UIN SUKA

Kamis, 24 September 2026 15:40:00 WIB

0

KHGT–MABIMS: Jangan Berhenti pada Perbedaan : Prof. Dr. Susiknan azhari Guru Besar Fakultas syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga

Perdebatan mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dan kriteria MABIMS belakangan ini menunjukkan kecenderungan yang menarik. Berbagai data perbandingan terus dihadirkan untuk menunjukkan kapan kedua pendekatan menghasilkan tanggal yang sama dan kapan menghasilkan tanggal berbeda. Data tersebut tentu penting sebagai bahan kajian. Namun, jika perbandingan yang sama terus diulang tanpa melahirkan pertanyaan atau gagasan baru, diskusi berisiko berjalan di tempat. Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya data, melainkan pada bagaimana data tersebut digunakan untuk mengembangkan pembahasan.

Jika data menunjukkan bahwa KHGT dan MABIMS berbeda satu hari pada tahun tertentu, fakta itu perlu dicatat. Jika pada tahun lain keduanya menghasilkan tanggal yang sama, fakta tersebut juga harus dicatat. Keduanya merupakan informasi yang sama-sama penting. Akan tetapi, menjadikan perbedaan tanggal sebagai kesimpulan akhir belum cukup untuk menjawab persoalan yang lebih besar mengenai masa depan kalender Hijriah. Data seharusnya menjadi titik awal untuk melakukan analisis lebih mendalam, bukan menjadi titik akhir sebuah dialog. Pada tahap inilah diskusi KHGT–MABIMS perlu bergerak ke persoalan yang lebih substantif.

Perdebatan tentang kalender Hijriah sebelumnya banyak berkisar pada perbedaan kriteria astronomis. Perbedaan dua derajat, tiga derajat, lima derajat, elongasi tertentu, dan parameter lainnya menjadi bahan perdebatan sekaligus ruang untuk mencari titik temu. Kini persoalannya berkembang. Perbedaan tidak lagi semata-mata menyangkut angka, tetapi juga menyentuh konstruksi kalender regional atau global, wilayah acuan atau keberlakuan universal, serta bagaimana satu tanggal dapat dibangun dan diberlakukan bagi umat Islam yang hidup di berbagai belahan dunia. Perubahan persoalan ini semestinya diikuti perubahan cara berdiskusi.

Jika perbedaan kriteria masih memungkinkan pencarian parameter yang dapat disepakati, perbedaan konstruksi kalender membutuhkan dialog yang lebih mendasar. Yang dipertanyakan bukan hanya berapa derajat ketinggian hilal atau berapa nilai elongasi yang digunakan, melainkan untuk siapa kalender dibuat, di mana kalender berlaku, bagaimana mekanisme keberlakuannya, dan prinsip apa yang menjadi landasannya. Karena itu, terus-menerus menunjukkan bahwa KHGT dan MABIMS menghasilkan tanggal berbeda sebenarnya belum menjawab persoalan. Kita sudah mengetahui adanya perbedaan tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah apa makna perbedaan itu bagi upaya membangun kalender hijriah yang lebih unifikatif.

Di sinilah posisi pihak yang berada di luar dua arus utama menjadi penting. Jika ada pihak yang mengambil posisi sebagai kelompok ketiga, perannya semestinya tidak berhenti pada membuat tabel perbandingan antara KHGT dan MABIMS. Posisi tersebut justru memiliki peluang untuk menawarkan perspektif yang lebih luas, bukan sekadar menunjukkan perbedaan, melainkan membantu menemukan kemungkinan titik temu. Sebab, apabila kelompok ketiga hanya mengatakan bahwa KHGT berbeda dengan MABIMS dan kemudian menunjukkan data perbedaan tahun demi tahun, kontribusinya berhenti pada dokumentasi. Dokumentasi memang berguna, tetapi belum cukup untuk membawa diskusi ke tingkat berikutnya.

