WhatsApp Image 2026-01-29 at 12.39.00.jpeg

Kamis, 29 Januari 2026 15:25:00 WIB

0

Jenjang Magister dan Doktoral sebagai Kawah Candradimuka: Logika Diasah, Metodologi Dikuatkan, Integritas Ditegakkan

Kuliah magister dan doktor bukan ruang santai bagi mereka yang sekadar ingin menambah gelar. Ia adalah medan tempaan intelektual, tempat logika diasah, bergulat dengan teori, ditempa lewat budaya literasi akademik yang ketat, dan dibentuk menjadi saintis yang mampu melahirkan pengetahuan baru.

Spirit itu ditegaskan dalam Sosialisasi Pembelajaran (SOSPEM) Mahasiswa Baru Program S2 dan S3 Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (29/1/2026), di Aula Pascasarjana Lantai 1.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menekankan bahwa setiap scholar pada akhirnya harus menghasilkan teori. Pada jenjang magister, teori mulai kompleks, sementara pada level doktoral dituntut lebih rumit, memiliki novelty, serta memberi kontribusi nyata terhadap perdebatan akademik nasional maupun internasional.

“Karena itu mahasiswa harus memahami peta kesarjanaan di bidangnya. Siapa yang berbicara, apa yang diperdebatkan, dan riset terbaru yang berkembang. Membaca harus diperkuat. Jangan sampai kita merasa menemukan teori baru, padahal sudah dibahas peneliti puluhan tahun lalu,” tegasnya.


Menurut Rektor, menelusuri jejak riset para peneliti sebelumnya, bahkan yang telah berlangsung puluhan tahun, serta menemukan celah kajian yang belum tersentuh merupakan tantangan utama seorang scholar. Proses tersebut menuntut penguasaan substansi keilmuan, metodologi penelitian, serta disiplin membaca buku, artikel ilmiah, dan karya-karya teoretis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Ia juga mendorong agar tesis dan disertasi sejak awal dirancang berbasis publikasi ilmiah, sehingga temuan riset mahasiswa memiliki peluang kuat berkontribusi di jurnal nasional dan internasional bereputasi. Pendekatan ini, menurutnya, tidak hanya meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga membangun tradisi riset yang utuh dan berkelanjutan.

Namun, tantangan terbesar saat ini, lanjutnya, justru datang dari kemudahan teknologi.

“Kehadiran Artificial Intelligence/AI dan ketergantungan pada smartphone berpotensi melemahkan logika, kreativitas, dan daya kritis. Tesis bisa cepat selesai, tetapi jalan menjadi scholar sejati tidak ditempuh,” ujarnya.

Karena itu, mahasiswa diminta secara sadar mengasah nalar kritis serta membangun karakter integritas, kejujuran, disiplin, dan keandalan akademik.

“Jangan menjadi penonton perubahan. Jadilah pemenang yang menaklukkan tantangan, dan itu dapat dibangun selama kuliah S2 dan S3” kata Rektor.


Sementara itu, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, menegaskan bahwa inovasi merupakan kata kunci di semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan tinggi.

Di era disrupsi, banyak pekerjaan hilang, namun banyak pula profesi baru muncul, bahkan memungkinkan seseorang bekerja dari rumah dengan penghasilan besar, sesuatu yang dulu nyaris tak terbayangkan.

“Tanpa inovasi, kita akan tertinggal. Pendidikan, pengajaran, dan riset harus terus diperbarui dengan tata kelola yang profesional, seimbang, dan akuntabel,” ujarnya.

Ia juga mengajak mahasiswa memaknai studi pascasarjana sebagai permulaan baru yang menandai pembaruan niat, semangat, dan komitmen intelektual.

“Ini bukan sekadar melanjutkan studi, tetapi memasuki dunia keilmuan yang lebih serius, reflektif, dan bertanggung jawab,” katanya.

Refleksi diri, menurutnya, menjadi kunci di tengah laju perubahan zaman, baik terhadap capaian akademik, teori, bacaan, maupun relevansinya dengan disiplin ilmu yang ditekuni.

Ia juga menekankan tanggung jawab etik mahasiswa pascasarjana, bukan hanya kepada diri sendiri dan keluarga, tetapi juga kepada lembaga dan masyarakat luas, mengingat perguruan tinggi negeri dibiayai oleh negara.

Mahasiswa, kata Prof Ichwan, dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi mengontekstualisasikannya bahkan menciptakan pengetahuan baru melalui riset yang diwujudkan dalam artikel ilmiah, tesis, dan disertasi.

“Riset bukan kewajiban administratif. Ia adalah ruh seluruh aktivitas akademik perkuliahan, diskusi, publikasi, hingga pengabdian masyarakat,” tegasnya.

SOSPEM ini mengawali perjalanan mahasiswa magister dan doktoral dalam menapaki jalur kepakaran akademik yang bertumpu pada riset serius, ketajaman nalar, metodologi yang kokoh, serta penguasaan literatur ilmiah.(humassk)