Di tengah derasnya produksi pengetahuan global, mahasiswa pascasarjana tidak lagi cukup hanya memahami teori-teori yang telah ada. Mereka dituntut mampu membaca perkembangan riset mutakhir, mengkritisi bangunan pengetahuan yang mapan, sekaligus menghadirkan temuan baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks itulah kemampuan penelitian menjadi kebutuhan yang nyaris tak terelakkan bagi seorang scholar di era akademik saat ini.
Kesadaran tersebut mendorong Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Workshop Analisis Bibliometrik sebagai bagian dari penguatan metodologi penelitian bagi mahasiswa program magister dan doktor. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (7/9/2026) – Sabtu (9/5/2026), itu digelar secara hybrid di Ruang Layanan Penelitian, Penulisan Akademik, dan Publikasi Mahasiswa Pascasarjana FITK Kampus Sambilegi.
Workshop diikuti mahasiswa dari berbagai program studi pascasarjana dengan fokus utama memperkuat kemampuan membaca peta penelitian global secara lebih sistematis dan berbasis data. Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi ilmiah serta kompetisi akademik internasional, pendekatan bibliometrik dinilai semakin penting untuk membantu peneliti menemukan novelty, tren riset, hingga research gap secara lebih terukur.
Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, membuka kegiatan tersebut secara langsung, menegaskan kemampuan metodologis menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa pascasarjana di tengah tuntutan publikasi ilmiah yang semakin kompetitif.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki topik penelitian yang menarik, tetapi juga harus mampu menunjukkan posisi penelitian, novelty, dan kontribusi ilmiahnya melalui pendekatan metodologis yang kuat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Layanan Penelitian, Penulisan Akademik, dan Publikasi Mahasiswa Pascasarjana FITK, Jamil Suprihatiningrum, Ph.D., menjelaskan bahwa workshop ini dirancang secara aplikatif agar peserta dapat langsung mempraktikkan berbagai teknik analisis bibliometrik dalam konteks penelitian masing-masing.
“Kegiatan ini memang dirancang berbasis praktik. Kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep bibliometrik secara teoritis, tetapi juga mampu menggunakannya untuk memperkuat proposal, tesis, disertasi, maupun artikel ilmiah,” jelasnya.
Workshop kali ini menghadirkan Abroto, M.Pd. sebagai narasumber dengan moderator Imam Khoriyadi, M.Pd. Materi yang diberikan mencakup pengenalan bibliometrik dan scientometric, strategi penelusuran database ilmiah, teknik visualisasi jaringan penelitian menggunakan VOSviewer, hingga analisis tren penelitian dan identifikasi research gap berbasis data.
Pada sesi praktik, peserta melakukan secara langsung proses data retrieval, pembersihan data bibliografis, visualisasi jaringan penelitian, hingga penyusunan peta tematik riset. Suasana workshop berlangsung interaktif karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif mengolah dan membaca data penelitian mereka sendiri.
Salah satu mahasiswa program doktor Pendidikan Agama Islam mengaku pendekatan tersebut membantunya memahami posisi riset yang sedang ia kerjakan di tengah perkembangan kajian global. Selama ini, menurutnya, menentukan research gap sering kali dilakukan secara subjektif dan belum sepenuhnya berbasis pemetaan data yang sistematis.
Pandangan serupa juga disampaikan peserta dari jenjang magister. “Biasanya kami hanya membaca tentang bibliometrik di artikel, tetapi di workshop ini langsung praktik menggunakan VOSviewer dan melihat sendiri bagaimana jaringan penelitian terbentuk. Ini sangat membuka wawasan,” katanya.
Antusiasme peserta tampak dari aktifnya diskusi sepanjang kegiatan berlangsung. Beragam pertanyaan muncul, mulai dari strategi penelusuran literatur ilmiah, teknik membaca tren penelitian global, hingga cara menemukan peluang kebaruan penelitian yang lebih kuat.
Melalui workshop ini, FITK UIN Sunan Kalijaga menunjukkan upayanya memperkuat budaya akademik berbasis riset dan publikasi ilmiah. Tidak hanya mendorong mahasiswa menghasilkan karya akademik, tetapi juga menyiapkan generasi scholar yang mampu membaca arah perkembangan ilmu pengetahuan secara kritis, adaptif, dan kompetitif di level nasional maupun internasional.(humassk)