Yang saya hormati,
Ketua dan Anggota Senat Akademik UIN Sunan Kalijaga,
Para Wakil Rektor, Kabiro, Dekan, Direktur Pascasarjana, Ketua-Ketua Lembaga, Kepala Pusat, Kepala UPT, Wakil Dekan, serta para Kaprodi dan Sekprodi
Para Guru Besar, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan seluruh keluarga besar UIN Sunan Kalijaga yang saya banggakan,
Yang saya muliakan,
para tamu undangan dan hadirin yang berbahagia.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas rahmat dan karunia-Nya, pada hari yang bersejarah ini kita dapat bersama-sama memperingati 75 tahun perjalanan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Salawat dan salam kita aturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Tujuh puluh lima tahun adalah usia istimewa bagi sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Berdiri pada 1951, sejarah UIN Sunan Kalijaga telah melewati berbagai fase—dari PTAIN, IAIN, lalu menjadi UIN—dan menempuh perjalanan panjang untuk terus bertumbuh, merespons perubahan zaman, dan memperluas kontribusinya bagi bangsa, negara dan peradaban umat manusia. Berawal dari cita-cita menghadirkan pendidikan tinggi Islam dan mendukung cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, UIN Sunan Kalijaga kini berkembang menjadi universitas yang mempertemukan khazanah keislaman dengan sains, teknologi, ilmu sosial, dan humaniora, sekaligus memperkuat perannya di tingkat nasional dan global.
Pada usia ke-75 ini, UIN Sunan Kalijaga meraih sejumlah capaian akademik dan kelembagaan yang sangat mengesankan. Kerja kolektif seluruh sivitas akademika telah membawa kampus ini semakin terlihat dalam peta pendidikan tinggi dunia. Capaian tersebut menjadi ukuran atas kemajuan yang telah ditempuh sekaligus pijakan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tata kelola universitas.
Sejalan dengan keberhasilan UIN Sunan Kalijaga dalam meningkatkan keunggulan akreditasi program-program studinya maupun memperoleh akreditasi internasional FIBAA dan ASIIN, pengakuan demi pengakuan akademik internasional sukses diraih. Dalam QS World University Rankings by Subject 2026, bidang Theology, Divinity, and Religious Studies UIN Sunan Kalijaga menempati peringkat ke-37 dunia. Posisi tersebut memperlihatkan semakin kuatnya rekognisi internasional terhadap tradisi dan pengembangan studi keagamaan di UIN Sunan Kalijaga.
Pengakuan serupa terlihat dalam SCImago Institutions Rankings 2026. Bidang Religious Studies UIN Sunan Kalijaga berada di peringkat ketujuh dunia dan menjadi yang tertinggi di antara Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Bidang Philosophy menempati peringkat ke-297 dunia atau 3 nasional, sedangkan bidang Law berada di posisi 262 dunia atau 5 nasional.
Jejak akademik tersebut diperkuat oleh produktivitas penelitian dan publikasi ilmiah. Berdasarkan data SINTA, UIN Sunan Kalijaga menempati posisi teratas di antara PTKIN. Capaian itu tumbuh dari kerja para dosen dan peneliti dalam mengembangkan pengetahuan, memperluas kolaborasi, serta menghadirkan hasil riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Demikian juga dalam hal dampak riset (research impact), sebagaimana terlihat pada instrumen pengukuran global Scival, UIN Sunan Kalijaga berada di posisi yang sangat menonjol, tidak saja pada lingkup PTKIN namun juga seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Hal ini menjadi modal dasar bagi UIN Sunan Kalijaga untuk menatap posisi yang sangat prestisius pada Time Higher Education World University Ranking (THE WUR) 2027, di posisi yang mungkin tidak pernah dibayangkan siapapun, melewati kampus-kampus top di Indonesia.
Perhatian terhadap masa depan bumi turut menjadi bagian dari arah pengembangan universitas. Dalam UI GreenMetric 2026, UIN Sunan Kalijaga menempati peringkat ke-31 nasional, meningkat dari posisi ke-57 pada tahun sebelumnya. UIN Sunan Kalijaga juga memperoleh Trees Rating 3,5–4 dan kepatuhan serta penghargaan sebagai Perguruan Tinggi dengan Peningkatan Kinerja Keberlanjutan Substantif Terbaik se-Indonesia. Hal ini sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, yang meletakkan eco-theology sebagai salah satu program prioritas yang perlu mendapat perhatian.
