditempatkan sebagai objek, bukan subjek.

Lalu, apa yang sebenarnya saya coba renungkan selama 80 minggu tadarusan Difabel ini?

Ya, saya mengajak kita semua mengumpulkan cahaya. Kita semua sedang mencari cara untuk ikut berkontribusi mengembalikan manusia pada martabatnya... Nabi adalah sumber cahaya itu. "Nur Muhammad". Ini juga yang menginspirasi saya untuk menggagas metode Intervensi Cahaya Nabi untuk Difabel

Karena pada dasarnya, tidak ada satu pun ayat agama yang menempatkan manusia berdasarkan pada kesempurnaan fisiknya. Yang membedakan manusia bukanlah apa yang tampak, tetapi apa yang tersembunyi dalam kesadarannya, cara berpikirnya, cara merespons kehidupan, dan cara ia memperlakukan sesama. Taqwa

Perjalanan tadarus difabel ini juga telah memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa perubahan tidak selalu datang dari luar. Ia malah seringkali dimulai dari cara bagaimana kita melihat diri sendiri.

Banyak difabel tumbuh dalam narasi bahwa mereka “KURANG”. Narasi di tengah masyarakat ini tidak muncul begitu saja, tetapi diwariskan melalui keluarga, pendidikan, dan pola pikir masyarakat. Maka, ketika seseorang difabel mulai melihat dirinya sebagai UTUH, sebenarnya ia sedang melakukan revolusi, bukan hanya terhadap dirinya, tetapi mungkin terhadap seluruh sistem yang selama ini membatasinya.

Oleh sebab itulah dalam banyak tadarus sebelumnya, saya juga telah berbicara tentang apa yang saya sebut sebagai metode intervensi cahaya Nabi. Sebuah cara pandang yang mencoba melihat manusia bukan dari apa yang hilang, tetapi dari apa yang masih menyala di masyarakatnya

Pada titik inilah kita mulai memahami bahwa perjuangan difabel bukan hanya perjuangan akses, tetapi juga perjuangan makna. Perjuangan untuk mengubah cara dunia mendefinisikan nilai manusia… mendefinisikan Difabel

Dan mungkin, inilah pelajaran terpenting dari perjalanan 79 minggu tadarus difabel ini… 

Bahwa inklusi bukan sekadar menyediakan jalan masuk, tetapi mengubah cara kita melihat siapa yang berhak berjalan menuju jalan masuk itu.

Refleksi ini belum selesai. Malah justru di minggu ke-80 ini, kita dihadapkan pada pertanyaan… Apakah semua kisah ini sudah berhasil mengubah kita? Ataukah kita hanya menjadi lebih pandai berbicara dan menulis tanpa benar-benar berubah?

Karena sejatinya perubahan yang kita impikan itu mungkin tidak diukur dari banyaknya tulisan, tetapi dari keteguhan untuk bertindak berbeda… 

Masih banyak pekerjaan yang belum selesai.

Masih banyak ruang publik yang belum ramah.

Masih banyak cara berpikir yang menunggu diubah.

Ya memang banyak... Namun setidaknya, kita telah memulai sesuatu. Kita semua telah membangun kesadaran bahwa difabel bukanlah masalah yang harus diselesaikan, tetapi bagian dari kemanusiaan yang harus dipahami.

Dan oleh karena itulah, tadarus difabel yang telah berjalan berminggu minggu ini bukan hanya tentang difabel. Ia adalah tentang kita semua.

Tentang bagaimana cara kita belajar menjadi manusia yang bisa berusaha lebih adil, lebih sadar, dan lebih tertib dalam melihat kebenaran... Menyadari bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, diciptakan dengan nilai yang sama.

Cahaya apa yang sudah kita nyalakan?

Yogyakarta 20 April 2026