UIN SUKA

Selasa, 20 Oktober 2026 16:38:00 WIB

0

HARI SANTRI : ANTARA MERAWAT TRADISI DAN TUNTUTAN ZAMAN : Prof. Dr. Susiknan Azhari, Guru Besar Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar penanda dalam kalender nasional, melainkan momentum untuk mengenang perjuangan sekaligus merawat semangat kaum santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Penetapan Hari Santri didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini membangkitkan semangat kaum kiai dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan. Dari pesantren, semangat keagamaan bertemu dengan kesadaran kebangsaan, melahirkan keberanian untuk berjuang demi kemerdekaan dan masa depan Indonesia.

Spirit perjuangan tersebut tentu tidak cukup hanya dirawat melalui upacara, kirab, atau berbagai kegiatan seremonial setiap tahun. Hari Santri semestinya menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali peran dan tanggung jawab pesantren di tengah perubahan zaman. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus yang mencuat di lingkungan pesantren telah menjadi perhatian publik dan memengaruhi kepercayaan sebagian masyarakat. Bahkan, tahun ini muncul indikasi penurunan jumlah santri yang masuk ke sejumlah pesantren. Realitas ini perlu disikapi secara bijaksana dan terbuka. Kita tidak sepatutnya menggeneralisasi persoalan yang terjadi di sebagian lembaga sebagai gambaran keseluruhan dunia pesantren. Namun, berbagai persoalan tersebut juga tidak boleh diabaikan. Sebaliknya, hal itu harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memastikan pesantren tetap menjadi tempat yang dipercaya masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren oleh pemerintah menjadi momentum penting bagi penguatan kelembagaan pesantren di Indonesia. Kehadiran lembaga ini diharapkan dapat mendorong tata kelola pesantren yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel, sekaligus memperkuat pembinaan agar pesantren semakin maju dalam menjawab tuntutan zaman. Penguatan kelembagaan ini perlu diikuti dengan kebijakan dan program yang menjawab kebutuhan nyata pesantren, mulai dari peningkatan mutu pendidikan hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi para santri. Namun, kemajuan kelembagaan tidak boleh membuat pesantren kehilangan jati dirinya. Modernisasi harus berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi keilmuan, nilai-nilai keislaman, dan karakter khas pesantren yang diwariskan para pendiri. Tantangannya bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau melakukan pembaruan, melainkan menemukan cara agar keduanya dapat berjalan beriringan.

Bagaimanapun, kontribusi pesantren bagi pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Selama berabad-abad, pesantren telah menjadi ruang pembentukan karakter, pendalaman ilmu agama, penanaman nilai-nilai moral, dan penguatan tradisi keilmuan. Dari lembaga pendidikan ini lahir banyak tokoh yang turut mewarnai perjalanan bangsa dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, politik, dan kebudayaan. Pesantren bukan hanya mendidik santri untuk memahami ajaran agama, tetapi juga menanamkan kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Karena itu, upaya memperbaiki pesantren bukanlah bentuk pengingkaran terhadap jasa para pendahulu, melainkan ikhtiar untuk menjaga warisan mereka agar tetap hidup dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pemetaan, evaluasi, dan revitalisasi tradisi pesantren perlu dilakukan secara berkelanjutan. Setiap lembaga pendidikan memiliki pengalaman dan hasil yang beragam. Ada alumni yang berhasil mengembangkan potensinya dan dengan bangga menceritakan pengalaman positif selama menempuh pendidikan. Namun, ada pula alumni yang merasa kurang berhasil, bahkan merasa terpinggirkan karena pengalaman mereka tidak banyak didengar. Dalam berbagai pertemuan alumni, perhatian terkadang lebih tertuju kepada mereka yang dianggap sukses, sementara pengalaman mereka yang menghadapi kesulitan kurang memperoleh ruang. Padahal, kedua pengalaman tersebut sama-sama penting. Keberhasilan dapat menjadi inspirasi, sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki sistem pendidikan. Dengan mendengarkan suara para alumni secara lebih terbuka, pesantren dapat mengenali kelebihan yang perlu dipertahankan sekaligus kekurangan yang perlu dibenahi.

Evaluasi tersebut perlu dilanjutkan dengan keberanian untuk meninjau kembali kurikulum dan pola pendidikan pesantren. Perubahan sosial dan tantangan kehidupan kontemporer menuntut lembaga pendidikan untuk terus berbenah. Evaluasi dan redesain kurikulum bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti selama dilakukan secara cermat dengan tetap menjaga substansi nilai dan tradisi keilmuan yang diwariskan para pendiri. Tradisi yang baik tidak harus ditinggalkan, tetapi perlu ditempatkan secara proporsional agar dapat berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Pesantren juga perlu membangun lingkungan pendidikan yang nyaman, aman, damai, dan menghargai martabat setiap santri. Pendidikan yang baik tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi pelajaran, tetapi juga oleh keteladanan para pendidik, kualitas relasi antara kiai, ustaz, pengelola, dan santri, serta budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Hal lain yang tidak kalah penting ialah mengurangi dikotomi antara ilmu agama dan sains. Keduanya tidak semestinya dipertentangkan karena penguasaan ilmu agama dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi milenial dan generasi sesudahnya hidup dalam lingkungan yang terus berubah, dengan persoalan yang semakin kompleks. Mereka membutuhkan fondasi keagamaan yang kokoh sekaligus kemampuan berpikir kritis, terbuka, kreatif, dan adaptif. Pesantren memiliki peluang besar untuk menjembatani kebutuhan tersebut tanpa kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam. Penguatan sains dan teknologi tidak harus mengurangi kedalaman pemahaman agama. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi untuk membentuk generasi yang berakhlak, berpengetahuan luas, dan mampu memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

Di sinilah spirit Hari Santri menemukan relevansinya bagi generasi milenial dan generasi penerus. Perjuangan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk perlawanan fisik sebagaimana yang dilakukan para pendahulu. Pada masa sekarang, perjuangan dapat diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, menjaga integritas, mengembangkan inovasi, membela nilai-nilai kemanusiaan, dan mengabdikan pengetahuan bagi kemaslahatan bersama. Santri masa kini perlu memiliki keberanian untuk menghadapi perubahan tanpa kehilangan pegangan moral dan keagamaan. Pada saat yang sama, pesantren harus memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas, pemikiran kritis, dan kemampuan beradaptasi agar para santri mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.

Pada akhirnya, memperingati Hari Santri berarti melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman. Jika para pendahulu berjuang menghadapi penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga martabat bangsa melalui pendidikan, penguatan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat. Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ikhtiar tersebut, tetapi keberhasilannya memerlukan komitmen bersama pemerintah, pengelola pesantren, para pendidik, alumni, santri, dan masyarakat. Pesantren perlu terus menjaga warisan luhur sekaligus berani melakukan pembaruan yang diperlukan. Kemajuan harus berjalan bersama integritas, keterbukaan, dan komitmen untuk menjaga jati diri.

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober. 2026 Semoga generasi milenial dan generasi penerus mampu mewarisi, merawat, serta melanjutkan spirit perjuangan para pendahulu. Jadikan ilmu sebagai bekal, akhlak sebagai landasan, dan pengabdian sebagai orientasi perjuangan. Dengan demikian, pesantren akan terus hadir sebagai lembaga pendidikan yang berakar kuat pada tradisi, terbuka terhadap kemajuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masa depan Indonesia.

 

Wa Allahu A'lam bi as-Sawab.