Dalam Time Higher Education Sustainability Impact Rating 2026, UIN Sunan Kalijaga juga berada pada kelompok peringkat yang sangat mengesankan, 601–800 dunia. Capaian tersebut mencerminkan upaya universitas untuk mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam tata kelola, pendidikan, penelitian, pengelolaan lingkungan, dan budaya kampus.
Pencapaian-pencapaian ini berkorelasi dengan upaya kami untuk terus meningkatkan kinerja institusi sebagai implementasi semangat unggul di setiap level organisasi. Tata kelola yang efektif, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kinerja menjadi prioritas kami dalam mendorong pencapaian visi-misi dan rencana strategis universitas. Untuk pertama kalinya di akhir tahun lalu, UIN Sunan Kalijaga masuk kategori badan publik berkualifikasi informatif, di antara 385 badan publik yang dievaluasi oleh Komisi Informasi Pusat, berada di posisi 16 di antara seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Ini salah satu dari berbagai ikhtiar memperkuat tata kelola kampus, yang diupayakan bersama dengan peningkatan sarana-prasarana pembelajaran, penataan ruang-ruang terbuka hijau dan penciptaan atmosfer akademik yang nyaman bagi semua, sebagai perwujudan kampus inklusif.
Untuk meningkatkan sarana-prasarana pembelajaran secara berkelanjutan, yang sebagiannya merupakan respons atas terus meningkatnya minat calon mahasiswa belajar di UIN Sunan Kalijaga—termasuk mahasiswa-mahasiswa asing dari berbagai negara—kami juga berikhtiar memulai pembangunan kampus 2 di Pajangan, sebagai kampus masa depan UIN Sunan Kalijaga berkonsep forest campus. Jalan spine yang membelah area kampus, sebagai titik sentral pembangunan, mulai terbentang berkat kerja keras bersama. Jalan ini menjadi infrastruktur dasar bagi pembangunan gedung perkuliahan yang kita ikhtiarkan akan dimulai awal tahun depan.
UIN Sunan Kalijaga juga terus memperkuat tradisi prestasi mahasiswa dalam berbagai bidang kompetisi dan inovasi. Mahasiswa diposisikan sebagai subjek utama dalam pengembangan reputasi akademik dan non-akademik universitas. Dukungan terhadap prestasi diwujudkan melalui peningkatan fasilitas beasiswa, pembinaan berkelanjutan, serta treatment khusus bagi mahasiswa dan alumni berprestasi. Strategi ini bertujuan menciptakan iklim kompetitif yang sehat sekaligus menjamin keberlanjutan kontribusi alumni sebagai aset strategis institusi. Saat yang sama, kerjasama akademik dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional terus berkembang, untuk memperkuat posisi UIN Sunan Kalijaga di dalam peta akademik global.
Babak baru pengembangan bidang keilmuan juga terbuka pada 2026 melalui hadirnya Program Studi Kedokteran dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter. Kehadiran bidang kedokteran memperluas kontribusi UIN Sunan Kalijaga dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama melalui upaya promotif-preventif atas penyakit muskuloskeletal, khususnya pada lansia. Kelahiran kedua program studi ini akan dilengkapi dengan beberapa prodi lain dalam bidang kesehatan yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam menjawab tantangan bidang kesehatan di Indonesia masa kini.
Capaian-capaian tersebut tentu patut kita syukuri. Tetapi pada kesempatan Dies Natalis ke-75 ini saya ingin mengajak kita melihat ranking dengan perspektif yang lebih mendasar. Ranking bukan tujuan akhir sebuah universitas. Ranking adalah cermin. Ia memberi tahu kita bahwa kerja keras akademik kita mulai memperoleh pengakuan. Ia menunjukkan bahwa penelitian kita mulai dibaca dunia. Ia memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan Islam yang kita bangun di Yogyakarta dapat berdialog dan berkompetisi dalam lanskap akademik global.
Tetapi justru karena kita telah mencapai titik ini, pertanyaan kita harus menjadi lebih besar: Setelah mencapai academic excellence, apa berikutnya? Apa yang kita lakukan dengan keunggulan akademik tersebut? Seberapa jauh pengetahuan yang kita produksi mampu mengubah kehidupan masyarakat? Dan akhirnya, apakah keunggulan akademik UIN Sunan Kalijaga telah berubah menjadi global impact?
