Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan menerima audiensi Tim Pembudaya Kadipaten Pakualaman Yogyakarta dalam rangka Dialog Budaya yang berlangsung di Gedung Saifuddin Zuhri Lantai 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (12/5/2026). Pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi kebudayaan untuk memperkuat sinergi pelestarian budaya Jawa dan nilai-nilai Islam di tengah dinamika zaman.
Audiensi tersebut dihadiri Kepala Biro AUK UIN Sunan Kalijaga, Dr. H. Ali Sodiq, serta para pengelola Pusat Studi Manuskrip, di antaranya Prof. Dr. Wildan, Prof. Dr. Maharsi, Dr. Adib Sofia, M. Yaser Arafat, dan M. Bagus Febriyanto. Sementara itu, Tim Pembudaya Kadipaten Pakualaman dipimpin oleh KPH Kusumoparastho bersama sepuluh anggota lainnya.
Dalam sambutannya, Kepala Biro AUK, Dr. Ali Sodiq menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada para sesepuh Kepanitran Pakualaman. Ia menegaskan bahwa dialog budaya ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membuka ruang kolaborasi antara UIN Sunan Kalijaga dengan Kadipaten Pakualaman dalam pengembangan kebudayaan.
“Ini merupakan pertemuan pertama dalam rangka dialog budaya dan audiensi langsung dengan Bapak Rektor. Kami merasa terhormat dapat menerima kehadiran para sesepuh dan tim pembudaya Kadipaten Pakualaman di kampus UIN Sunan Kalijaga,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas Islam tertua di Indonesia memiliki komitmen untuk terus maju tanpa meninggalkan akar budaya dan tradisi Jawa yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Yogyakarta.
“Filosofi UIN Sunan Kalijaga adalah melangkah maju dengan tetap berpijak kuat pada tradisi dan budaya yang menaungi keberadaan kami. Karena kami berada di Yogyakarta, maka budaya Jawa menjadi bagian penting dalam perkembangan kampus ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Noorhaidi juga memaparkan perkembangan dan capaian UIN Sunan Kalijaga di tingkat nasional maupun internasional. Ia menyebutkan bahwa UIN Sunan Kalijaga konsisten meraih berbagai peningkatan pemeringkatan dunia pada sejumlah bidang keilmuan.
“Kami ingin menjadi kampus yang kokoh berakar di bumi Jawa namun mampu melejit dalam skala pendidikan tinggi global,” tegasnya.
Dialog budaya berlangsung hangat ketika Tim Pembudaya Kadipaten Pakualaman menyampaikan pentingnya menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta sebagaimana amanat Undang-Undang Keistimewaan DIY Nomor 13 Tahun 2012. Dalam pemaparannya, KPH Kusumoparastho menjelaskan bahwa filosofi Jawa seperti memayu hayuning bawana, manunggaling kawula gusti, dan sangkan paraning dumadi memiliki relevansi kuat dengan nilai-nilai Islam dan ajaran Al-Qur’an.
Ia berharap UIN Sunan Kalijaga dapat menjadi mitra strategis dalam mengkaji, merumuskan, dan mengembangkan konsep kebudayaan Jawa-Islam melalui dialog akademik dan penelitian berbasis manuskrip serta khazanah intelektual Jawa.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Noorhaidi Hasan menyampaikan bahwa sejarah Islam di Jawa memang tumbuh melalui proses sintesis antara tradisi lokal dan nilai-nilai Islam. Menurutnya, harmoni budaya dan agama merupakan kekuatan utama masyarakat Jawa yang harus terus dirawat.
“Islam di Jawa tumbuh melalui proses sintesis budaya. Harmoni itu penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Karena itu UIN Sunan Kalijaga berkomitmen menjaga moderasi beragama, kelestarian budaya, serta membangun pemikiran Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” jelasnya.
Ia juga membuka peluang kolaborasi antara UIN Sunan Kalijaga dan Kadipaten Pakualaman dalam bentuk kajian akademik, penulisan buku, penelitian manuskrip, hingga pengembangan konsep budaya Yogyakarta yang relevan dengan tantangan zaman modern.
Sedangkan kerja sama yang bisa difollow up dari pertemuan ini :
1. Narasumber kajian bulanan “Dialog Budaya”
2. Analisis naskah yg telah didigitalkan
3. FGD Keistimewaan
4. Pendataan masjid pakualaman
Pertemuan ditutup dengan semangat bersama untuk menjaga warisan budaya Yogyakarta sebagai bagian penting dari identitas bangsa sekaligus sumber nilai dalam membangun peradaban yang harmonis, inklusif, dan berkelanjutan.(humassk)