UIN SUKA

Senin, 18 Mei 2026 09:21:00 WIB

0

Dari ?DISABILITAS → Stigma → Luka Sosial → PENDEKATAN INTERVENSI CAHAYA NABI → Empati → Pendampingan → Pemberdayaan → Ke ?INKLUSI (Dr. Asep Jahidin Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga)

Disabilitas TERLALU SERING dipahami semata sebagai kondisi tubuh. Padahal secara sosial ia jauh lebih dalam dari sebatas persoalan fisik, sensorik, intelektual, atau mental melampaui yang disahkan dalam Undang-Undang Disabilitas No 8 Tahun 2016  itu… Saat kita menemani difabel, dalam pengalaman saya, di situ akan dapat kita rasakan sedemikian bermakna bahwa DISABILITAS ADALAH PENGALAMAN HIDUP MANUSIA SAAT BERHADAPAN DENGAN DUNIA YANG BELUM SEPENUHNYA RAMAH…. Bahkan bisa sama sekali TIDAK RAMAH

Banyak difabel sebenarnya tidak sedang kalah oleh kondisi tubuhnya, tetapi sedang bertahan MENGHADAPI LINGKUNGAN YANG SULIT MENERIMA PERBEDAAN.

Dalam kondisi lingkungan seperti demikian, persoalan terbesar difabel sering kali ditemukan bukan pada kaki yang tidak kuasa berjalan, mata yang tidak dapat melihat, atau telinga yang tidak bisa mendengar.

Ya, persoalan terbesar difabel sering kali muncul dan berakar kuat dari dunia yang terlalu betah atau dibiarkan dibangun hanya untuk manusia yang dianggap “normal (dalam tanda kutip)” , baik di rumah, di lingkungan kampus, perkantoran, industri kerja, sekolah, taman, ruang sosial dan ruang publik lainnya

Stigma

Akibatnya… Dari cara pandang dan lingkungan seperti demikian itulah stigma lahir. Stigma itu adalah luka yang sengaja dibuat atau dilahirkan oleh cara pandang negatif manusia terhadap manusia lain, singkatnya demikian kira-kira. Hal itu bisa saja muncul dalam bentuk tatapan meremehkan, candaan yang dianggap biasa, rasa kasihan dalam artian yang negatif yang itu berakibat merendahkan, hingga keputusan-keputusan sosial yang menyingkirkan para difabel secara tanpa sengaja, atau bahkan disengaja. Meskipun beberapa difabel juga memang memiliki masalah pribadi sebagimana juga bisa dimiliki oleh setiap orang

Dalam banyak cerita dan sejarah sosial, stigma itu akhirnya membuat manusia tidak lagi dilihat sebagai pribadi yang utuh, tetapi dilihat hanya sebagai sekumpulan kekurangan yang dimiliki seseorang atau kelompok.

Dalam kondisi seperti itu, dunia kemudian akan lebih sibuk membicarakan apa yang tidak bisa dilakukan difabel daripada mengenali cahaya yang ada di dalam diri setiap orang, termasuk cahaya pada difabel. Dan oleh karena itu tanpa disadari, stigma telah menjadi bentuk subversi sosial yang paling halus juga yang paling panjang umurnya…, jika manusia tidak berubah

Luka Sosial

Sekarang kita masuk pada bagian terdalamnya… Ketika stigma seperti di atas itu terus diulang-ulang, maka lahirlah luka sosial dalam beragam cerita dan derita… sepanjang pengalaman saya menemani difabel, termasuk di lingkungan PLD, banyak kisah bisa didengarkan... Ada difabel yang mulai merasa dirinya beban keluarga. Ada difabel yang takut hadir di ruang publik karena terbiasa dipandang aneh. Ada difabel yang kehilangan keberanian untuk bermimpi karena terlalu sering ditolak dan seterusnya… Ada banyak kisah lainnya, anda pun dapat menambahkan jika memilikinya

Luka sosial seperti itu memang tidak terlihat, tetapi ia berdampak perlahan mematahkan rasa percaya diri seseorang dan meredupkan cahaya pada dirinya... Itu akan membuat seseorang merasa tidak layak dicintai, tidak pantas untuk didengar, mungkin juga merasa tidak cukup berharga untuk hidup setara dengan orang lain.

Dan ini bisa semakin dalam lagi… karena sering kali, luka seperti ini jauh lebih berat dirasakan daripada keterbatasan fisik atau kondisi disabilitas yang dialami seseorang… Inilah inti dari definisi disabilitas yang saya maksud di atas itu, bahwa DISABILITAS adalah pengalaman hidup manusia saat berhadapan dengan dunia yang belum sepenuhnya ramah difabel.

PENDEKATAN INTERVENSI CAHAYA NABI

Di tengah pengalaman luka para difabel yang sedemikian itulah saya mengundang kehadiran Cahaya Nabi secara metodis. Dengan pondasi bahwa Nabi Muhammad tidak memandang manusia berdasarkan kesempurnaan tubuh. Beliau melihat manusia dari kemuliaannya sebagai manusia. Cara pandang ini juga berkembang dalam tradisi keilmuan modern termasuk dari cara pandang Ilmu Kesejahteraan Sosial yang meyakini pada dasarnya manusia itu mulia, dan dalam tradisi hukum, inilah yang dikenal sebagai Hak Asasi Manusia.

