Pada sebuah kesempatan… dalam hangatnya pagi di hari Minggu, saya berkunjung ke Kabupaten Magelang menemani Ketua LPPM UIN Sunan Kalijaga bersama Korpus Pengabdian kepada Masyarakat dan Korpus SDGs. Kami datang bersama dengan Pak Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor.
Ada suasana yang agak berbeda hari itu. Kami tidak sedang berada di kampus. Tidak sedang rapat atau duduk di ruang presentasi. Kami sedang berada di tengah teman-teman difabel Tuli di sebuah kampung yang bercahaya, Dusun Selobendo, Desa Banyudono, Kecamatan Dukun di wilayah Magelang.
Ada sekitar 45 orang Tuli yang berkumpul bersama kami. Mereka adalah bagian dari sebuah kelompok pengajian yang selama ini dibina oleh Beni Sasongko
Beni adalah seorang difabel Tuli. Ia juga alumni Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Kalijaga. Dengan kata lain, Beni adalah alumni PLD. Beni menjadi tokoh penting di komunitas tersebut. Ia menginisiasi pengajian rutin yang dia beri nama “Ngaji Sunyi”
Saya tersenyum mendengar nama pengajian itu, Ngaji Sunyi. dalam hati saya menduga, pengajian ini pasti tidak akan membutuhkan mikrofon. Tidak perlu sound system, apalagi petugas yang akan sibuk meniup, mengetuk-ngetuk mikrofon untuk memastikan suaranya terdengar…
Sunyi… sesuai Namanya, Ngaji Sunyi
Tetapi semakin lama saya berada di tengah mereka, saya justru merasa bahwa tempat itu sama sekali tidak sunyi. Saya menyapa dan menyaksikan tangan mereka bergerak ke sana kemari. Mata saling memperhatikan. Wajah mereka berekspresi…
Mereka membahasa dalam bahasa isyarat. Mereka sedang berbicara. Mereka sedang belajar. Ya, mereka sedang mengaji… Hanya saja, cara mereka mengaji dan berkomunikasi berbeda dari cara yang selama ini paling sering kita kenal.
Pendek cerita… Dari pengajian itu kemudian berkembang berbagai kegiatan lain. Salah satunya adalah usaha kambing.
Ya, kambing… persisnya usaha penggemukan kambing
Teman-teman Tuli itu sekarang tidak hanya mengaji bersama, tetapi juga mengembangkan usaha bersama. Mereka membesarkan kambing, mengembangkan kegiatan ngarit dan ngangon wedhus yang dilakukan secara metodis ditemani oleh LPPM. Hasil riset harian mereka itu lalu dihilirisasi sampai pada tingkat memikirkan bagaimana usaha tersebut bisa menjadi sumber penghidupan mereka bersama.
Pak Muhib, mewakili PT Astra, tertarik dengan kegiatan tersebut. Astra kemudian memberikan dukungan pembiayaan bagi usaha kambing kelompok difabel Tuli yang dibina Beni itu.
Saya pun hari itu berkesempatan memeriksa langsung kondisi kandang kambing itu dan diajak untuk melihat penghuninya, menyapa kambing-kambing itu sambil tersenyum... Saya berkeliling kandang sambil membayangkan perjalanan Beni yang telah membawa kami semua sampai tiba ke tempat ini.
Ternyata Panjang kisahnya… Dalam sesi diskusi Beni kemudian bercerita kepada kami…
...Setelah lulus dari UIN Sunan Kalijaga, Beni pulang ke Magelang. Di kampung halamannya tersebut, ia tertegun menyaksikan teman-teman dia difabel Tuli Muslim di kampungnya yang ternyata belum mendapatkan akses yang cukup terhadap ilmu dan pengetahuan agama mereka.
