WhatsApp Image 2026-01-28 at 15.48.01.jpeg

Rabu, 28 Januari 2026 16:01:00 WIB

0

Buka SOSPEM Magister dan Doktoral, Rektor Sebut Jenjang Pascasarjana Tahap Krusial Mencetak Saintis

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menegaskan transformasi pendidikan jenjang magister dan doktoral menuju ekosistem riset yang menempatkan mahasiswa sebagai produsen ilmu pengetahuan. Perubahan orientasi ini menjadi fondasi utama pembelajaran jenjang magister (S2) dan doktor (S3) pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Lebih dari 515 mahasiswa baru dari delapan fakultas dan Pascasarjana mengikuti pembukaan Sosialisasi Pembelajaran (SOSPEM) pada Rabu (28/1/2026) secara hybrid yang dirancang untuk membangun kemandirian intelektual, etos riset, serta kesiapan menghasilkan karya ilmiah berdampak.


Direktur Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga, Dr. Muqowim, menyebut antusiasme tersebut sebagai indikator meningkatnya kepercayaan publik terhadap mutu pendidikan di UIN Sunan Kalijaga.

Menurut Dr. Muqowim, mahasiswa S2 dan S3 menghadapi perubahan mendasar dalam kultur belajar. Mereka tidak lagi sekadar menyerap pengetahuan, tetapi dituntut aktif membangun argumen ilmiah berbasis data dan riset lapangan.


“Sosialisasi Pembelajaran ini diarahkan untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi kultur akademik baru yang menuntut kemandirian, integritas ilmiah, kemampuan memproduksi pengetahuan, dan selanjutnya dapat menjadi pembuat sejarah” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan yang dalam kesempatan tersebut hadir di Lt 2 Fakultas Sains dan Teknologi dan membuka kegiatan secara resmi, menekankan bahwa jenjang S2 dan S3 merupakan fase krusial dalam menempa mahasiswa menjadi produsen ilmu pengetahuan yang mampu membaca realitas keagamaan, sosial, politik, budaya, maupun sains secara sistematis, logis, dan empiris.


Pada tahap ini, peran dosen tidak lagi sebagai pusat pengajaran, melainkan sebagai mitra akademik yang membimbing mahasiswa dalam proses riset dan pengembangan metodologi ilmiah.

“Mahasiswa S2 dan S3 harus menjadi scholar dan saintis yang mampu menjelaskan realitas melalui riset yang kuat. Kelas hanya menjadi ruang diskusi metodologi, sementara produksi ilmu terjadi di laboratorium, perpustakaan, dan lapangan penelitian,” ujar Rektor.

Kemandirian akademik, kata Prof. Noorhaidi, menjadi penentu keberhasilan studi magister dan doktoral. Mahasiswa dituntut aktif membangun bukti empiris dan menghasilkan kebaruan ilmiah yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan global.

Transformasi ini juga menjadi bagian dari strategi UIN Sunan Kalijaga menuju universitas riset berkelas dunia. Mahasiswa didorong untuk melampaui kewajiban tesis dan disertasi dengan mempublikasikan hasil riset pada jurnal internasional bereputasi dan mampu berkolaborasi dengan dosen maupun mitra nasional dan inetrnasional dalam melahirkan karya ilmiah berdampak.

“Karya ilmiah mahasiswa harus berkontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus kemajuan peradaban Indonesia, bahkan dunia” kata Rektor.

Melalui pendekatan tersebut, UIN Sunan Kalijaga memposisikan pendidikan jenjang magister dan doktoral sebagai upaya sistematis untuk melahirkan ilmuwan dan peneliti yang mandiri, kritis, serta produktif dalam melahirkan riset berdaya saing, bukan sekadar kelanjutan administratif dari pendidikan sarjana.(humassk)