Inilah menurut saya makna terdalam tema Dies Natalis kita: “Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global.” Karena universitas yang besar bukan hanya universitas yang tinggi rankingnya. Universitas yang besar adalah universitas yang pengetahuannya dibutuhkan, gagasannya didengar, inovasinya digunakan, lulusannya dipercaya, dan keberadaannya membawa perubahan. Oleh karena itu, setelah 75 tahun membangun keunggulan akademik, kita memasuki fase baru: From Academic Excellence to Global Impact.
Pertanyaan inilah yang kemudian membawa saya pada sebuah pengalaman yang baru-baru ini saya peroleh ketika mengunjungi Tiongkok, negeri tirai bambu yang mempertemukan pendidikan dan teknologi.
Hadirin yang saya hormati,
Dua minggu lalu saya mendapat undangan untuk mengunjungi Wuxi University of Technology sekaligus memperkuat kerjasama yang sudah terjalin selama ini. Universitas ini memiliki 9 fakultas, yaitu fakultas teknologi mekanik, teknologi kontrol otomatik, rekayasa internet of things, rekayasa otomotif dan lalu lintas, manajemen, keuangan dan ekonomi, sirkuit terintegrasi, budaya dan pariwisata, serta desain dan seni, plus didukung puluhan pusat penelitian dan pengembangan. Saya juga berkesempatan mempresentasikan gagasan pada dua sesi berbeda pada The Second Belt and Road International Forum on Vocational Education di Yichang. Pengalaman tersebut membuat saya melihat persoalan pendidikan tinggi dari perspektif yang berbeda.
Kunjungan itu memberikan pengalaman yang sangat berharga. Saya melihat sesuatu yang mungkin selama ini hanya kita saksikan melalui layar televisi atau media sosial: bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan dirangkai menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi.
Di sana saya melihat robotika, otomasi, artificial intelligence, smart manufacturing, smart classroom, digital twin, Internet of Things, dan berbagai bentuk teknologi digital bukan sebagai sesuatu yang berada jauh di masa depan. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan hari ini.
Pertanian yang dahulu dikerjakan secara manual mulai menggunakan drone dan AI. Gudang dan logistik menggunakan robot otomatis. Mesin vision mampu melakukan penyortiran produk, juga membedakan mana yang halal dan tidak, dengan kecepatan dan ketelitian yang sulit dicapai secara manual. Pabrik mengintegrasikan manusia, mesin, data, dan kecerdasan buatan. Bahkan ruang kelas mulai berubah menjadi lingkungan pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi digital.
Kemajuan ini berbanding lurus dengan kecanggihan dan kemajuan infrastruktur, perumahan, pertanian, perdagangan, teknologi dan akhirnya ekonomi Tiongkok. Dalam hampir semua hal, mereka sudah berlari jauh di depan kita, bahkan mengungguli negara-negara raksasa teknologi di Eropa dan USA. Entah kapan kita, yang masih lebih banyak meributkan hal-hal trivial dan berdebat di medsos, bisa mengejarnya.
Saya teringat sebuah ungkapan yang sangat populer dalam tradisi intelektual Islam: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Tiongkok.” Saya memahami bahwa ungkapan ini secara kualitas hadis memang diperdebatkan oleh para ahli hadis. Namun, sebagai pesan moral, ia mengandung spirit yang sangat penting: jangan takut belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Bagi saya, perjalanan ke Tiongkok kali ini merupakan bentuk konkret dari semangat tersebut.
Namun saya juga menyadari bahwa ketika menyebut Tiongkok, kita datang bukan untuk mengaguminya secara membuta. Kita datang untuk belajar. Kita datang untuk bertanya: Apa yang dapat kita pelajari? Apa yang dapat kita adaptasi? Dan apa yang dapat kita kembangkan sesuai dengan kebutuhan Indonesia?
Apa yang menarik dari Tiongkok bukan hanya kecanggihan robotnya. Yang lebih penting adalah cara pengetahuan diterjemahkan menjadi kemampuan produktif. Inilah yang menurut saya perlu menjadi perhatian dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Selama ini kita sangat terbiasa berbicara tentang: knowledge production. Kita menghasilkan penelitian. Kita menghasilkan jurnal. Kita menghasilkan buku. Kita menghasilkan lulusan. Kita menghasilkan profesor. Semua itu penting. Tetapi di era baru ini, universitas tidak cukup berhenti pada produksi pengetahuan. Kita harus bergerak menuju: Knowledge → Innovation → Application → Impact.