Beni bercerita, teman-teman tuli di kampungnya ada yang bahkan bertanya pada Beni, "apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan?" . Mendengar pertanyaan dari teman tulinya yang muslim itu, Beni merasakan sangat sedih di hatinya…
Saya membayangkan seorang Beni yang baru saja pulang lulus dari UIN. Ia membawa ilmu agama. Kemudian ia melihat kenyataan di sekitarnya. Mungkin waktu itu ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Kalau boleh sedikit saya dramatisir cerita ini, kira-kira, mungkin pada saat itu “jiwa ke-UIN-an Beni meronta-ronta.”
Beni merasa bahwa ilmu yang diperolehnya di kampus tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri. Lalu Ia mulai mengajari teman-teman Tuli di kampungnya. Mengaji bersama. Belajar agama bersama semampunya… Mengenal Allah bersama.
Pengajian itu lalu diminati oleh teman-teman Tuli lainnya yang tinggal di luar kecamatan tempat Beni tinggal, hingga anggotanya berjumlah 45 orang berasal dari kampung Beni dan wilayah sekitarnya
Pelan-pelan terbentuklah komunitas. Dan komunitas itu kemudian berkembang dan lalu aktifitas pengajian mereka itu diberinama Ngaji Sunyi.
Dari Ngaji Sunyi kemudian tumbuh kegiatan-kegiatan lain… Salah satunya usaha penggemukan kambing.
Saya jadi berpikir, begitulah kadang-kadang ilmu bekerja. Beni berangkat belajar di kampus. Lulus dan pulang ke kampung. Bertemu persoalan nyata di sana. Lalu kegelisahannya berubah menjadi gerakan. Dan kali ini, di tangan Beni, gerakan itu bahkan berkembang sampai ke usaha penggemukan kambing.
Salah satu orang yang mendengarkan cerita Beni di hari itu adalah Pak Muhib yang duduk bersama kami di forum tersebut... Setelah Beni selesai bercerita, sekarang giliran Pak Muhib yang bercerita.
Pak Muhib mengisahkan pengalaman yang ternyata kisahnya sudah terjadi jauh sebelum pertemuan kami di Magelang itu...
Jadi ternyata, pada suatu Ketika, Pak Muhib pernah sholat Jumat di Masjid UIN Sunan Kalijaga. Di sana ia melihat khutbah Jumat diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat… Ia terkesima dengan momen tersebut.
Khutbah yang biasanya kita dengarkan dengan telinga ternyata dapat hadir dalam bahasa isyarat tangan bagi jamaah Tuli.
Kita semua telah mengetahui bahwa tradisi penerjemahan khutbah Jumat di Masjid UIN memang sudah berlangsung belasan tahun. Sejak 2013 di masa PLD dipimpin Pak Arif Maftuhin, tradisi itu terus kami rawat di UIN Jogja hingga sekarang.
Bagi kita yang terbiasa mendengar khutbah, mungkin kehadiran penerjemah bahasa isyarat terlihat sederhana. Tetapi bagi jamaah Tuli, ia adalah jembatan bagi mereka, hingga pesan khutbah bisa sampai di hati mereka.
Jembatan yang sengaja kita bangun agar mereka dapat mengikuti kehidupan keagamaan bersama jamaah lainnya. Agar mereka, sebagai jemaah tuli, juga bisa punya akses langsung menuju Tuhannya
Dan ternyata pengalaman sederhana itu membekas pada benak Pak Muhib. Hingga saat ini PT Astra sendiri sudah belasan tahun mendukung mahasiswa difabel di PLD UIN Sunan Kalijaga terutama dalam program pemberian beasiswa studi untuk mahasiswa difabel. Sudah banyak mahasiswa difabel maupun relawan inklusi yang menerima beasiswa tersebut
Mendengarkan cerita Pak Muhib itu, saya seperti melihat dua cerita yang awalnya berjalan sendiri-sendiri, tapi kemudian kedua alurnya bertemu di Magelang ini…
Saya tentu sudah lama mengenal Beni, saya bertemu sejak Beni menjadi mahasiswa kami di PLD dulu… Tapi sekarang, di hari pertemuan itu saya kemudian memanggilnya Ustadz Beni Sasongko.
