Perjalanan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sesungguhnya adalah perjalanan mencari titik temu. Ia lahir dari kesadaran bahwa umat Islam membutuhkan sistem kalender yang tidak hanya akurat secara astronomis, tetapi juga mampu menghadirkan kepastian dan kebersamaan dalam menjalani waktu-waktu ibadah. Konferensi Turki 1437 H/2016 M menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut. Hasilnya bukanlah milik satu organisasi atau kelompok, melainkan buah ikhtiar kolektif yang semestinya dijaga bersama.
Menariknya, gagasan KHGT kini memperoleh resonansi yang semakin luas. Muslim Eropa dan Amerika melihatnya sebagai kebutuhan nyata dalam kehidupan keagamaan mereka. Para alumni pesantren, guru besar, tokoh falak perempuan, dan generasi milenial pun memberikan apresiasi positif. Keragaman mereka menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kalender global bukan lagi sekadar gagasan elitis di ruang akademik. Ia mulai menjadi harapan umat yang menginginkan kepastian dan kebersamaan dalam mengelola waktu.
Namun, di balik apresiasi tersebut tersimpan pertanyaan mendasar, mampukah para pengusung KHGT konsisten terhadap kesepakatan yang telah mereka bangun sendiri? Pertanyaan ini penting karena kalender global pada hakikatnya dibangun di atas kepercayaan. Ketika sebuah kesepakatan telah dicapai, pengguna hasil kesepakatan tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya. Jika terdapat persoalan, ruang koreksi tentu selalu terbuka. Akan tetapi, koreksi semestinya ditempuh melalui dialog dan mekanisme bersama, bukan melalui perubahan sepihak yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru.
Dalam perspektif ini, kasus penetapan awal Ramadan 1447 H seharusnya menjadi bahan perenungan bersama. Persoalannya bukan sekadar perbedaan tanggal, melainkan bagaimana sebuah kesepakatan global diperlakukan ketika berhadapan dengan persoalan konkret. Muhammadiyah perlu menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran penting. Sebagai salah satu kekuatan utama dalam pemikiran kalender Islam, konsistensi Muhammadiyah akan sangat menentukan kepercayaan publik terhadap masa depan KHGT.
Sebab, tantangan terbesar KHGT mungkin bukan terletak pada kemampuan menghitung awal bulan. Astronomi telah berkembang sedemikian maju. Tantangan yang lebih berat justru terletak pada kemampuan manusia untuk menjaga komitmen terhadap kesepakatan. Kalender dapat dihitung dengan rumus yang presisi, tetapi persatuan membutuhkan kepercayaan dan keteguhan sikap.
Karena itu, masa depan KHGT harus dirawat sebagai proyek peradaban bersama. Perbedaan pandangan tetap harus dihormati, tetapi kesepakatan yang telah dicapai juga tidak boleh diperlakukan secara selektif. Setiap perubahan mendasar perlu dikomunikasikan, diuji, dan diputuskan melalui mekanisme kolektif.
Pada akhirnya, KHGT bukan hanya tentang bagaimana umat Islam menentukan tanggal yang sama. Ia adalah ujian tentang kemampuan umat membangun dan mempertahankan kesepakatan di tengah keragaman. Kesepakatan telah menjadi titik awal. Konsistensi adalah jalan yang harus dijaga. Kepercayaan adalah modalnya. Dan persatuan umat merupakan tujuan akhirnya.
Wa Allahu A'lam bi as-Sawab