Pengetahuan harus melahirkan inovasi. Inovasi harus menemukan aplikasinya. Dan aplikasi harus menghasilkan dampak. Inilah perubahan paradigma yang menurut saya harus menjadi agenda pendidikan tinggi Indonesia.
Hadirin yang saya hormati,
Bagaimana dengan universitas-universitas kita di Indonesia? Apakah universitas masa depan hanya universitas yang memiliki gedung pintar? Tentu tidak. Universitas pintar bukan pertama-tama tentang gedung. Universitas pintar adalah universitas yang manusianya cerdas berpikir, mampu berkomunikasi dengan baik dan menggunakan teknologi serta memiliki kepribadian dan prilaku terpuji—akhlak al-karimah. Karena itu, kita perlu membangun apa yang dapat saya sebut sebagai: Smart University with Human Touch. Teknologi tinggi harus berjalan bersama sentuhan kemanusiaan yang tinggi.
Di zaman serba canggih seperti sekarang, kita tidak bisa menolak kehadiran dan kehebatan AI. This is the Age of Artificial Intelligence. AI dapat membaca jutaan halaman dalam hitungan detik. AI dapat menganalisis data dalam skala yang tidak mungkin dilakukan manusia secara manual. AI dapat menghasilkan teks, gambar, musik, kode, bahkan membantu menemukan pola-pola baru dalam penelitian. Maka pertanyaan yang harus kita ajukan kepada pendidikan tinggi bukan lagi: “Apa yang dapat dilakukan AI?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang tetap harus dapat dilakukan manusia ketika AI semakin mampu melakukan banyak hal?”
Jawabannya membawa kita kembali kepada hakikat pendidikan. Manusia harus mampu berpikir logis. Manusia harus mampu berpikir kritis. Manusia harus mampu berpikir kreatif. Dan yang semakin penting, manusia harus mampu bertindak secara etis. Empat kemampuan ini—logical, critical, creative, and ethical thinking—menurut saya merupakan fondasi yang tidak boleh kita tinggalkan. Justru sebaliknya. Semakin canggih AI, semakin penting kemampuan tersebut. Sebab AI dapat memberikan jawaban, tetapi manusia harus menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan. AI dapat menemukan pola, tetapi manusia harus menilai makna dari pola tersebut. AI dapat menghasilkan banyak pilihan, tetapi manusia harus menentukan mana yang benar, adil, dan bermartabat. AI dapat mempercepat keputusan, tetapi manusia tetap harus mempertanggungjawabkan konsekuensi dari keputusan tersebut.
Dengan demikian, AI tidak mengurangi pentingnya pendidikan humanistik. AI justru membuat pendidikan humanistik menjadi semakin strategis. Dan di sinilah saya melihat relevansi yang sangat kuat dengan tradisi akademik UIN Sunan Kalijaga.
Selama puluhan tahun, UIN Sunan Kalijaga telah mengembangkan pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga dialog antara berbagai disiplin ilmu. Kita membangun tradisi Integrasi–Interkoneksi Keilmuan. Kita mempertemukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu sosial, humaniora, sains, teknologi, dan berbagai bidang pengetahuan lainnya. Tradisi ini pada dasarnya mengajarkan satu hal yang sangat fundamental: Pengetahuan tidak boleh hidup dalam ruang yang terisolasi. Ia harus berdialog. Ia harus saling menerangi. Dan pada akhirnya ia harus memberikan manfaat bagi kehidupan.
Karena itu, saya tidak melihat masa depan UIN sebagai pilihan antara humanities atau technology, antara agama atau science, antara liberal education atau vocational education. Pilihan kita seharusnya bukan either/or, melainkan both/and. Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi yang dibimbing oleh nilai. Kita membutuhkan kompetensi profesional, tetapi kompetensi yang dibangun di atas kemampuan berpikir kritis. Kita membutuhkan inovasi, tetapi inovasi yang mempertimbangkan keadilan dan keberlanjutan. Kita membutuhkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga siap memikirkan kembali dunia kerja dan masyarakat yang mereka masuki.