Ustadz Beni yang juga merupakan salah satu tokoh difabel Tuli yang terlibat dalam tim penyusun Al-Qur'an Bahasa Isyarat yang dibentuk oleh Kementerian Agama RI.
Al-Qur'an Bahasa Isyarat itu kini sudah dapat diakses lebih luas, dengan dukungan dari komunitas Muslim di berbagai negara.
Beni juga bercerita bahwa ia sudah berkeliling dunia… Ia menyebut Amerika. Eropa. Negara-negara Asia. Ia pergi untuk berbagai kegiatan komunitas Tuli.
Para tokoh kampung yang kami undang dan hadir di hari pertemuan itu tampak berdecak kagum mendengarnya kisah Beni, Saya juga merasakan hal itu.
Tetapi yang membuat saya lebih terharu justru bukan cerita tentang perjalanan Beni ke berbagai negara. Saya teringat bagaimana awal perjalanannya Beni dulu di PLD UIN Sunan Kalijaga...
Seorang anak muda Tuli. Kuliah dari UIN Suka. Pulang kampung ke Magelang. Melihat teman-temannya membutuhkan ilmu. Lalu ia bergerak… dan dari sanalah lahir Ngaji Sunyi.
Dari Ngaji Sunyi lahir komunitas. Dari komunitas lahir usaha. Dan dari usaha itu kemudian datang dukungan masyarakat, salah satunya dari Astra.
Pada Hari Minggu yang sudah mulai memasuki waktu Zuhur itu saya melihat Beni dan Pak Muhib berada dalam satu ruang... Yang satu seorang difabel Tuli, alumni UIN Jogja dan tokoh di komunitasnya. Yang satu seorang General Manager sebuah perusahaan besar, Astra.
Latar belakang mereka tentu berbeda. Tetapi ada sesuatu yang mempertemukan mereka. Keduanya sedang melakukan sesuatu untuk kehidupan orang lain. Beni melakukannya dengan sumbangan ilmu dan pengabdiannya kepada komunitas Tuli, sementara itu, Pak Muhib melakukannya melalui dukungan Astra terhadap berbagai program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan.
Saya kemudian merenung, mungkin begitulah sejatinya cara pertemuan manusia... Kita tidak harus memiliki latar belakang yang sama. Kita tidak harus menggunakan cara yang sama. Kita bahkan tidak harus berbicara dengan bahasa yang sama... Mungkin cukup dengan silaturahmi
Yang penting, kita bertemu dalam kepedulian yang sama. Dan di hari itu saya semakin memahami nama pengajian Beni itu, Ngaji Sunyi.
Di sana tidak banyak suara. Tetapi banyak yang sedang dibicarakan. Tidak banyak bunyi. Tetapi banyak yang sedang dipelajari, ada ilmu di situ... Tidak perlu suara sound system. Tetapi ada kehidupan.
Dan mungkin justru karena itulah saya merasa bahwa hari Minggu itu kami semua sebenarnya sedang melakukan hal yang sama, yaitu saling menemani.
Astra menemani kelompok Tuli. Beni menemani teman-teman Tulinya. PLD menemani alumninya. LPPM menemani masyarakat. Dan kami semua, tanpa terasa, sedang ditemani oleh teman-teman Tuli untuk belajar kembali tentang arti mendengar.
Hari Minggu sore itu saya pulang dari Magelang dengan satu kesan sederhana... Terkadang sebuah pengajian tidak membutuhkan suara untuk menyampaikan pesan…
Kadang ilmu juga tidak harus selalu tinggal di kampus. Ilmu bisa diperoleh dari sebuah usaha pemberdayaan yang bisa dimulai dari apapun.
Sebuah perjumpaan antara kami semua, alumni kami, difabel Tuli, masyarakat dan para petinggi sebuah raksasa Industri dapat mengingatkan kita, bahwa kehidupan menjadi lebih baik ketika manusia bersedia saling menemani satu sama lain…
Itulah tadarus yang dapat saya petik pada hari minggu yang cerah itu… pada suatu hari di Magelang