Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga berbenah. Pembaruan pemikiran menjadi kunci agar ormas tetap relevan, berdampak, dan mampu menjawab kebutuhan umat serta perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Mochamad Sodik, dalam kegiatan Minutes of Barakah bertajuk “Pembaharuan Pemikiran Ormas Keagamaan di Indonesia”, Kamis (19/2/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Ramadhan bil Jami’ah yang digelar Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga.
Prof. Sodik menuturkan, bahwa umat Islam dan ormas keagamaan saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Namun, situasi itu justru harus dijawab dengan optimisme dan semangat yang berlipat, salah satunya melalui pembaruan dan regenerasi,
Setiap organisasi memiliki aktor-aktor yang akan terus berganti. Karena itu, ada pilar-pilar yang harus diperkuat dalam kerangka pembaruan sekaligus membangun continuous improvement.
Pertama, penguatan spiritualitas. Bagi organisasi keagamaan, spiritualitas harus menjadi fondasi utama. Ia menekankan pentingnya sinergi antara hablun min Allah, hablun min al-nas, wa hablun min al-‘alam, relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Semakin dekat dengan Allah, semakin menghormati sesama manusia, dan semakin peduli pada lingkungan. Ketiganya harus berjalan simultan. Jika salah satunya melemah, maka melemah pula spiritualitas itu sendiri,” katanya.
Kedua, kepemimpinan. Tantangan kepemimpinan di lingkungan ormas dan komunitas muslim semakin berat. Karena itu, kepemimpinan harus dilatih sejak dini, dimulai dari hal-hal sederhana hingga menjadi kebiasaan yang menguat.
Proses kaderisasi dari senior kepada junior, menurut dia, harus berjalan berkelanjutan. Kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan melalui latihan dan pengalaman. Generasi muda didorong untuk berani mengambil amanah dan menunaikannya dengan tanggung jawab.
“Kita tidak sedang berlari cepat, tetapi sedang berjalan jauh. Energi harus dikelola secara terukur agar mampu mencapai tujuan besar secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ketiga, manajemen. Pengelolaan organisasi memerlukan keahlian, kapasitas, dan penguasaan ilmu. Manajemen waktu, pemahaman terhadap regulasi, serta kemampuan bekerja dalam sistem menjadi prasyarat penting dalam pembaruan organisasi.
Keempat, komunikasi. Pengetahuan dan ilmu merupakan amanah yang harus diamalkan, dan itu memerlukan kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak. Di era ketika banyak orang ingin didengar tetapi sedikit yang mau mendengarkan, kemampuan mendengar justru menjadi kunci.
“Mendengarkan berarti menyerap aspirasi masyarakat, merefleksikannya, lalu mengolahnya menjadi sistem pengetahuan dan sikap hidup. Tanpa kemampuan mendengarkan, pembaruan tidak akan relevan dengan realitas,” ujarnya.
Prof. Sodik juga menegaskan bahwa pembaruan ormas keagamaan harus memperhatikan prinsip kemaslahatan sekaligus menghindari mafsadah. Ia mengutip kaidah dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalbi al-masalih yang menegaskan bahwa menolak mafsadah didahulukan daripada meraih kemaslahatan..
Melalui penguatan spiritualitas, kepemimpinan, manajemen, dan komunikasi, ormas keagamaan diharapkan tidak hanya bertahan di tengah perubahan, tetapi juga tampil sebagai aktor yang relevan dan membawa dampak nyata bagi umat dan bangsa.(humassk)