WhatsApp Image 2026-02-20 at 15.52.26.jpeg

Jumat, 20 Februari 2026 15:58:00 WIB

0

Minutes of Barakah: Islam dan Kebudayaan, Memaknai “Nyadran” dalam Bingkai Nilai Ilahi

Di tengah perdebatan tentang praktik keagamaan dan budaya lokal, satu pertanyaan kerap mengemuka, apakah tradisi seperti nyadran bertentangan dengan ajaran Islam, atau justru menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai ilahi dengan kearifan lokal? Pertanyaan itu menjadi titik berangkat paparan Direktur Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, M. Yaseer Arafat, M.A., dalam forum Minutes of Barakah, Jumat (20/2/2026).

Dalam forum yang merupakan bagian dari rangkaian Ramadan bil Jami’ah tersebut, Yaseer mengangkat tema “Islam dan Kebudayaan: Merawat Tradisi, Menjaga Nilai Ilahi.” Ia memulai paparannya dengan merujuk sebuah hadis dalam Sahih Bukhari yang mengisahkan peristiwa di pemakaman. Dalam riwayat tersebut, Nabi tidak melarang orang-orang yang berkumpul di pemakaman. Sebaliknya, beliau menyampaikan petuah dan mengaitkannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga kegiatan itu memiliki makna dan tetap berjalan dengan arah dan nilai yang sesuai dengan ajaran Islam.

“Peristiwa berkumpul di makam, mendengarkan nasihat yang baik, serta mendoakan para pendahulu bukanlah hal yang asing dalam tradisi Islam,” ujarnya.

Dalam konteks Nusantara, khususnya di Jawa, katanya, tradisi serupa dikenal dengan istilah nyadran, yang biasanya dilakukan menjelang Ramadan, tepatnya pada bulan Ruwah atau Sya’ban. Masyarakat berkumpul di makam leluhur, membaca doa, serta memanjatkan harapan kebaikan bagi yang telah wafat.

Yaseer menyampaikan, bahwa dalam peristiwa yang diriwayatkan dalam hadis tersebut, Nabi tidak menegasikan tradisi berkumpul di makam, melainkan mengarahkannya. Nabi membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, memberi peringatan tentang kematian, serta menanamkan kesadaran spiritual agar manusia tidak terlepas dari cahaya wahyu.

Dalam pandangannya, ada tiga unsur yang dapat dipetik dari praktik itu, yakni berkumpul untuk mengingat kematian, mendoakan yang telah wafat, dan mendengarkan nasihat yang menguatkan iman. Tiga hal tersebut, lanjutnya, juga menjadi ciri kuat tradisi nyadran di Nusantara.

Masyarakat tidak seharusnya terjebak pada dikotomi kaku antara agama dan budaya. Islam, menurutnya, hadir tidak dalam ruang hampa, melainkan selalu berdialog dengan konteks sosial dan kebudayaan setempat..

Merawat tradisi seperti nyadran juga berarti merawat ingatan kolektif, memperkuat relasi sosial, dan menumbuhkan kesadaran akan keterhubungan antargenerasi. Dalam konteks Ramadan, momentum menjelang bulan suci itu menjadi ruang refleksi bersama, bukan sekadar ritual, melainkan penguatan nilai.

Di tengah arus purifikasi yang sering kali memandang tradisi lokal dengan kecurigaan, ia mengajak publik untuk lebih jernih membaca sejarah dan teks keagamaan. Hadis tentang Nabi di pemakaman, menurutnya, memberi teladan bahwa ruang-ruang budaya dapat diisi dengan cahaya Al-Qur’an.

Dengan demikian, merawat tradisi bukan berarti mengabaikan ajaran, melainkan menjaga agar nilai ilahi tetap hidup dalam denyut kebudayaan.(humassk)