Dengan kata lain, kita tidak boleh hanya mendidik manusia agar mampu menggunakan teknologi. Kita harus mendidik manusia agar mampu menentukan untuk apa teknologi digunakan, bagi siapa teknologi bekerja, dan bagaimana teknologi harus diarahkan agar kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Di sinilah saya melihat perlunya kita memikirkan ulang arah pendidikan tinggi kita. Selama ini kita sering mempertentangkan liberal education dan professional education. Yang satu dianggap membentuk manusia yang berpikir luas. Yang lain dianggap mempersiapkan manusia untuk dunia kerja. Di era AI, dikotomi tersebut semakin tidak memadai. Kita membutuhkan apa yang dapat saya sebut sebagai intelligent professionalism: profesionalisme yang ditopang oleh pengetahuan yang luas, kemampuan berpikir yang mendalam, keterampilan teknologi, kreativitas, dan kesadaran etis.
Seorang dokter masa depan bukan hanya orang yang mampu menggunakan AI untuk mendiagnosis penyakit. Ia harus memahami manusia yang sedang sakit. Seorang guru masa depan bukan hanya orang yang mampu menggunakan AI untuk menghasilkan materi pembelajaran. Ia harus memahami bagaimana manusia belajar, tumbuh, dan membangun karakter. Seorang ekonom bukan hanya harus mampu membaca data. Ia harus memahami bagaimana keputusan ekonomi memengaruhi ketimpangan, kesejahteraan, dan keadilan sosial. Seorang ahli agama bukan hanya harus menguasai teks. Ia harus mampu membawa nilai-nilai agama untuk menjawab persoalan konkret masyarakat yang terus berubah. Dan seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu mengambil keputusan dengan cepat. Ia harus mampu mengambil keputusan yang benar secara rasional, bertanggung jawab secara etis, dan bermakna secara kemanusiaan. Inilah pendidikan tinggi yang menurut saya kita perlukan.
Hadirin yang saya hormati,
Karena itu, setelah pengalaman di Tiongkok tersebut, saya semakin yakin bahwa agenda UIN Sunan Kalijaga ke depan bukanlah meninggalkan tradisi akademik kita. Justru sebaliknya. Kita harus memperkuat fondasi tersebut dan membawanya ke tahap berikutnya. Perjalanan kita dapat dirumuskan dalam sebuah rantai sederhana: From Knowledge to Innovation. From Innovation to Application. From Application to Impact. Tetapi saya ingin menambahkan satu unsur penting: From Impact to Human Flourishing. Sebab dampak bukan sekadar perubahan yang dapat diukur. Dampak harus ditanyakan kembali: Untuk apa? Bagi siapa? Dengan nilai apa? Dan menuju masa depan manusia yang seperti apa? Inilah perbedaan antara sekadar technological progress dan human progress.
Teknologi dapat membuat sesuatu menjadi lebih cepat. Tetapi pendidikan harus bertanya apakah sesuatu itu juga menjadi lebih baik. Teknologi dapat membuat produksi menjadi lebih efisien. Tetapi pendidikan harus bertanya apakah hasilnya juga lebih adil. AI dapat membuat pengetahuan semakin mudah diakses. Tetapi pendidikan harus memastikan bahwa akses tersebut tidak memperbesar kesenjangan. Karena itu, ukuran keberhasilan universitas pada akhirnya bukan hanya berapa banyak publikasi yang kita hasilkan, berapa tinggi ranking kita, atau berapa banyak lulusan yang kita wisuda. Ukuran yang lebih mendasar adalah: Apa yang berubah karena keberadaan kita? Siapa yang memperoleh manfaat dari pengetahuan kita? Masalah apa yang berhasil kita bantu pecahkan? Dan masa depan seperti apa yang kita bantu bangun?
Oleh karena itu, saya membayangkan UIN Sunan Kalijaga lima, sepuluh, bahkan dua puluh lima tahun ke depan bukan hanya sebagai universitas yang dikenal karena keunggulan akademiknya. Saya membayangkan UIN sebagai knowledge hub yang mempertemukan agama, sains, teknologi, masyarakat, industri, kebijakan publik, dan dunia internasional. Universitas yang mampu mengembangkan AI sekaligus mengembangkan etika AI. Universitas yang mengembangkan teknologi sekaligus memikirkan keadilan sosial. Universitas yang mengembangkan ekonomi sekaligus memikirkan keberlanjutan lingkungan. Universitas yang menghasilkan riset sekaligus memastikan riset tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dan universitas yang menghasilkan lulusan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk menciptakan pengetahuan, membangun inovasi, memimpin perubahan, dan memperluas kemaslahatan.