 

Kelompok ketiga semestinya tidak hanya menjadi pencatat perbedaan, tetapi juga pencari kemungkinan. Ini bukan berarti perbedaan antara KHGT dan MABIMS harus disamarkan. Sebaliknya, perbedaan perlu dijelaskan secara jernih dan objektif. KHGT dan MABIMS memang memiliki karakter serta orientasi yang berbeda. MABIMS berkembang dalam kerangka kerja sama regional, sedangkan KHGT membawa gagasan keberlakuan kalender secara global. Perbedaan tersebut merupakan fakta metodologis yang perlu diakui. Namun, mengakui perbedaan tidak sama dengan menyimpulkan bahwa dialog menjadi mustahil.

Kita juga perlu membedakan antara kesamaan sistem dan kemungkinan berdialog. KHGT dan MABIMS tidak harus menjadi sistem yang sama terlebih dahulu untuk dapat didialogkan. Justru karena memiliki perbedaan, dialog menjadi diperlukan. Demikian pula, data perbandingan perlu dibaca secara proporsional. Ketika terdapat perbedaan tanggal, hal itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa salah satu sistem harus ditolak. Sebaliknya, ketika terdapat kesamaan tanggal, hal tersebut juga tidak berarti kedua sistem memiliki metodologi yang sama. Kesamaan hasil dapat menunjukkan ruang kedekatan, sedangkan perbedaan hasil menunjukkan adanya persoalan metodologis yang masih perlu dikaji.

Dengan demikian, perbedaan hasil dan perbedaan sistem harus ditempatkan pada tingkat analisis yang berbeda. Perbedaan hasil menjawab pertanyaan kapan kedua sistem menghasilkan tanggal yang tidak sama. Perbedaan sistem menjelaskan mengapa kedua pendekatan dapat menghasilkan keputusan tersebut. Sementara itu, dialog paradigma mengajukan pertanyaan yang lebih jauh: apakah perbedaan tersebut dapat dikelola untuk mencapai tujuan yang lebih luas? Pertanyaan terakhir inilah yang semestinya memperoleh perhatian lebih besar. Sebab, diskusi kalender tidak seharusnya hanya menghasilkan daftar perbedaan, tetapi juga membuka kemungkinan untuk memahami, menguji, dan mempertemukan berbagai pendekatan.

Jika visi besarnya adalah menghadirkan kalender hijriah yang mampu memberikan kepastian tanggal bagi umat Islam secara lebih luas, maka perdebatan tidak cukup berkutat pada siapa yang berbeda dan berapa kali perbedaan itu terjadi. MABIMS memiliki pengalaman membangun kesepakatan regional melalui proses dialog yang panjang, sedangkan KHGT menawarkan perspektif mengenai kemungkinan kalender dalam skala global. Keduanya dapat menjadi bahan pembelajaran. Perbedaan tidak perlu dihapus, tetapi dapat ditempatkan dalam ruang dialog untuk menguji asumsi, memperbaiki argumentasi, dan mencari mekanisme yang lebih dapat diterima.

Pada akhirnya, persoalan kalender hijriah bukan sekadar kompetisi antara KHGT dan MABIMS. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan panjang umat Islam dalam mencari sistem penanggalan yang dapat mempertemukan tuntutan agama, astronomi, dan kehidupan sosial. Karena itu, jangan berhenti pada perbedaan. Data perbandingan sudah tersedia, perbedaan tanggal telah diketahui, dan perbedaan paradigma juga dapat dipetakan. Tahap berikutnya adalah mengubah semua pengetahuan tersebut menjadi bahan untuk membangun dialog yang lebih produktif. Data yang sama dapat digunakan untuk memperpanjang perdebatan, tetapi juga dapat menjadi pijakan untuk melampaui perdebatan. Di situlah kualitas dialog diuji, bukan pada seberapa banyak perbedaan ditemukan, melainkan pada seberapa jauh perbedaan mampu membawa kita menuju kemungkinan titik temu.

 

Wa Allahu A'lm bi as-Sawab