UIN SUKA

Senin, 12 Oktober 2026 10:59:00 WIB

0

UNIVERSITAS TERBAIK Dan Seni MENUMBUHKAN MANUSIA : Dr. Asep Jahidin Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Minggu 105

Dulu, ketika masih kuliah S1, kakak saya pernah memberi nasihat tentang empat macam universitas. Nasihat itu sederhana saja, tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, rasanya masih menarik untuk direnungkan.

Dia bilang ada empat macam universitas… Ada universitas yang bagus, tetapi mahasiswanya tidak bagus. Hasilnya belum tentu bagus. Ada universitas yang tidak bagus, tetapi mahasiswanya bagus. Hasilnya mungkin akan bagus. Ada universitas yang tidak bagus dan mahasiswanya juga tidak bagus. Hasilnya mungkin tidak akan bagus. Terakhir, universitasnya bagus dan mahasiswanya juga bagus. Hasilnya kemungkinan besar akan sangat bagus.

Saya tidak ingat lagi kapan persisnya kakak saya menyampaikan nasihat itu karena sudah lama sekali. Namun, saya masih ingat gagasan dasarnya, bahwa mutu sebuah universitas tidak hanya ditentukan oleh lembaganya, juga tidak hanya ditentukan oleh mahasiswa yang belajar di dalamnya. Tetapi keduanya saling berhubungan.

Hari-hari ini, nasihat itu kembali teringat ketika UIN Sunan Kalijaga memperoleh kabar membanggakan. Dalam Times Higher Education World University Rankings 2027, UIN Sunan Kalijaga menempati posisi kedua di Indonesia setelah almamater S2 saya, Universitas Indonesia yang menempati posisi pertama. Bahkan, pada pilar kualitas riset, justru UIN Sunan Kalijaga ini berada di posisi pertama nasional. Nilainya tidak main-main 82,8 jauh di atas Universitas Indonesia dengan nilai 44,7

Tentu, ini kabar baik. Ada kerja panjang dosen, peneliti, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan berbagai unsur kampus di balik capaian tersebut. Semua pihak patut bersyukur dan mengapresiasinya.

Tetapi, jika kembali kepada empat macam kategori universitas tadi, di manakah posisi UIN Sunan Kalijaga?

Saya kira, capaian tersebut menunjukkan bahwa secara kelembagaan UIN Sunan Kalijaga memiliki modal akademik yang kuat. Namun, untuk memastikan bahwa kampus ini sepenuhnya berada pada kategori keempat, kita masih perlu bertanya, bagaimana mutu mahasiswa kita? Bagaimana pengalaman belajar mereka? Bagaimana kualitas lulusan, daya kritis, dan kontribusinya kepada masyarakat?

Peringkat universitas tidak dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan itu. Peringkat merupakan salah satu ukuran kinerja, bukan gambaran lengkap tentang segala sesuatu yang berlangsung di dalam kampus.

Di sinilah saya teringat satu hal yang lebih mendasar. Para mahasiswa itu, mereka datang ke universitas dengan kemampuan, pengalaman, dan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang sejak awal berprestasi, ada yang biasa-biasa saja, ada yang membutuhkan waktu untuk menemukan kemampuannya. Ada pula mahasiswa difabel yang harus belajar sambil menghadapi hambatan akses, komunikasi, dan lingkungan yang belum sepenuhnya inklusif.

Lalu, apakah tugas universitas hanya menerima mahasiswa terbaik? Menurut saya, tidak.

Universitas yang hebat bukan hanya universitas yang berhasil menghimpun orang-orang hebat. Universitas yang hebat juga harus mampu membantu mahasiswa yang semula biasa-biasa saja menjadi luar biasa. kampus tidak hanya pandai menguji kemampuan para mahasiswa itu, tetapi juga pandai menyediakan lingkungan yang memungkinkan kemampuan para mahasiswa itu tumbuh.

Karena itu, kualitas universitas tidak cukup dilihat dari siapa yang masuk, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa berkembang selama belajar dan apa yang mereka lakukan setelah lulus.

Di ruang kuliah, mahasiswa seharusnya belajar berpikir kritis, bukan sekadar menghafal doang. Di laboratorium dan pusat penelitian, mereka belajar menghasilkan pengetahuan. Dalam kehidupan kampus, mereka belajar menghargai perbedaan.

Ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat, mereka belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk memperoleh pekerjaan atau gelar, tetapi juga untuk memperbaiki kehidupan.

Bagi saya, inklusi menjadi bagian penting dari ukuran tersebut. Kampus yang baik bukan kampus yang mengharuskan semua mahasiswa menempuh jalan yang sama, kampus yang hebat adalah kampus yang membuka beragam jalan agar setiap mahasiswa dapat mencapai potensinya.

Mahasiswa difabel tidak cukup hanya diterima, mereka harus memperoleh kesempatan belajar, berpartisipasi, dan berprestasi secara bermartabat.

Maka, empat kategori universitas tadi mengingatkan kita bahwa sejatinya keunggulan institusi dan kualitas mahasiswa perlu tumbuh bersama. Tetapi ada satu unsur yang tidak boleh dilupakan, yaitu tanggung jawab universitas untuk menumbuhkan manusia.

Barangkali, suatu hari mungkin saja UIN Sunan Kalijaga tidak lagi berada di posisi kedua nasional atau malah menjadi juara pertama atau mungkin bisa tidak juara. Apakah itu berarti kampus ini kehilangan seluruh makna keunggulannya? Tentu tidak. Peringkat penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.

Universitas terbaik bukan sekadar universitas yang memiliki gedung megah, dosen hebat, penelitian bereputasi, atau peringkat tinggi.

Universitas terbaik adalah universitas yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan, prestasi menjadi pengabdian, dan keberagaman menjadi kekuatan bersama.

Ukuran terdalam pendidikan adalah terletak pada seberapa banyak manusia yang berhasil ditumbuhkannya.

Karena itu, universitas terbaik bukan hanya tempat orang-orang hebat berkumpul, tetapi tempat di mana semakin banyak orang diberi kesempatan untuk menjadi hebat. Itulah sejatinya UIN Sunan Kalijaga… “empowering knowledge, shaping the future”

Pada sebuah perbincangan dan segelas kopi 2026