Inilah relevansi Integrasi–Interkoneksi Keilmuan pada abad ke-21. Integrasi–Interkoneksi tidak boleh berhenti sebagai paradigma akademik. Ia harus menjadi paradigma transformatif. Ilmu harus terhubung dengan realitas. Riset harus terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Inovasi harus terhubung dengan nilai. Dan universitas harus terhubung dengan masa depan umat manusia.
Hadirin yang saya hormati,
Pada usia 75 tahun, UIN Sunan Kalijaga telah memiliki sesuatu yang sangat berharga: sejarah. Kita memiliki tradisi keilmuan. Kita memiliki sumber daya manusia. Kita memiliki jejaring nasional dan internasional. Dan dalam beberapa tahun terakhir, kita juga mulai memiliki pengakuan global. Tetapi sejarah memberi kita legitimasi. Tradisi memberi kita identitas. Keunggulan akademik memberi kita kredibilitas. Yang harus kita bangun berikutnya adalah dampak. Karena itu, saya ingin mengajak seluruh sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga untuk membayangkan sebuah tahap baru perjalanan universitas kita: From Academic Excellence to Global Impact.
Bukan berarti kita meninggalkan excellence. Sebaliknya, excellence menjadi fondasi bagi impact. Bukan berarti kita meninggalkan ilmu. Sebaliknya, ilmu harus menemukan jalan menuju kehidupan. Bukan berarti kita mengejar teknologi demi teknologi. Sebaliknya, teknologi harus ditempatkan dalam kerangka kemanusiaan, etika, dan kemaslahatan. Dan bukan berarti kita harus menjadi universitas yang sama dengan universitas lain di dunia. Justru sebaliknya. Kita harus menjadi UIN Sunan Kalijaga dengan kekuatan dan identitas kita sendiri, tetapi dengan kontribusi yang dirasakan jauh melampaui kampus ini.
Hadirin yang saya hormati,
75 tahun yang lalu, para pendahulu kita membangun sebuah institusi dengan sebuah keyakinan: bahwa pendidikan dapat mengubah manusia, dan manusia dapat mengubah masyarakat. Hari ini, keyakinan tersebut tetap relevan. Tetapi tantangan kita jauh lebih besar. Kita hidup dalam dunia yang berubah dengan kecepatan yang belum pernah kita alami. AI mengubah pekerjaan. Teknologi mengubah cara manusia belajar. Perubahan iklim mengubah masa depan planet. Demografi mengubah struktur masyarakat. Dan konektivitas global mengubah cara manusia berinteraksi satu sama lain. Dalam situasi seperti ini, universitas tidak boleh hanya bertanya: “Apa yang harus kita ajarkan?” Universitas harus bertanya: “Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk?” Dan lebih jauh lagi: “Dunia seperti apa yang ingin kita bantu ciptakan?”
Bagi saya, jawabannya tetap berakar pada tradisi UIN Sunan Kalijaga: manusia yang mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dan etis; manusia yang mampu menghubungkan ilmu dengan nilai; manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi; inovasi menjadi solusi; dan solusi menjadi kemaslahatan.
Karena itu, marilah kita jadikan usia 75 tahun bukan sebagai titik untuk berhenti dan berpuas diri. Jadikan ia sebagai starting point untuk lompatan berikutnya. Dari keunggulan akademik menuju dampak. Dari pengetahuan menuju inovasi. Dari inovasi menuju transformasi. Dan dari transformasi menuju masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, bermartabat, dan manusiawi. From Academic Excellence to Global Impact. Dan, sekali lagi, pada akhirnya: From Knowledge to Human Flourishing.
Semoga UIN Sunan Kalijaga terus menjadi pelopor paradigma Integrasi–Interkoneksi Keilmuan; bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi untuk ikut membentuk masa depannya. Bukan hanya menjadi universitas yang dikenal dunia, tetapi menjadi universitas yang dibutuhkan dunia. Bukan hanya menghasilkan lulusan yang mampu menghadapi masa depan, tetapi menghasilkan manusia yang mampu ikut menentukan masa depan umat manusia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yogyakarta, 28 September 2026
Prof. Noorhaidi Hasan