Nabi adalah model perubahan sosial konkret. Nabi tidak datang untuk memperbesar kekurangan manusia, Nabi datang untuk kesempurnaan akhlak, cara kita memperlakukan manusia, untuk menguatkan martabatnya. Nabi merubah struktur sosial dan menempatkan difabel di sisi yang kuat. Ketika dunia gemar memberi label atau stigma, Nabi menghadirkan sikap penerimaan. Barangkali inilah yang kita rasakan paling hilang dari kehidupan modern hari ini, cara melihat manusia. Ini adalah inti dari Pendekatan Intervensi Cahaya Nabi untuk difabel.

Pendekatan Cahaya Nabi adalah cara memandang manusia berdasarkan kemuliaan martabatnya yang diturunkan pada aspek sikap, gerakan interpersonal, hingga kebijakan dan dialektika sosial untuk menemukan kekuatan dalam diri difabel dan masyarakat, dan kekuatan itulah yang saya sebut dengan Cahaya Nabi yang dapat digunakan untuk membangun Inklusi sosial

Empati

Empati adalah pintu pertama menuju Intervensi Cahaya Nabi itu. Empati bukan merasa paling memahami penderitaan orang lain, empati adalah kesediaan untuk hadir dari sudut pandang mereka tanpa meremehkan luka mereka. Empati membuat kita berhenti bertanya, “Apa kekuranganmu?” lalu mulai bertanya, “Apa yang kamu rasakan?” kita dapat rasakan, dunia hari ini terlalu cepat memberi solusi, tetapi terlalu lambat mendengar, bahkan kehilangan seni mendengarkan. Padahal kita masing-masing dapat merasakan kadang manusia tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi saat hidup terasa berat… kita semua dapat merasakan kebutuhan ini

Pendampingan

Dari empati yang sedemikian itu maka lahirlah proses pendampingan emansipatoris. Pendampingan dalam tradisi akademik maupun gerakan sosial tidak dimaknai sebagai tindakan merasa lebih kuat terhadap yang dianggap lemah atau yang didampingi. Pendampingan adalah cara berjalan bersama tanpa mengambil martabat seseorang.

Nabi mengajarkan bahwa membantu manusia tidak boleh membuat manusia kehilangan harga dirinya, tidak boleh mematikan cahaya dalam dirinya. Maka pendampingan sejati bukan membuat kelompok rentan atau dalam hal ini difabel bergantung selamanya, tetapi memastikan mereka tetap memiliki ruang untuk memilih, untuk tumbuh, untuk belajar, dan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Sebab setiap manusia ingin dihormati, bukan dikendalikan… setiap orang dapat merasakan hal seperti ini

Pemberdayaan

Ketika pendampingan dilakukan dengan penghormatan, maka dari relasi sedemikian itu lahirlah apa yang disebut sebagai proses pemberdayaan. Difabel bukan objek belas kasihan. Mereka adalah manusia yang memiliki kemampuan, pengalaman hidup yang sangat berharga, pengetahuan, kreativitas, dan ketahanan yang sering kali luar biasa. Pemberdayaan dalam konteks ini berarti membuka ruang agar cahaya itu terlihat. Agar cahayanya bersinar.

Pemberdayaan struktural dengan memberi akses pendidikan. Membuka kesempatan kerja. Mendengar suara mereka dalam kebijakan. Mengizinkan mereka menjadi subjek dalam hidupnya sendiri. Itulah proses pemberdayaan dengan model Intervensi Cahaya Nabi. Karena sesungguhnya manusia akan tumbuh ketika dipercaya bahwa dirinya berharga.

INKLUSI

Perjalanan akhir dari semua proses di atas itu akan bermuara pada inklusi. Pada fase ini, inklusi tidak dimaknai terbatas pada jalur kursi roda, guiding block, atau penerjemah bahasa isyarat, meski semuanya itu sangat penting. Inklusi adalah sebuah kondisi sosial, sebuah keadaan ketika manusia tidak perlu menyembunyikan disabilitasnya agar diterima. Ketika perbedaan tidak dianggap ancaman. Ketika ruang sosial dibangun dengan kesadaran bahwa semua manusia memiliki hak yang sama untuk hadir, dicintai, dihormati, dan berpartisipasi.

Inklusi adalah wajah peradaban yang matang. Peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga dewasa secara sosial dalam memanusiakan manusia. Inklusi tidak hanya untuk difabel atau untuk tema tentang difabel saja, tetapi inklusi berbicara tentang semua orang termasuk kita semua.

Apakah ketika sudah tercapai tujuan Inklusi tersebut, semuanya sudah selesai ?

Belum selesai. Ada upaya untuk keberlanjutan di situ… Karena inklusi itu bukan benda mati, ia seperti keimanan kita, yaziidu wa yangkusu…  ia turun naik. Indeks inklusi juga sama, kadang ia turun, kadang ia naik… Inklusi adalah sebuah kondisi sosial yang harus terus kita rawat, dijaga iramanya… Salah satu upaya merawatnya adalah dengan pendekatan Intervensi Cahaya Nabi itu...

dan ketahuilah bahwa pada level makro menjadi masyarakat inklusi itu adalah sebuah pertarungan dan keputusan sosial politik. Dalam situasi di mana indeks inklusi menurun, mengalami guncangan atau semua tahapan intervensi itu tidak lagi linier, maka Intervensi Cahaya Nabi harus bertransformasi dari pendekatan interpersonal menjadi gerakan advokasi kebijakan yang tegas dan menjelma sebagai sebuah dialektika sosial-politik.

Mungkin, jika Nabi datang hari ini kepada kita, beliau akan pertama-tama akan menyapa...

"Apakah manusia paling rentan di negerimu sudah benar-benar diperlakukan sebagai manusia?"

Meniti jalan

Yogyakarta, 18 Mei 2026