UIN SUKA

Senin, 14 September 2026 09:12:00 WIB

0

Epistemologi KHGT Diyanet Turki dan KHGT Muhammadiyah : Serupa Tapi Tak Sama : Prof. Dr. Susiknan Azhari Guru Besar Fak. Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dalam beberapa artikel yang ditulis, saya pernah menggunakan singkatan KHGT menjadi Kalender Hijriah Global Turki. Singkatan ini berbeda yang berkembang sebelumnya. Dari tulisan tersebut kemudian muncul pertanyaan: apakah huruf “T” berarti Turki atau Tunggal? Ketika itu saya menjawab bahwa keduanya dapat digunakan bergantung pada konteks. Keduanya memang memiliki gagasan dasar yang sama, tetapi dalam perkembangan dan penerapannya ternyata tidak sepenuhnya identik.

Selanjutnya perlu ditegaskan, jika saya mengatakan bahwa KHGT merupakan milik umat Islam sedunia, yang saya maksud adalah KHGT dalam pengertian Kalender Hijriah Global Turki yang kemudian diterapkan oleh Diyanet. Adapun KHGT Muhammadiyah secara normatif juga berpijak pada hasil Kongres Kalender Hijriah Internasional Istanbul 1437/2016. Dengan kata lain KHGT Muhammadiyah adalah bagian dari KHGT Diyanet. Hanya saja, dalam perkembangannya terdapat pemaknaan yang lebih luas terhadap konsep daratan Amerika. Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya rujukan kepada Kongres Istanbul, melainkan pada bagaimana rumusan yang sama dipahami dan diterapkan secara berbeda.

Perbedaan tersebut menjadi nyata ketika terjadi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 H. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT Muhammadiyah) menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026, sedangkan Kalender Hijriah Global Turki (KHGT DiyanetTurki) menetapkannya pada 19 Februari 2026. Perbedaan ini salah satunya berkaitan dengan cara memahami konsep “daratan Benua Amerika” sebagaimana dirumuskan dalam Kongres Kalender Hijriah Internasional Istanbul 1437/2016.

KHGT Muhammadiyah memahami rumusan tersebut secara tekstual-geografis, sehingga Alaska termasuk dalam cakupan daratan Benua Amerika. Sementara itu, KHGT Diyanet Turki mempertahankan pemahaman historis yang berkembang dalam proses perumusan keputusan kongres. Berdasarkan kesaksian pihak yang terlibat dalam “Tim Kecil”, bahwa istilah “daratan Benua Amerika” ketika itu tidak memasukkan Alaska sebagai bagian daratan Amerika. Persoalannya, pemahaman tersebut tidak dituangkan secara eksplisit dalam dokumen keputusan kongres.

Di sinilah persoalan KHGT menjadi lebih luas daripada sekadar persoalan astronomi. Ia menyentuh wilayah epistemologi dan hermeneutika, terutama mengenai bagaimana sebuah teks dipahami dengan memperhatikan konteks, proses, dan maksud ketika teks tersebut dirumuskan. Karena itu, persoalan Alaska lebih tepat dipahami sebagai problem hermeneutika dokumen Kongres Istanbul 1437/2016, bukan semata-mata problem astronomi.

Kedua pendekatan tersebut tentu memiliki dasar argumentasinya masing-masing. Namun, ketika perbedaan interpretasi menghasilkan perbedaan konkret dalam penetapan awal bulan, persoalan tersebut perlu dilihat dari tujuan utama kalender global yaitu menghadirkan kepastian, kesatuan, dan kemaslahatan umat. Pada saat itu, ada pihak yang menyarankan agar KHGT Muhammadiyah "berlapang dada" mengikuti penerapan Diyanet Turki demi kemaslahatan bersama karena Turki telah mengimplementasikannya kurang lebih sepuluh tahun. Bahkan kasus semacam ini tidak banyak ditemukan. Problem-problem krusial seputar KHGT bisa didialogkan di kemudian hari dengan pihak Diyanet Turki.

Namun dalam kenyataannya, saran tersebut belum sepenuhnya mendapat perhatian. Akibatnya, sesama pengguna KHGT mengalami perbedaan dalam menentukan awal Ramadan 1447 H. Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan istilah, melainkan telah menjadi perbedaan dalam memahami dan menerapkan rumusan yang sama hasil konferensi di Istanbul Turki 1437/2016.

Dengan demikian, KHGT Muhammadiyah dan KHGT Diyanet Turki memiliki akar normatif, prinsip, dan tujuan yang sama, tetapi berbeda dalam pemahaman dan implementasinya. Keduanya dapat disebut serupa, tetapi tidak sama. Oleh karena itu, penting membedakan kesamaan gagasan dasar dari kesamaan penerapan. Jika cita-cita akhirnya adalah terwujudnya kalender hijriah global yang menyatukan umat, maka kesamaan prinsip perlu diikuti dengan kesamaan pemahaman dan konsistensi dalam penerapannya.

Wa Allahu A'lam bi as-Sawab